Headline

Purnama Fikrah yang Kini Tenggelam di Ufuk Sunyi: Sebuah Obituari Mengenang “Guru Tua” Yang Baru Saja Pergi

Oleh: Beta Pujangga Mukti*

*penulis tinggal di Pulau Pinang Malaysia

PULAU PINANG, Kanal Berita – Di suatu pagi yang tenang di akhir bulan Juni bertepatan di penghujung tahun Hijriah, langit Malaysia kehilangan sebutir bintang yang lama bersinar dalam cakrawala pemikiran dan dakwah Islam. Prof. Dato’ Dr. Muhammad Nur Manuty, pemikir rahmah, murabbi umat dan bangsa, serta pejuang kalam yang lembut namun tajam, telah kembali ke pangkuan Ilahi pada Kamis, 26 Juni 2025.

 

Dikenang sebagai seorang akademisi, beliau telah menjelajah sunyi dalam rimba pemikiran Islam, menjahit benang-benang hikmah di antara teks wahyu dan denyut zaman. Kemampuan dalam integrasi dan interkoneksi ilmu, menyatukan pelbagai khazanah menjadi makna dan hikmah yang utuh, menjadikan Dato’ Dr. Nur Manuty sebagai seorang yang prolifik. Gagasan dan ide-ide nya tertuang dalam tulisan yang tajam dan mencerahkan.

 

Beliau menjadi saksi dan aktor utama dalam dekade 70an dan 80an yang disifatkan sebagai dekade kebangkitan Islam di Malaysia. Dikenal pula sebagai aktivis da’i yang ulung, memiliki suara lembut namun menggerakkan umat. Pernah mengemban amanah sebagai Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) ke empat (1991–1997), Dato’ Dr. Nur Manuty menyemai dakwah yang tak memukul, melainkan lebih dengan pendekatan merangkul, membuka pelukan ilmu kepada semua yang mencari makna. Baginya, Islam bukan hanya soal hukum, tapi juga kasih. Bukan hanya batas, tapi juga jendela. Pemikirannya adalah taman  rimbun dengan adab, teduh dengan wacana, dan bening dengan kerendahan hati.

 

Pelayaran panjang seorang musafir ilmu dimulai dari Batu Kurau yang dilahirkan secara bersahaja pada 12 Desember 1949. Jalan hidupnya ditakdirkan melintasi sempadan kampung dan kota, dari Kolej Islam Klang menuju Temple University di Amerika, di mana beliau berguru dengan Isma’il Raji al-Faruqi, seorang guru yang tak sekadar membentuk ilmu, tapi juga membakar jiwa. Dato’ Dr. Nur Manuty meraih PhD bukan sekadar untuk gelar, tetapi untuk mengangkat pemikiran Islam dari sekadar dogma kepada daya hidup umat, dari jumud menuju tajdid.

 

Dato’ Dr. Nur Manuty adalah guru yang tak pernah lelah menyalakan pelita. Di ruang-ruang kuliah Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), beliau bukan sekadar mengajar namun beliau menyentuh jiwa. Ribuan pelajar tak sekadar mengingat kuliahnya, tapi membawa pulang semangatnya. Salah satu quotes yang sering dinasihatkan kepada para pelajar saat sesi kuliahnya, “Bahwa berfikir adalah ibadah, dan bertanya adalah bagian dari tauhid”.

 

Pengalaman saya bertemu dengan Dato’ Dr. Nur Manuty terjadi dalam dua momen. Momen pertama kali saat program Seminar Masyarakat Madani 2024 di Petaling Jaya yang mengusung tema Ke Arah Pembinaan Peradaban Insani. Penganjur atau penyelenggara program ini adalah Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) dan Dato’ Dr. Nur Manuty sebagai ketua atau pengerusinya. Di antara sepuluh presenter terpilih untuk membentangkan kertas kerjanya, saya mendapatkan giliran sesi ke-7 dan Dato’ Nur Manuty masih duduk dengan khusyuk mendengarkan setiap pembentangan. Hari itu saya berbagi pandangan, bagaimana mengusahakan pembinaan wawasan “Hormat” berdasarkan objektifikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.

 

Setelah acara seminar berakhir, saya sempat bertemu dengan Dato’ Nur Manuty untuk berjabat tangan penuh ta’dzim. Saya sampaikan sedang melanjutkan program PhD di Universiti Sains Malaysia (USM) dan tajuk kajian berkenaan pemikiran salah satu sahabat karib beliau yang sudah lebih dulu pergi keharibaan, Dato’ Dr. Siddiq Fadzil. Dato’ Nur Manuty senang mendengarnya dengan mengucapkan tahniah disertai do’a semoga perjalanan kajian PhD saya diberikan kemudahan.

 

Beliau pun sempat menitipkan pesan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan bahasa, suku, dan agama yang majemuk. Tetapi kita perlu sepakat bahwa, bagaikan untaian benang dalam satu kain batik, perbedaan justeru menjadikan kita kuat. Tanpa warna dan pola yang beragam, tidak akan ada keindahan yang utuh.

 

Momen kedua saya bertemu dengan Dato’ Dr. Nur Manuty dan pertemuan ini menjadi pertemuan terakhir saya dengan beliau adalah saat mengikuti program Persijilan Pendidikan Al-Hikmah 2024 menerusi pemikiran Siddiq Fadzil di Kolej Darul Hikmah (KDH) Selangor. Pada momen itu, saya menyimak dengan seksama Dato’ Dr. Nur Manuty memberikan sambutan penutupan program.

 

Beliau tekankan soal pelbagai krisis dalam semua aspek kehidupan, termasuk krisis kemanusiaan yang wujud saat ini adalah karena hilangnya sesuatu yang amat bernilai, yaitu hikmah. Hikmah adalah anugerah dari Allah SWT berupa pengetahuan, pemahaman dan tindakan yang benar dalam kehidupan. Justeru pembangunan insan yang ada saat ini kurang atau tidak adanya hikmah sehingga menghalang kepada terbentuknya insan berhikmah yang sepatutnya berkembang potensi dan ciri keinsanannya secara menyeluruh (syumûl).

 

Setelah sesi penutupan berakhir, saya sempat berswa foto dengan beliau dan berbual-bual di atas pentas. Lalu kami turun bersama, tangan beliau memegang pundak saya lalu saya bantu beliau menuruni beberapa anak tangga pentas. Kemudian beliau ucapkan terima kasih. Tanpa saya tahu, momen indah itu menjadi yang terakhir melihat wajah teduh dan sikap beliau yang bersahaja. Sampai hari ini, momen itu masih melekat dalam hati dan ingatan.

 

Setelah gerakan ABIM-WADAH-PKPIM kehilangan “guru-guru tua” seperti almarhum Dato’ Dr.  Siddiq Fadzil dan almarhum Dr. Ustaz Razali Nawawi beberapa ketika dahulu, dan untuk selanjutnya Dato’ Dr. Ustaz Muhammad Nur Manuty lah yang memikul tanggungjawab sebagai “guru tua” bagi jemaah gerakan dakwah ini. Terutama sahabat karib beliau dengan Dato’ Dr. Siddiq Fadzil terjalin sangat mantap. Keduanya saling lengkap melengkapi. Dato’ Dr. Siddiq Fadzil apabila berbicara, lebih banyak bernuansa Nusantara, sedangkan apabila mendengar kuliah Dato’ Dr. Nur Manuty lebih bersifat global. Namun, beliau baru saja “melepaskan” tanggungjawab sebagai “guru tua” itu dan pergi menemui Allah SWT mengikuti jejak sahabat-sahabat beliau yang lain.

 

Dalam memoarnya Jejak-Jejak Pencerahan Umat yang diterbitkan akhir 2021, buku ini bukan hanya sebuah catatan hidup, tetapi gema hati seorang pejuang yang menulis dengan air mata sejarah dan tinta harapan. Tentu, kepergian beliau menjadi duka mendalam bagi dunia Islam lebih-lebih bagi siapapun yang pernah mengenal baik kehidupannya. Meskipun Dato’ Dr. Nur Manuty telah tiada, legasi pemikiran dan jejak-jejak pencerahan yang beliau torehkan akan terus hidup dan akan terus ada bahkan berlipat ganda. Menjadi garis dinamis bagi umat mencipta sejarah dan peradaban. [ ]

Iman Djojonegoro

Recent Posts

Google Vids Kini Hadir dengan Avatar AI dan Versi Gratis!

KANALBERITA.COM - Dunia produksi video terus berevolusi, dan Google tak mau ketinggalan. Dengan peluncuran fitur-fitur baru…

23 jam ago

Khutbah Jumat: Spirit Islam Dalam Unjuk Rasa

Unjuk rasa (demonstrasi) merupakan salah satu bentuk ekspresi kolektif yang dilakukan untuk menyuarakan aspirasi, protes,…

1 hari ago

PT Jababeka dan KKN UPB Desa Simpangan Gelar Seminar Hemat Energi

BEKASI, KANALBERITA.COM - PT Jababeka Infrastruktur bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita…

2 hari ago

Sekjen PBB Kecam Serangan Israel ke Rumah Sakit yang Tewaskan Tenaga Medis & Jurnalis

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres dengan tegas mengecam serangan Israel pada Senin (25/8)…

2 hari ago

Mahasiswa KKN UPB Sosialisasikan Literasi Keuangan dan Bahaya Bank Emok di Desa Simpangan

BEKASI, KANALBERITA.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita Bangsa (UPB) 2025 menggelar sosialisasi…

2 hari ago

Mahasiswa KKN UPB Desa Simpangan Lakukan Integrasi UMKM dengan Media Linktree

BEKASI, KANALBERITA.COM — Dalam rangka meningkatkan kemampuan pemasaran digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)…

2 hari ago

This website uses cookies.