Ilustrasi khutbah Jumat
*penulis adalah pegiat da’wah dan anggota Komisi Dakwah MUI Pusat serta pengasuh pesantren di Banten
اْلحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَعَانَ بِفَضْلِهِ اْلأَقْدَامَ السَّالِكَةَ، وَأَنْقَذَ بِرَحْمَتِهِ النُّفُوْسَ اْلهَالِكَةَ، وَيَسَّرَ مَنْ شَاءَ لِلْيُسْرَى فَرَغِبَ فِيْ اْلآخِرَةِ
أَحْمَدُهُ عَلَى اْلأُمُوْرِ اللَّذِيْذَةِ وَالشَّائِكَةِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ فَكُلُّ النُّفُوْسِ لَهُ ذَلِيْلَةُ عَانِيَةٌ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اْلقَائِمُ بِأَمْرِ رَبِّهِ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً
صَلَّى اللهُ وسلم عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا قَرَعَتِ اْلأَقْدَامُ السَّالِكَةُ،
أما بعد،
فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Alhamdulillah, pada hari ini, kita masih bisa terus merasakan nikmat yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita semua. Di antaranya adalah nikmat iman, kesehatan,. dan kemerdekaan serta logistik yang cukup, sehingga kita bisa dengan tenang melangkahkan kaki menuju masjid, tempat dimana kita lebih khusyu’ dan nyaman untuk beribadah.
Khususnya ibadah Jum’atan seperti saat ini, yaitu untuk menjalankan tugas utama kita hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Karena Hal ini akan sulit untuk dilakukan jika kita berada dalam kondisi peperangan alias tidak merdeka serta masih berada dalam kungkungan penjajah.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah Untuk Baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam, karena atas risalahnya sampai hari ini kita insya Allah istiqamah dalam mengamalkan risalah dan uswah hasanahnya sehingga memantaskan kita diberi syafaatnya. Aamiin.
Pada kesempatan ini khatib juga berwasiat khusus kepada pribadi dan kita sekalian untuk terus meningkatkan syukur serta memantapkan taqwa kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya
معاشر المسلمين رحمكم الله
Semua nikmat ini tidak boleh sedikitpun kita kufuri. Jika kita kufur nikmat, maka kita termasuk golongan orang-orang yang tak tahu bersyukur dan akan mendapatkan siksa yang pedih atas keangkuhan ini. Sungguh, tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang pantas sombong dan membanggakan diri sehingga menyebabkan lupa bersyukur dan mendustakan nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kita telah diingatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui firman-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an surat Ar-rahman, dengan kalimat yang diulang-ulang sebanyak 31 kali. Sebuah kalimat introspektif dan mengingatkan manusia untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur yakni:
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Artinya: “Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?” (QS Arrahman: 13)
Untuk meningkatkan rasa syukur ini, ketakwaan harus kita perkuat sehingga menjadi rambu-rambu dalam mengarungi kehidupan. Dengan ketakwaan, berupa menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, kita senantiasa mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk perjalanan kehidupan yang lebih terarah, lebih fokus. Kita perkuat dan pertahankan ketakwaan serta keislaman kita sekaligus menguatkan komitmen untuk kembali kepada-Nya dalam kondisi takwa dan Islam.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS Al Imran: 102).
Allah memanggil orang-orang yang beriman sejatinya agar mereka memperbaiki keimanan mereka. Betul, kebanyakan kita lahir dalam keadaan beragama Islam dan lahir dalam beragama Islam itu adalah sebuah nikmat yang besar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun mempertahankan Islam sampai mati itu butuh perjuangan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“…dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
معاشر المسلمين رحمكم الله
Hari-hari ini, kita mulai melihat di jalanan ramai dengan bendera merah putih. Bahkan setiap rumah sudah mulai memasang bendera tersebut dan umbul-umbul dengan model yang beragam. Yang dalam pandangannya itu salah satu cara untuk mengisi hari kemerdekaan Indonesia.
80 tahun yang lalu bangsa ini merdeka. Kita semua tahu, sejarah kemerdekaan Indonesia diwarnai dengan dengan hiruk pikuk perjuangan, tetesan darah dan pekikan takbir.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kemerdekaan yang Allah berikan kepada kita. Bangsa kita sampai detik ini aman dan sentosa dari huru-hara, konflik, pertikaian, dan peperangan, sehingga kita dapat mengabdikan dan menyembah Allah tanpa gangguan dan ancaman.
Dalam cara bersyukur kita dengan merawat situasi dan kondisi ini, insya Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur dan kenikmatan ini akan terus ditambah oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya :
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat–Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim ayat 7)
Dan begitu juga do’a Nabi Ibrahim as seperti diabadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Ibrahim ayat 35 yang banyak dinukil dan dibacakan pada setiap malam 17 Agustus (yang sering disebut malam renungan suci) untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia ini,
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا
“…Ya Rabb, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman.”
Akan tetapi sungguh sangat disayangkan hampir kebanyakan nukilan tersebut berhenti sampai di kalimat itu saja, padahal pada ayat tersebut ada lanjutan kalimat yang sangat urgen sekali, yaitu do’a :
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“…dan jauhkanlah hamba beserta anak cucuku hamba agar tidak terpengaruh keberhalaan.”
Artinya, jika kita memang menginginkan makna hakiki kemerdekaan sebagaimana dimaksud dalam do’a Nabi Ibrahim as tersebut, maka membebaskan diri rakyat negeri ini dari pengaruh keberhalaan adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari makna kemerdekaan.
Namun realitanya saat ini praktik keberhalaan masih ada, bahkan kesyirikan tersebut sudah berani muncul terang-terangan, diliput dan dipublikasikan melalui media massa dan sosial media, yang menandakan negeri ini masih belum baik-baik saja. Dalam makna lain, belum dapat merealisasikan hakikat dari kemerdekaan itu sendiri.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Lalu apa hakikat dari makna kemerdekaan?
Jauh sebelum negara ini mengenal kata merdeka 80 tahun silam, Islam yang datang 14 abad lebih awal sudah mengumandangkan seruan kebebasan, kemerdekaan, serta keadilan. Kita bisa lihat kembali tinta sejarah Islam, bagaimana agama ini menentang perbudakan, penindasan, dan keberhalaan.
Ayat-ayat keadilan sosial Allah turunkan pada fase awal, mengisyaratkan bahwa Islam menolak praktik perbudakan dan penghambaan kepada sesama makhluk. Islam datang untuk melepas itu semua.
Silih berganti tahun, hakikat dari makna kemerdekaan itu sendiri telah mengalami degradasi dan pergeseran nilain yang signifikan. Bahkan mereka mengartikan kemerdekaan sesuai dengan keinginan dan kepentingan belaka.
Ada yang mengartikan bahwa kemerdekaan itu adalah kebebasan beragama, sehingga terkesan melegitimasikan adanya Tuhan lain selain Allah. Mereka berasumsi bahwa umat manusia berasal dari satu leluhur yaitu keturunan Nabi Ada as.
Ada juga yang berpikiran bahwa kebebasan berpendapat dan berpikir sehingga memasukkan pemikiran-pemikiran yang sangat menyimpang dari ajaran Islam, bahkan sampai menoleransi ajaran yang tidak sesuai norma-norma Islam dengan menggunakan jargon hurriyyah (kebebasan) atau HAM. Yang pada akhirnya pemikiran seperti ini menjadi cikal bakal liberal, sekuler, feminisme dan pemikiran menyimpang lainnya.
Apakah seperti itu hakikat dari makna merdeka menurut ajaran Islam?
Islam sudah menjelaskan kemerdekaan yang dimaksud, bukan seperti mereka yang mengartikan kemerdekaan seenak sendiri. Karena merdeka bukan berarti berbuat semaunya tanpa ada pengikat, kemerdekaan itu terikat dengan rambu-rambu yang berlaku di dalamnya.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Pada hakikatnya agama Islam adalah agama yang memberikan kemerdekaan kepada pemeluknya agar menjadi hamba yang benar-benar merdeka, karena agama ini datang untuk membebaskan manusia dari segala macam bentuk ikatan, dan terlalu berketergantungan kepada bangsa lain terlebih menjadi budaknya manusia.
Dalam potret kehidupan nyata, jika seseorang bekerja di sebuah perusahaan, ijazahnya, kartunidentitasnya danlain-lian ditahan oleh perusahan, lantas ketika masuk jam shalat, bos perusahaan tidak mengizinkannya untuk shalat, apakah ini bisa disebut sebagai sesuatu yang sudah merdeka? Tentu saja tidak. karena dia masih terkekang oleh aturan yang berlaku di perusahaan itu.
Ingin membangun gedung, rumah, atau jembatan diharuskan memberikan tumbal. Jika itu tidak dilakukan, diyakini akan ada jin dan hantu. Apakah ini makna kemerdekaan? Tentu bukan seperti ini.
Punya anak, karena takut kenapa-kenapa, datang ke dukun untuk dibuatkan penangkal ghaib dengan bantuan jin agar anak sehat dan kuat. Apakah ini makna kemerdekaan? Tentu bukan seperti ini.
Islam menginginkan agar tidak ada penghambaan seorang hamba kepada makhluk. Yang ada hanyalah penghambaan kepada Pencipta dan Penguasa Seluruh Hamba, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala
معاشر المسلمين رحمكم الله
Dikisahkan, ketika perang Qadisiyah, Sa’ad bin Abi Waqqash memerintahkan Rabi’ bin Amir untuk menghadap Rustum; panglima perang Persia. Rustum bertanya kepada Rabi’ tentang tujuan kedatangan pasukan Islam ke wilayahnya.
Dengan lantang Rabi’ menjawab :
“Kami datang ke sini untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Tuhan yang Maha Esa, juga mengeluarkan manusia dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, serta mengeluarkan mereka dari kesewenang-wenangan kepada keadilan Islam.”
Jawaban Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Rustum itu tercatat rapi dalam tinta emas sejarah,
Dalam syarah kitab Al-Aqidah Al-Washatiyyah.
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah
juga menjelaskan pengertian dari kemerdekaan itu ialah :
“Penghambaan kepada Allah ‘Azza wa Jàlla adalah kemerdekaan yang hakiki. Orang yang tidak menyembah kepada Allah semata, maka dia selain belum merdeka, dia juga adalah budak bagi selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Karena itu Merdeka ialah menyerahkan segala bentuk perjuangan dan ibadah hanya kepada Allah semata, bebas dari ketergantungan dan keterikatan dengan makhluk dan bangsa-bangsa lain.
Inilah hakikat kemerdekaan yang diajarkan oleh Islam.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Maka, dengan dirgahayu bangsa ini yang ke-80, mari kita bersama-sama menjadikan negeri yang kita cintai ini sebagai negeri yang
بلدة طيبة ورب غفور
(baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur/negeri yang yang indah, subur makmur, gemah ripah, repeh rapih, loh jinawi, dalam lindungan dan ampunan Allah Robb pencipta dan pemelihara persada raya).
Mari kita selaraskan arah tujuan bangsa ini dengan do’a nabi Ibrahim as tentang makna kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitumenjadikan negeri ini sebagai negeri yang aman dan makmur, terbebas dari berbagai macam bentuk penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan tunggal hanya kepada Allah semata.
Semoga khutbah ini bermanfaat untuk kita sekalian serta menjadi lantaran dicurahkannya keberkahan untuk kita.
Semoga kita semua dan anak cucu serta keturunan kita dijauhkan dari penghambaan kepada selain Allah, karena hakikat merdeka kita hidup di dunia ini adalah dalam rangka mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz-Dzariyat ayat 56.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُم تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْم، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْم لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه، وَصَفِيُّه وَخَلِيْلُهُ، بَلَّغَ الرِسَالَة، وَأَدَّى الأَمَانَة، وَنَصَحَ الأُمَّة، وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِه حَتَّى أَتَاهُ اليقين. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أما بعد :
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيّن وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنَا وَأَبْنَاءَنَا وَذُرِّيَّتَنَا أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هذهِ البَلْدَةَ بَلْدَةً طَيِّبَةً وَرَبًّا غَفُورًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ …
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.
KANALBERITA.COM - Dunia produksi video terus berevolusi, dan Google tak mau ketinggalan. Dengan peluncuran fitur-fitur baru…
Unjuk rasa (demonstrasi) merupakan salah satu bentuk ekspresi kolektif yang dilakukan untuk menyuarakan aspirasi, protes,…
BEKASI, KANALBERITA.COM - PT Jababeka Infrastruktur bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita…
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres dengan tegas mengecam serangan Israel pada Senin (25/8)…
BEKASI, KANALBERITA.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita Bangsa (UPB) 2025 menggelar sosialisasi…
BEKASI, KANALBERITA.COM — Dalam rangka meningkatkan kemampuan pemasaran digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)…
This website uses cookies.