Headline

3 Dampak Buruk  Jika Anak  Sudah Kecanduan Gadget

JAKARTA, Kanal Berita  – Dewasa ini penggunaan alat komunikasi handphone (hp) pintar (smartphone) semakin meluas. Dengan menggunakan sistem android dan sejenisnya, HP bukan hanya sekedar sebagai alat komunikasi percapan semata namun juga mampu mengakses berbagai informasi berbasis internet (web). Selain akses informasi para pengguna smartphone juga dapat menggunakan akses hiburan yang terhimpun dalam media social (medsos).

Penggunakan situs web media sosial adalah salah satu kegiatan yang paling umum yang dilakukan orang saat ini. Sayangnya penggunaan media sosial (medsos) selain dilakukan para orangtua atau orang dewasa juga sudah merambah kalangan remaja bahkan anak-anak.

Setiap situs web yang memungkinkan interaksi sosial dianggap sebagai situs media sosial, termasuk situs jejaring sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter hingga Tiktok serta aplikasi pertemanan lainnya. Selain itu juga situs-situs game ditawarkan kepada anak-anak sehingga jika dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan kecanduan.

Untuk alasan ini, penting bagi orang tua menjadi sadar akan sisi buruk situs media sosial, mengingat bahwa tidak semua dari mereka adalah lingkungan yang sehat bagi anak-anak. Saatnya orangtua membantu anggota keluarga untuk memahami situs tersebut dan mendorong penggunaan yang sehat. Orangtua harus memantau potensi negatif dari penggunaan medsos secara berlebihan.

Seperti dilaporkan Gwenn Schurgin O’Keeffe dan Kathleen Clarke-Pearson dari hasil penelitiannya yang dipublikasikan pediatrics.aappublications belum lama ini menyebutkan bahwa ada beberapa dampak buruk jika anak kecanduan medsos. Menggunakan media sosial menjadi sangat berisiko bagi anak jika tidak disadari para orangtua. Dampak itu sebagai berikut:

  1. Cyberbullying dan Pelecehan online

Cyberbullying sengaja menggunakan media digital untuk berkomunikasi palsu, memalukan, atau bermusuhan informasi tentang orang lain. Ini adalah risiko online yang paling umum untuk semua anak dan remaja. Meskipun “pelecehan secara online” sering digunakan bergantian dengan istilah “cyberbullying,” sebenarnya merupakan entitas yang berbeda. Data saat ini menunjukkan bahwa pelecehan online tidak seperti pelecehan offline (dunia nyata).

Bullying di media sosial sangat cepat menyebarnya tanpa bisa digendalikan siapa saja yang menerima kiriman yang bersifat pelecehan tersebut. Beberapa kasus tindakan bullying bahkan menyebabkan korbannya melakukan tindakan nekad dengan mengakhiri hidupnya.

  1. Sexting

Sexting dapat didefinisikan sebagai “pengiriman, penerimaan, atau meneruskan pesan seksual eksplisit, foto, atau gambar melalui ponsel, komputer, atau perangkat digital lainnya.” Banyak dari gambar-gambar ini menjadi didistribusikan dengan cepat melalui telepon seluler atau internet. Fenomena ini tidak terjadi di antara populasi anak dan remaja. Survei terbaru mengungkapkan bahwa 20% remaja telah mengirim atau diposting foto atau video porno oleh orang yang tak dikenal atau iklan terselubung.

 

Jika gadget telah melakukan registrasi (mengunduk) layanan aplikasi yang menyediakan konten dewasa maka secara otomatis dan berkali pihak penyelanggara akan mengirimkan gambar (foto) atau video bahkan artikel dewasa tanpa kita minta. Untuk itu orangtua harus memastikan gadget anak bersih dari aplikasi atau bahkan games yang diperuntukan bagi pengguna dewasa.

  1. Depresi Sosial Media

Para peneliti telah mengusulkan sebuah fenomena baru yang disebut “depresi sosial media,” yang didefinisikan sebagai depresi yang terjadi ketika praremaja dan remaja menghabiskan banyak waktu di situs media sosial, seperti Facebook, instagram, tiktok dan lainnya dan kemudian mulai menunjukkan gejala klasik depresi.

 

Intensitas dunia online dianggap menjadi faktor yang dapat memicu depresi pada beberapa anak danremaja. Seperti depresi offline, anak dan remaja yang menderita depresi Facebook beresiko untuk isolasi sosial dan kadang-kadang beralih ke situs berisiko untuk “membantu” mengatasi dirinya sendiri.Namun kunjungan ke situs beresiko tersebut membuka peluang dapatkan promosi penyalahgunaan zat berbahaya (narkoba), atau perilaku agresif yang merusak diri sendiri.

 

Banyak situs media sosial menampilkan beberapa iklan seperti iklan banner, iklan perilaku (iklan yang menargetkan orang-orang atas dasar perilaku browsing Web mereka). Risiko utama anak dan remaja yang terlalu aktif di medsos adalah adanya risiko penyalahgunaan teknologi, kurangnya privasi dan berbagi informasi palsu lainnya. Selain itu aktivitas berlebihan di internet sembarangan juga bisa membuat anak-anak lebih mudah bagi pemasar dan penipu untuk menargetkan sasarannya.

 

Hal ini sangat penting bagi orang tua untuk menyadari iklan perilaku, karena mereka yang umum di situs media sosial dan beroperasi dengan mengumpulkan informasi tentang orang menggunakan situs dan kemudian menargetkan profil orang itu untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Pengaruh iklan yang kuat dimulai segera setelah anak-anak mulai kenal dengan dunia online. Untuk itu beberapa perkumpulan dokter anak dan ahli psikologi di Kanada bahkan sampai merekomendasikan kepada orangtua sampai anak berusia diatas 10 tahun jangan dulu terpapar dengan telepon pintar [smartphone atau gadget.[ ]

Iman Djojonegoro

Recent Posts

Google Vids Kini Hadir dengan Avatar AI dan Versi Gratis!

KANALBERITA.COM - Dunia produksi video terus berevolusi, dan Google tak mau ketinggalan. Dengan peluncuran fitur-fitur baru…

1 hari ago

Khutbah Jumat: Spirit Islam Dalam Unjuk Rasa

Unjuk rasa (demonstrasi) merupakan salah satu bentuk ekspresi kolektif yang dilakukan untuk menyuarakan aspirasi, protes,…

1 hari ago

PT Jababeka dan KKN UPB Desa Simpangan Gelar Seminar Hemat Energi

BEKASI, KANALBERITA.COM - PT Jababeka Infrastruktur bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita…

2 hari ago

Sekjen PBB Kecam Serangan Israel ke Rumah Sakit yang Tewaskan Tenaga Medis & Jurnalis

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres dengan tegas mengecam serangan Israel pada Senin (25/8)…

2 hari ago

Mahasiswa KKN UPB Sosialisasikan Literasi Keuangan dan Bahaya Bank Emok di Desa Simpangan

BEKASI, KANALBERITA.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita Bangsa (UPB) 2025 menggelar sosialisasi…

2 hari ago

Mahasiswa KKN UPB Desa Simpangan Lakukan Integrasi UMKM dengan Media Linktree

BEKASI, KANALBERITA.COM — Dalam rangka meningkatkan kemampuan pemasaran digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)…

2 hari ago

This website uses cookies.