Dampak tsunami
Pernahkah Anda mendengar tentang tsunami? Mungkin Anda pernah melihatnya di berita atau film, gambaran gelombang air raksasa yang datang dari laut dan menyapu daratan. Namun, sebenarnya apa sih tsunami itu? Dan bagaimana ia bisa terbentuk?
Bayangkan sebuah batu kerikil kecil yang Anda jatuhkan ke dalam kolam. Apa yang terjadi? Permukaan air akan beriak, membentuk gelombang-gelombang kecil yang menyebar ke segala arah. Nah, tsunami itu kurang lebih seperti itu, tetapi dengan “kerikil” yang jauh, jauh lebih besar, dan airnya adalah lautan!
Tsunami paling sering disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di bawah laut. Bukan sembarang gempa, ya. Gempa yang bisa memicu tsunami adalah gempa dengan kekuatan sangat besar, di mana dasar laut tiba-tiba bergerak naik atau turun secara drastis. Fenomena ini dikenal sebagai pergeseran vertikal kerak Bumi di dasar laut (National Oceanic and Atmospheric Administration – NOAA, 2023).
Bayangkan lempengan-lempengan raksasa di bawah laut, seperti kepingan puzzle Bumi, yang saling bertabrakan atau bergesekan. Ketika tekanan menumpuk dan tiba-tiba dilepaskan, terjadilah gempa. Jika gerakan lempengan ini menyebabkan sebagian dasar laut terangkat atau ambles secara tiba-tiba, sejumlah besar air di atasnya akan ikut terdorong atau tertarik. Proses ini menghasilkan gangguan pada kolom air yang disebut sebagai pembangkitan tsunami (U.S. Geological Survey – USGS, 2012).
Ketika sejumlah besar air laut terdorong atau tertarik secara tiba-tiba, ia akan mencoba menyeimbangkan diri. Ini menciptakan gelombang energi yang sangat besar. Awalnya, di tengah laut yang dalam, gelombang tsunami tidak terlalu tinggi, mungkin hanya beberapa puluh sentimeter hingga beberapa meter. Namun, jangan salah, gelombang ini bergerak dengan sangat cepat, bisa mencapai kecepatan pesawat jet, sekitar 700 hingga 900 kilometer per jam di laut dalam (NOAA, 2023). Kecepatannya dipengaruhi oleh kedalaman air, sehingga semakin dalam air, semakin cepat gelombang bergerak.
Nah, di sinilah bagian yang paling penting. Ketika gelombang tsunami bergerak dari laut dalam menuju pantai yang dangkal, ada perubahan drastis. Dasar laut mulai menanjak, dan gelombang air tidak lagi punya ruang yang dalam untuk bergerak.
Ini seperti Anda mendorong banyak air ke dalam corong yang menyempit. Airnya akan mulai menumpuk dan melonjak ke atas. Sama halnya dengan tsunami, ketika ia “merasakan” dasar laut yang semakin dangkal, kecepatan gelombangnya akan melambat, tapi ketinggiannya justru akan meningkat drastis. Yang tadinya hanya beberapa meter di tengah laut, bisa berubah menjadi dinding air setinggi puluhan meter saat mencapai pantai. Fenomena ini disebut sebagai shoaling (University of Southern California, Tsunami Research Center, n.d.). Kekuatan destruktif inilah yang membuat tsunami sangat berbahaya bagi wilayah pesisir.
Tidak semua gempa bawah laut akan menyebabkan tsunami besar. Namun, ada beberapa tanda yang bisa kita kenali jika tsunami akan datang, terutama jika Anda tinggal di daerah pesisir:
Tsunami adalah serangkaian gelombang laut raksasa yang paling sering disebabkan oleh pergerakan dasar laut akibat gempa bumi besar. Gelombang ini bergerak cepat di laut dalam dan menjadi sangat tinggi serta merusak saat mencapai pantai. Mengenali tanda-tandanya dan segera mencari tempat tinggi adalah kunci untuk selamat dari bencana ini.
JAKARTA, Kanal Berita - Gelombang demonstrasi masif yang berlangsung pada Kamis dan Jumat (28-29/8/2025) di…
KANALBERITA.COM - Dunia produksi video terus berevolusi, dan Google tak mau ketinggalan. Dengan peluncuran fitur-fitur baru…
Unjuk rasa (demonstrasi) merupakan salah satu bentuk ekspresi kolektif yang dilakukan untuk menyuarakan aspirasi, protes,…
BEKASI, KANALBERITA.COM - PT Jababeka Infrastruktur bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita…
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres dengan tegas mengecam serangan Israel pada Senin (25/8)…
BEKASI, KANALBERITA.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita Bangsa (UPB) 2025 menggelar sosialisasi…
This website uses cookies.