HeadlineKhutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Menghindar Dari Jebakan Tasyabbuh Di Tahun Baru

×

Khutbah Jumat: Menghindar Dari Jebakan Tasyabbuh Di Tahun Baru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi khutbah Jumat
Ilustrasi khutbah Jumat

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA*

Ulama
*penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten

 

 

Khutbah Pertama:

 

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ بَلَغَنَا إِلَى الْعَامِ الْجَدِيْدِ.

وأَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ، وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ قَوْلُهُ السَّدِيْدُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبع هداه الى يوم  اَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ،  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Puji dan syukur kita sanjungkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita, salah satunya adalah kita telah diberi usia bertambah sehingga dapat berjumpa kembali dengan tahun baru miladiyyah 2026 dalam keadaan sehat wal Afiat dan iman yang Insya Allah masih kuat.

 

Shalawat dan kita haturkan untuk Junjunan dan pemberi teladan kepada kita, yakni Nabi besar Muhammad Shalallahu alaihi wasallam beserta keluarganya, para sahabatnya dan seluruh ummatnya hingga akhir zaman.

 

Selanjutnya khatib mengingatkan khusunya kepada  diri sendiri dan umumnya kepada kita sekalian,  Marilah kita tingkatkan keimanan dan  ketakwaan kita kepada Allah SWT  dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang menghantarkan kita pada ketaatan total kepada Allah dalam segala aspek kehidupan. Marilah kita renungkan sabda Rasulullah saw:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «الكيِّسُ مَنْ دَانَ نفْسَه، وعَمِلَ لما بعدَ الموْتِ، والعاجزُ مَنْ أتْبعَ نَفْسَه هواها، وتمنَّي علَي اللهِ». رواه التِّرمِذيُّ عَنْ أبي يَعلَي شدَّادِ بنِ أوْسٍ رضي اللهُ عنه، عنِ النَّبي صلَّي اللهُ عليه وسلمَّ

 

Artinya: “Rasulullah saw bersabda, orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan kosong”. (HR At-Tirmidzi  Dari Abu Ya’la yaitu Saddad ibnu Aus r.a، dan menurut Imam Tirmidzi bahwa hadits ini adalah shahih).

 

Hari ini kita masih ditakdirkan kembali berada  di awal tahun baru.  Dalam penanggalan Hijriah maupun Masehi, awal tahun selalu menjadi momen yang sarat makna. Bukan sekadar berganti angka di kalender, namun sebagai isyarat bahwa waktu terus berjalan, usia kita semakin berkurang, dan hari perjumpaan dengan Allah semakin dekat.

 

Allah swt berfirman:

 

وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ آيَتَي

 

Artinya: “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kekuasaan Kami) (QS Al-Isra’: 12).

 

Pergantian siang dan malam, bulan dan tahun, adalah tanda kekuasaan Allah yang hendaknya menyadarkan kita: apakah waktu yang berlalu telah kita isi dengan kebaikan, atau justru banyak terbuang untuk kelalaian dan dosa?

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Tahun baru seharusnya tidak hanya dirayakan dengan pesta, namun menjadi saat terbaik untuk muhasabah—introspeksi diri. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat selalu mengingatkan pentingnya hisab sebelum dihisab, yakni menilai diri sebelum kita dinilai oleh Allah di hari akhir.

 

Terompet, topi kerucut, petasan, aksi konvoi keliling kota dengan memakai kendaraan yang knalpotnya kebetulan suaranya “dipecah” hingga memekakkan telinga, hampir-hampir menjadi “menu rutin” malam pergantian tahun.

 

Kalau mau jujur, ternyata yang merayakan perayaan Tahun Baru dengan penuh suka cita adalah kebanyakan dari saudara kita juga. Ini dikarenakan acara tahun baruan sudah menjadi budaya yang lazim diperingati oleh siapa saja, termasuk oleh kaum Muslimin.

 

Perayaan Tahun Baru menjadi rutinitas masyarakat umum tak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia dan bahkan di negeri-negeri Muslim. Namun sesungguhnya umat Islam sudah tertipu. budaya orang-orang kafir.

 

Jika kita buka The World Book Encyclopedia tahun 1984, volume 14, halaman 237 tentang Tahun Baru, dikatakan: Bahwa bakar-bakaran, api unggun dan kembang api dan nyanyi-nyanyian adalah budaya Paganisme termasuk budaya dan ritualisme orang-orang Majusi.

 

Bahwa meniup Terompet dan Kuncir Rambut adalah budayanya orang Yahudi,  Dahulu kaum muslimin saat datang ke Madinah, mereka berkumpul seraya memperkirakan waktu sholat yang (saat itu) belum di-adzani.

Di suatu hari, mereka pun berbincang-bincang tentang hal itu. Sebagian orang diantara mereka berkomentar, “Buat saja lonceng seperti lonceng orang-orang Nashoro”. Sebagian lagi berkata,

“Bahkan buat saja terompet seperti terompet kaum Y4hudi”. Umar pun berkata, “Mengapa kalian tak mengutus seseorang untuk memanggil (manusia) untuk sholat”. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Wahai Bilal, bangkitlah lalu panggillah (manusia) untuk sholat”.  HR. Al-Bukhoriy (604) dan Muslim (377)

Renovasi

Topi Kerucut..

Sebagaimana yang telah saya tulis dalam buku Menyingkap Fitnah & Teror. Topi kerucut mempunyai Sejarah yang bermula pada masa Muslim Andalusia. Saat itu terjadi pembantaian Muslim Andalusia yang dilakukan oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela yang dikenal dengan peristiwa Inkuisisi Spanyol. Inkuisisi dimulai semenjak tahun 1492 dikeluarkannya Dekrit Alhambra yang mengharuskan semua non-Kristen untuk keluar dari Spanyol atau me-meluk Kristen. Muslim yang memilih tetap tinggal dilumpuhkan secara ekonomi dan diisolasi dalam kampung-kampung tertutup yang disebut Gheto untuk memudahkan pengawasan terhadap aktifitas Muslim.

 

Tidak cukup hanya diisolasi, tapi Muslim Andalusia harus menggunakan pakaian khusus berupa rompi dan topi kerucut yang disebut Sanbenito. Maka untuk membedakan mana yang sudah murtad dan mana yang belum adalah ketika seorang muslim menggunakan baju seragam dan topi berbentuk kerucut dengan nama Sanbenito. Jadi, Sanbenito adalah sebuah tanda berupa pakaian khusus untuk membedakan mana yang sudah di-converso (murtad) dan mengikuti agama Ratu Isabela.

 

Topi itu digunakan saat keluar rumah, termasuk ketika ke pasar. Dengan menggunakan sanbenito, mereka aman dan tidak dibunuh.

 

Ketika orang Barat menggunakan topi ini dalam pesta-pesta mereka, sejatinya mereka merayakan kemenangan atas jatuhnya Muslim Andalusia dan keberhasilan Inkuisisi Spanyol. Masa demi masa berlalu topi kerucut ini kemudian menjadi budaya yang digunakan oleh umat Islam dalam merayakan tahun baru masehi dan ulang tahun.

 

Membunyikan lonceng juga bukan budaya Islam, melainkan budaya Nasrani. Pertanyaannya apakah kita sebagai kaum muslimin masih mau merayakan Tahun Baru?

 

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sudah mengingatkan dalam hadits.  sabdanya :

 

من تشبه بقوم فهو منهم

 

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (Hadits Riwayat Abu Dawud)

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Kita butuh semangat baru dalam berislam, semangat taat, semangat hijrah, semangat memperbaiki diri.

 

Allah swt berfirman:

 

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (QS Ar-Ra’d: 11).

 

Perubahan diri adalah kunci perubahan nasib. Jika kita ingin hidup lebih berkah, lebih damai, lebih sukses dunia dan akhirat, maka mulailah dengan perubahan pribadi.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Jadikan tahun baru sebagai momentum revolusi jiwa. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil, memperbaiki niat, memperbaiki ucapan, dan memperbaiki pergaulan serta terus memperbaiki aktifitas kita.

Karena perubahan besar terjadi karena dimulai dari langkah-langkah dan hal-hal kecil. Tahun baru dapat kita rayakan dengan sebaik-baiknya, dengan muhasabah atau introspeksi diri.

 

Pesan penting yang bisa kita renungkan adalah pentingnya menilai dirinsebelum kita dinilai oleh Allah SWT di Yaumil Akhir.

 

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

 

Allah Swt. berfirman:

 

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ۝١١

 

 

Artinya:”Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia,”.

 

Hadirin, tidak ada jaminan hidup kita akan bertemu tahun depan.

Karena itu kita  gunakan setiap kesempatan untuk beramal saleh.

 

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Gunakan lima perkara sebelum lima perkara, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu” (HR Hakim).

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

 

Khutbah Kedua:

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ، وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ.

أَمَّا بَعْدُ.: فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Example 300x600