HeadlineKhutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Mitos Bulan Shafar  dan Amalan Sunnah Sebagai Penangkalnya

612
×

Khutbah Jumat: Mitos Bulan Shafar  dan Amalan Sunnah Sebagai Penangkalnya

Sebarkan artikel ini
Khutbah Jumat
Seorang khatib sedang menyampaikan khutbahnya ( foto: dok.istimewa)

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA*


*penulis adalah pegiat da’wah dan anggota Komisi Dakwah MUI Pusat serta pengasuh pesantren di Banten

Khutbah Pertama:

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

الْحَمْدُ ِللّٰهِ اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا ,وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً.

أَمَّا بَعْدُ : فيا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ. ويقولُ: يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Puji dan syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai bentuk terimakasih kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita semua, khususnya nikmat iman dan jasmani yang sehat, sehingga kita bisa terus istiqamah menunaikan ketaatan  dan kewajiban. Semoga ibadah yang kita lakukan ini diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan kita digolongkan sebagai hamba-hamba-Nya yang taat, serta dikumpulkan dalam surga-Nya yang penuh nikmat.

 

Shalawat dan salam kita haturkan kepada panutan dan idola kita bersama, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, yang telah menuntun dan mengajarkan kita kebenaran agar tidak terjerumus pada kesalahan, dan kebaikan sehingga tidak terjerumus pada keburukan dan keyerpurukan. Semoga Sinugerah  diberikan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan semua umatnya. Serta semoga kita menjadi bagian ummatnya yang kelak mendapat syafaat dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Aamiin.

 

Selanjutnya, selaku khatib Jum’at saat ini, dari  atas mimbar yang mulia ini,  mengajak diri sendiri, dan semua jamaah  untuk bersama kita  terus berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Alah subhanahu wa ta’ala dengan hakikat takwa yang sesungguhnya, yakni dengan menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi semua larangan-Nya.

 

Kenapa meningkatkan ketakwaan sangat penting bagi kita semua, karena bekal yang akan kita bawa menuju akhirat bukanlah harta yang berlimpah, bukanlah wajah yang cantik dan  tampan rupawan, bukan pula jabatan, namun ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala;  sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

 

Artinya, “Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”  (QS Al-Baqarah [2]: 197).

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Saat ini kita sudah berada pada bulan Shafar lagi, yakni shafar tahun 1447 H, bulan kedua dalam kalender hijriah.

Sebagai umat Islam, sebaiknya kita mengetahui latar belakang penamaan bulan Shafar, yang sering dikaitkan dengan sejumlah mitos.

Nama bulan Shafar diambil dari kata shafar dalam bahasa Arab, yang berarti kosong. Juga memiliki arti “sepi” atau “sunyi” sesuai keadaan masyarakat Arab pada zaman dahulu yang selalu sepi pada bulan Shafar. Sepi dalam arti senyapnya rumah-rumah mereka karena orang-orang terutama para pria  keluar meninggalkan rumah untuk perang dan bepergian.

 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran Ayat 15:

 

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

 

Artinya: “Katakanlah, inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imran: 15).

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Dalam sejarah Islam, pada bulan shafar ada kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang kerap mengosongkan rumahnya untuk pergi berperang pada bulan Shafar.

 

Dalam Kitab Tafsirnya, juz 4 halaman 146,  Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) menjelaskan :

 

صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ

 

Artinya: “Shafar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.”

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Bulan Shafar sering kali dikaitkan dengan berbagai mitos, keyakinan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat, termasuk dalam tradisi Islam. Salah satu yang populer adanya pemahaman bahwa bulan ini mengandung kesialan, bulan penuh musibah, bulan yang harus diwaspadai.

 

Sebagian orang mengaitkan bulan Shafar dengan datangnya bala, penyakit, dan kesusahan. Bahkan ada yang menghindari pernikahan, perjalanan jauh, atau memulai usaha baru di bulan ini karena takut tertimpa sial.

 

Keyakinan semacam ini tidaklah benar. Ini adalah warisan dari kepercayaan jahiliah yang telah dibatalkan oleh Islam. Dalam Islam, tidak ada bulan yang membawa sial. Tidak ada waktu yang secara mutlak membawa keburukan. Semua waktu adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala, dan Allah tidak menciptakan sesuatu yang sia-sia atau buruk secara mutlak.

 

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

 

Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR Al-Bukhari).

 

Hadits ini secara jelas menolak anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebut secara eksplisit bahwa tidak ada “ṣafar”, artinya: tidak ada kesialan atau takhayul terkait bulan Safar.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Islam yang kita anut datang untuk membersihkan aqidah umat manusia dari mitos dan  keyakinan batil serta  warisan takhayul. Termasuk dalam hal ini adalah menolak anggapan bahwa waktu tertentu membawa sial.

 

Menganggap bulan tertentu membawa musibah atau celaka adalah bentuk syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala  karena menisbatkan kekuatan kepada sesuatu selain Allah ‘Azza wa Jàlla. Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

 

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْن.

 

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS At-Taubah: 51).

 

Musibah tidak terjadi karena waktu tertentu. Ia terjadi karena kehendak dan ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika seseorang meyakini bahwa sebuah bulan mendatangkan keburukan, maka ia telah terjatuh dalam kesalahan yang bisa merusak tauhid.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Islam memandang terhadap bulan Shafar dengan  sikap yang positif dan penuh optimisme. Karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam justru memilih waktu di bulan Shafar untuk melaksanakan berbagai aktivitas positif dan  penting.

 

Dalam sejarah, disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menikahkan putri kesayangannya Fathimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib di bulan Shafar.

Jika bulan Shafar itu adalah  bulan sial, tentu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak akan memilih bulan tersebut   untuk menikahkan putri kesayangannya pada  waktu tersebut, tidak melaksanakan untuk acara mulia seperti pernikahan.

 

Begitu pula dalam sejarah dakwah Rasulullah  shalallahu alaihi wasallam,  banyak peristiwa penting terjadi di bulan Shafar tanpa preseden buruk.

Ini menunjukkan bahwa bulan Shafar sama mulianya seperti bulan lainnya.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Mengapa kita harus menangkal mitos kesialan di bulan Safar?

 

  • Karena mitos bertentangan dengan aqidah Islam. Islam mengajarkan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan takut kepada mitos.
  • Karena mitos melemahkan semangat dan produktivitas. Orang-orang menjadi takut untuk menikah, bekerja, atau bepergian karena khawatir sial.
  • Karena mitos bisa menyeret pada dosa. Bisa jadi seseorang melakukan ritual tertentu yang bertentangan dengan nilai syariat Islam.

 

Kita ajarkan kepada anak-anak dan keluarga kita bahwa semua waktu adalah baik. Yang menjadikan suatu waktu menjadi buruk bukanlah bulan itu, tapi dosa dan maksiat yang kita lakukan di dalamnya.

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada hari, bulan, atau waktu yang menyebabkan seseorang celaka. Namun perbuatan manusialah yang mendatangkan celaka bagi dirinya.”

 

Dalam Islam, tidak ada bukti yang sahih dari hadits atau ajaran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang menyatakan bahwa bulan Shafar menyebabkan segala macam kesialan atau masalah. Islam menekankan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, baik kesialan maupun keberuntungan, adalah  kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam  sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

 

لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ وفِرَّ من المَجْذُومِ كما تَفِرُّ من الأَسَد

 


Artinya: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada sial bulan Shafar, dan larilah kamu dari penyakit kusta seperti kamu lari dari singa
.” (HR Bukhari). 

 

Ibnu Rajab  al-Hanbali (wafat 795 H) juga berpendapat  bahwa bulan Shafar dan bulan lainnya tidak memiliki perbedaan sama sekali.

 

Ditegaskan oleh Ibnu Rajab ;

 

وَأَمَّا تَخْصِيْصُ الشُّؤْمِ بِزَمَانٍ دُوْنَ زَمَانٍ كَشَهْرِ صَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ فَغَيْرُ صَحِيْحٍ

 

Artinya: “Adapun mengkhususkan kesialan dengan suatu zaman tertentu bukan zaman yang lain, seperti (mengkhususkan) bulan Shafar atau bulan lainnya, maka hal ini tidak benar.”

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Pada bulan Shafar sesungguhnya sama dengan bulan-bulan yang lainnya, yakni ada amalan-amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Muslim, di antaranya adalah  :

 

Pertama, meningkatkan kebaikan dan kepedulian sosial.

Bulan Shafar merupakan bulan yang bisa dijadikan oleh kita umat Muslim sebagai bulan memperbanyak amal shaleh. Bisa dengan memperbanyak amalan ibadah ritual seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, maupun ibadah sosial (kesalehan sosial) seperti bersedekah, menyambung tali silaturahmi, dan sebagainya.

 

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى مِنْبَرِهِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا وَبَادِرُوا إِلَيْهِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَصِلُوا الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنكُمْ بِكَثْرَةِ ذِكْرِكُمْ وَبِكَثْرَةِ الصَّدَقَةِ فِي السِّرِّ، وَالْعَلَانِيَّةِ، تُؤْجَرُوا، وَتُنْصَرُوا، وَتُرْزَقُوا

 

Artinya: “Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah bersabda saat beliau berada di atas mimbarnya, wahai manusia bertaubatlah kalian kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati. Bersegeralah kembali kepada-Nya dengan amal-amal saleh, sambunglah hubungan antara Tuhan dan kalian dengan memperbanyak dzikir dan sedekah di saat sunyi dan ramai, maka kalian diganjar, ditolong dan diberi rezeki.”

 

Kedua, puasa sunnah ayyamul bidh.

Pada bulan Safar ini, kita juga bisa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 hijriah.  Puasa pada hari tersebut merupakan puasa ayyamul bidh yakni puasa tiga hari pada pertengahan bulan.

 

Beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda:

 

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

 

Artinya: “Hai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriah).”

 

Imam Bukhari meriwayatkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang sanadnya dari yang sanadnya dari Abu Hurairah:

 

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

 

Artinya: “Kekasihku (Rasulullah shalallahu alaihi wasallam) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang aku tidak pernah meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan shalat dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”

 

Ketiga, banyak berdoa.

Selain beramal saleh dan berpuasa, pada bulan Safar juga kita dianjurkan untuk memperbanyak do’a. Karena do’a-do’a yang dinunajatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, akan dikabulkan oleh-Nya.

 

Dalam Al-Qur’an surat Ghafir ayat 60 Allah subhanahu wa ta’ala jelaskan :

 

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

 

Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”  (QS Ghafir: 60).

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Demikianlah khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, baik yang mendengarkan maupun yang membaca. Dan semoga di bulan Shafar ini, kita semua selalu diberikan kesehatan jasmani maupun rohani, dilimpahi keberkahan rizqi serta bisa mensyukuri nikmat yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

 

بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

 

Khutbah Kedua:

 

الْحَمْدُ ِللّٰهِ اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا،

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ الملك الاعلى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدنا  مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ المصطفى.

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً.

ان الله وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، انك سميع قريب مجيب الدعوات. باقاضي الحاجات ويا رافع الدرجات ويا شافي الأمراض ويا دافع البليات وَتَابِعْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ وََارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

ربنا اغفر لنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا.

ربنا اغفر لنا والإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا انك رؤوف رحيم.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ.

Example 300x600