Ngeliban Minggirsari: Transformasi Kali Brantas dari Mitos Seram Menjadi Wisata Kearifan Lokal yang Menggerakkan Ekonomi Desa
BLITAR, KANALBERITA.COM – Di tengah hiruk pikuk pariwisata modern yang dipenuhi wahana berteknologi tinggi, sebuah desa kecil di Blitar, Jawa Timur, justru memilih jalan berbeda. Desa Minggirsari berhasil menciptakan inovasi wisata berbasis kearifan lokal yang tidak hanya mengubah citra negatif Kali Brantas, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
Dari Ketakutan Jadi Kebanggaan: Perjalanan Mengubah Mindset
Selama puluhan tahun, Kali Brantas memiliki reputasi buruk di mata masyarakat. Banyak orang menganggap sungai ini angker dan menakutkan. Stigma negatif ini begitu mengakar hingga membuat potensi alam yang luar biasa terpendam begitu saja. Namun, persepsi ini mulai berubah berkat visi Eko Haryadi, kepala desa sekaligus penggagas wisata Ngeliban.
“Kali Brantas bukan musuh kita, tetapi sahabat kita,” ujar Eko dengan penuh keyakinan.
Pandangan revolusioner ini menjadi fondasi utama dalam mengembangkan konsep wisata rafting yang berbeda dari yang sudah ada.
Filosofi “Ngeli Nanging Ojo Keli”: Lebih dari Sekadar Rafting
Istilah “Ngeliban” bukan sekadar nama yang dibuat-buat. Kata ini berasal dari filosofi Jawa yang mendalam: “ngeli nanging ojo keli” – mengikuti arus bersama, tetapi tidak hanyut oleh hal-hal yang merugikan. Filosofi ini mencerminkan kearifan hidup orang Jawa dalam bermasyarakat.
Berbeda dengan istilah “rafting” yang sudah umum, Ngeliban hadir sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal. Eko sengaja menggunakan terminologi asli daerah untuk membangun identitas unik yang tidak dimiliki tempat lain.
“Kalau rafting, banyak tempat yang punya. Tapi kalau Ngeliban, hanya ada di Minggirsari,” jelasnya dengan bangga.
Perjuangan dari Nol: Gotong Royong Tanpa Modal
Perjalanan membangun wisata Ngeliban dimulai dari nol total. Terinspirasi setelah berkunjung ke Gua Pindul, Yogyakarta, Eko melihat potensi serupa di desanya. Bersama Paguyuban Watubonang, mereka mulai mewujudkan mimpi tersebut pada 2018.
Tantangan pertama yang dihadapi adalah akses jalan. Daerah Papringan yang akan dijadikan lokasi start rafting sama sekali tidak bisa diakses kendaraan. Selama tujuh bulan, warga bergotong royong membuka jalan secara swadaya. Kini, area yang dulunya hanya bisa dilewati pejalan kaki sudah bisa diakses kendaraan roda empat.
Modal awal yang mereka miliki sangat terbatas – hanya sekitar Rp500.000 untuk membeli pelampung dan ban bekas. Semua dilakukan dengan sistem gotong royong dan niat tulus untuk memajukan desa.

Keamanan dan Kenyamanan: Prioritas Utama Wisata Ngeliban
Rute Ngeliban sepanjang 4 kilometer dirancang khusus untuk memberikan pengalaman yang fun dan aman. Karakteristik sungai di area ini tidak memiliki batu-batu besar yang berbahaya, sehingga peserta tidak perlu menggunakan helm. Durasi perjalanan sekitar 45 menit dengan debit air yang terkontrol berkat bendungan Serut.
Pelampung yang disediakan mampu menahan beban hingga 150 kilogram, memberikan jaminan keselamatan bagi semua peserta. Tim pengelola juga sudah bersertifikasi dan menyediakan asuransi khusus untuk wisata air.
Harga yang ditawarkan sangat terjangkau – Rp55.000 per orang untuk paket Ngeliban dengan ban, dan Rp100.000 per orang untuk paket dengan perahu yang bisa menampung 5-6 orang.
Dampak Ekonomi: Pasar Wisata Kali Brantas yang Fenomenal
Keberhasilan Ngeliban tidak hanya terukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat. Setiap minggu pertama dan ketiga, Pasar Wisata Kali Brantas digelar dan mampu menghasilkan omset fantastis.
Dalam event terakhir, omset pasar wisata mencapai Rp70 juta hanya dalam satu hari – dari jam 6.30 pagi hingga 10.00 pagi. Para ibu penjual sudah kehabisan dagangan sebelum siang. Ada yang meraup keuntungan Rp2 juta, Rp1 juta, bahkan penjual jagung bisa meraup Rp600.000 dalam sehari.
“Ibu-ibu bercerita dengan gembira tentang penghasilan mereka. Ini yang membuat hati saya senang,” ungkap Eko dengan terharu.
Wisata Terintegrasi: Konsep “Matata Manen Tandurane Tanggane”
Ngeliban tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan konsep wisata desa yang lebih luas. Ada wisata “Matata Manen Tandurane Tanggane” – memetik hasil tanaman tetangga – yang memungkinkan wisatawan menikmati sayuran segar langsung dari kebun tanpa bahan kimia.
Konsep ini mencerminkan kearifan lokal Jawa yang mengutamakan kebersamaan dan saling berbagi. Wisatawan tidak hanya menikmati aktivitas rafting, tetapi juga merasakan kehangatan budaya desa.
Tantangan dan Pembelajaran: Keseimbangan Keluarga dan Pengabdian
Kesuksesan Ngeliban tidak datang tanpa pengorbanan. Eko mengakui pada tahun-tahun awal, ia hampir melupakan keluarga karena terlalu fokus pada pengembangan desa.
“Istri protes, anak-anak protes. Saya sering tidur di kantor desa, di Papringan, demi memastikan semuanya berjalan lancar,” kenangnya.
Pembelajaran berharga ini mengajarkan pentingnya keseimbangan antara pengabdian dan kehidupan keluarga. Kini, dengan dukungan istri yang sudah memahami visi misi suaminya, Eko berhasil mengelola kedua aspek kehidupan dengan lebih baik.
Visi Berkelanjutan: Menjaga Alam untuk Generasi Mendatang
Kesuksesan Ngeliban bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang edukasi lingkungan. Eko konsisten mengajak semua pihak untuk menjaga kebersihan Kali Brantas dari hulu hingga hilir.
“Jangan buang sampah sembarangan, jangan buang limbah ke sungai. Ini alam kita yang harus dijaga bersama,” pesannya.
Dengan melibatkan hampir 70 orang dari paguyuban dalam pengelolaan, Ngeliban berhasil menciptakan lapangan kerja sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Inspirasi untuk Desa-Desa Lain
Kisah sukses Ngeliban membuktikan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau modal besar. Yang dibutuhkan adalah kreativitas, gotong royong, dan konsistensi dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal.
“Desa itu maha kaya. Yang penting istikamah, pasti ada jalannya,” filosofi Eko ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengembangkan potensi wisata berbasis kearifan lokal.
Dengan rata-rata 200 pengunjung per bulan dan terus berkembang, Ngeliban membuktikan bahwa pariwisata berkelanjutan berbasis komunitas bukan hanya mimpi, tetapi realita yang bisa diwujudkan dengan tekad dan kerja keras.
Ngeliban Minggirsari bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah bukti nyata bahwa ketika masyarakat bersatu dengan visi yang jelas, mereka mampu mengubah stigma negatif menjadi kebanggaan, kemiskinan menjadi kesejahteraan, dan potensi terpendam menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.