Headline

Mengedepankan Ihsan: Urgensi Nilai Spiritual dalam Kehidupan Bermasyarakat

Oleh: Prof. Dr. Miftah Faridl*

*Penulis adalah Ketua Umum MUI Kota Bandung

Foto: istimewa

BANDUNG, Kanal Berita – Perdebatan seputar penggunaan istilah “Ihsan” untuk penamaan fasilitas publik memunculkan kembali diskusi mendalam tentang makna dan dimensi spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Istilah “Ihsan” kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat beberapa hari belakangan ini. Kehangatan diskusi ini bukan disebabkan oleh kebaruan terminologi tersebut, melainkan karena penggunaannya dalam penamaan sebuah fasilitas publik yang kemudian diganti dengan bahasa lokal karena alasan tertentu.

 

Pergantian nama tersebut memicu perdebatan di berbagai kalangan masyarakat. Situasi semakin memanas ketika istilah “Ihsan” dikaitkan dengan dimensi keagamaan yang dianut mayoritas penduduk di lokasi fasilitas tersebut berada. Hal ini mendorong banyak orang untuk menggali lebih dalam tentang asal-usul kata tersebut dan hubungannya dengan aspek keimanan seseorang.

 

Landasan Teologis Ihsan dalam Al-Qur’an

 

Berdasarkan penelusuran dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan kata “ihsan” sebanyak sebelas kali untuk merujuk pada perbuatan yang baik dan mulia. Dari jumlah tersebut, dua ayat menggunakan bentuk “alif-lam” atau “al-ihsan”, yaitu dalam surah al-Rahman ayat 60 dan surah al-Nahl ayat 90.

 

Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kedua ayat tersebut mengandung makna kebaikan atau kebajikan. Pada surah al-Rahman ayat 60, Allah menjelaskan: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” Sementara dalam surah al-Nahl ayat 90 disebutkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

 

Sembilan ayat lainnya juga menerjemahkan “ihsan” sebagai bentuk kebaikan dan perbuatan yang mulia. Bahkan dalam surah al-Baqarah ayat 83, “ihsan” digunakan sebagai pengganti frasa berbuat baik kepada orang tua, sebagaimana firman Allah: “Janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah, dan berbuat baiklah (ihsan) kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”

 

Ihsan sebagai Dimensi Akhlak Universal

 

Dalam ayat tersebut, Allah menempatkan “ihsan” sejajar dengan larangan berbuat syirik, perintah berbuat baik kepada orang tua dan kerabat, kepedulian terhadap fakir miskin dan anak yatim, tutur kata yang baik kepada sesama, serta pelaksanaan shalat dan zakat. Secara sederhana, konsep “ihsan” dapat dipahami sebagai konsep yang identik dengan akhlak, baik akhlak kepada Sang Pencipta maupun akhlak kepada sesama manusia.

 

Meski kata “ihsan” menimbulkan kontroversi ketika digunakan untuk melabeli karya manusia, maknanya tetap luhur sebagai derajat penyempurna amal seorang muslim. Definisi ihsan yang paling populer berasal dari dialog antara Malaikat Jibril dengan Rasulullah SAW tentang iman, Islam, dan ihsan.

 

Ketika Jibril bertanya tentang ihsan setelah menanyakan iman dan Islam, Nabi Muhammad SAW menjelaskan: “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Dia, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

 

Ikhlas sebagai Fondasi Utama

 

Definisi tersebut kemudian menjadi rujukan utama dalam memahami konsep ihsan, baik dalam kehidupan praktis maupun sebagai sumber referensi. Secara implisit, makna tersebut menekankan pentingnya ikhlas sebagai faktor utama dalam beramal, seperti tercermin dalam kalimat “seakan-akan engkau melihat Dia, dan apabila engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

 

Dengan demikian, faktor “ihsan” harus senantiasa hadir dalam setiap motif dan perilaku manusia. Ihsan sejatinya menjadi napas dan inspirasi dari keseluruhan amal manusia, menyatu dengan berbagai jenis pekerjaan dan profesi apapun. Karena itu, ihsan juga berfungsi sebagai pengendali motif-motif insani yang mendasari seluruh tindakan dan aktivitas yang dilakukan setiap saat.

 

Urgensi Ihsan dalam Kehidupan Modern

 

Dalam konteks kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat kontemporer, spirit ihsan perlu dihidupkan kembali. Hal ini penting agar tidak ada lagi kebijakan, program, dan tindakan yang hanya berorientasi pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Semua aktivitas hendaknya merupakan implementasi pengabdian kepada Allah untuk mewujudkan kebaikan.

 

Menjadi pemeluk agama saja tidaklah cukup. Beragama, khususnya Islam, harus diikuti dengan sikap ihsan. Allah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya: “(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri (ber-Islam) kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan (ber-ihsan), maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. 2: 112).

 

Implementasi Ihsan dalam Berbagai Profesi

 

Dalam kerangka pemahaman ini, berbagai aktivitas kemanusiaan, termasuk upaya mencari nafkah seperti petani yang berladang, pedagang yang berdagang, karyawan yang bekerja di kantor, guru yang mengajar di sekolah, atau pemerintah yang melayani rakyat, dapat dinilai sebagai bentuk ibadah. Ibadah menjadi sangat luas maknanya dan beragam bentuknya.

 

Ihsan merambah segala ikhtiar yang mencakup seluruh dimensi kehidupan, baik ritual maupun sosial. Dalam shalat, ihsan akan meluruskan motivasi dan kekhusukan. Dalam zakat, ihsan menjadi identitas pengabdian terhadap sesama untuk tulus menolong kaum lemah, menjalin ukhuwah, sekaligus membangun solidaritas.

 

Demikian pula dalam menjalankan roda kekuasaan, ihsan sejatinya tetap hadir sebagai kekuatan moral yang dapat menggerakkan seluruh potensi spiritual manusia untuk berbuat hanya karena Allah, bukan karena alasan popularitas atau pragmatisme lainnya.

 

Ihsan sebagai Kontrol Moral

 

Dimensi sosial selalu menyertai ihsan karena pada gilirannya melibatkan proses hubungan antarmanusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Dalam hubungan seperti itu, ihsan akan terlibat bersama iman dan Islam yang telah menjadi keyakinan para pelakunya.

 

Di sinilah ihsan menjadi potret sempurnanya akhlak – kebajikan yang telah mentradisi dalam setiap perilaku, memberikan nuansa moral dalam setiap amal, dan menjadi alat kontrol dalam setiap pengambilan keputusan.

 

Tidak ada ruang sedikitpun dalam beramal untuk memanjakan apapun selain Allah. Dalam proses kekuasaan, rakyat hanyalah jembatan yang menghubungkan penguasa dengan Tuhannya. Kekuasaan yang sifatnya sementara juga tidak lebih dari fasilitas pengabdian kepada-Nya, bukan untuk mendapatkan penghargaan atau pujian dari rakyat, dan bukan pula untuk kepentingan pencitraan di hadapan masyarakat.

 

Ihsan akan membimbing untuk memperoleh kesempurnaan citra di hadapan Allah. Karena itu, berbuatlah dengan tulus, hindari motif-motif pragmatisme yang hanya akan mengorbankan kepentingan orang banyak. Berihsanlah dalam segala bentuk perbuatan, termasuk dalam menjalankan roda kekuasaan. [ ]

Iman Djojonegoro

Recent Posts

Google Vids Kini Hadir dengan Avatar AI dan Versi Gratis!

KANALBERITA.COM - Dunia produksi video terus berevolusi, dan Google tak mau ketinggalan. Dengan peluncuran fitur-fitur baru…

1 hari ago

Khutbah Jumat: Spirit Islam Dalam Unjuk Rasa

Unjuk rasa (demonstrasi) merupakan salah satu bentuk ekspresi kolektif yang dilakukan untuk menyuarakan aspirasi, protes,…

1 hari ago

PT Jababeka dan KKN UPB Desa Simpangan Gelar Seminar Hemat Energi

BEKASI, KANALBERITA.COM - PT Jababeka Infrastruktur bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita…

2 hari ago

Sekjen PBB Kecam Serangan Israel ke Rumah Sakit yang Tewaskan Tenaga Medis & Jurnalis

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres dengan tegas mengecam serangan Israel pada Senin (25/8)…

2 hari ago

Mahasiswa KKN UPB Sosialisasikan Literasi Keuangan dan Bahaya Bank Emok di Desa Simpangan

BEKASI, KANALBERITA.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita Bangsa (UPB) 2025 menggelar sosialisasi…

2 hari ago

Mahasiswa KKN UPB Desa Simpangan Lakukan Integrasi UMKM dengan Media Linktree

BEKASI, KANALBERITA.COM — Dalam rangka meningkatkan kemampuan pemasaran digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)…

2 hari ago

This website uses cookies.