BANDUNG, Kanal Berita – Ratusan demonstran dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat menggelar aksi protes di depan Gedung Sate, Kota Bandung, pada Jumat (18/7/2025). Aksi ini merupakan bentuk penolakan tegas terhadap kebijakan kontroversial Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengganti nama RSUD Al-Ihsan menjadi RSUD Welas Asih.
Para demonstran memulai aksi dengan berkumpul di Pusdai Jawa Barat, kemudian melakukan longmarch menuju Gedung Sate yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Kota Bandung. Di depan kantor pemerintahan provinsi tersebut, perwakilan massa menyampaikan orasi dan aspirasi mereka dengan membawa berbagai poster dan spanduk sebagai simbol penolakan terhadap kebijakan gubernur.
Ketua API Jawa Barat, Asep Syaripudin, menyampaikan pernyataan sikap organisasinya dalam aksi damai tersebut. “Kami masyarakat Jabar mendesak Gubernur Jabar agar segera membatalkan atau mencabut keputusannya yang telah mengganti nama RSUD Al-Ihsan menjadi Welas Asih,” tegasnya di hadapan massa.
Asep Syaripudin menilai pergantian nama tersebut tidak urgent atau mendesak untuk dilakukan. Menurutnya, menghapus nama “Al-Ihsan” merupakan bentuk penghilangan nilai spiritual dan sejarah yang telah melekat pada rumah sakit tersebut. Ia menyarankan agar gubernur lebih fokus pada aspek substantif seperti perbaikan pelayanan atau peningkatan kualitas rumah sakit, daripada sibuk mengganti nama fasilitas kesehatan tersebut.
Aksi demonstrasi ini merupakan puncak dari serangkaian upaya yang telah dilakukan API Jawa Barat sebelumnya. Organisasi ini telah melakukan berbagai tahapan perjuangan, mulai dari menyuarakan penolakan melalui platform digital hingga menggelar hearing atau dialog dengan Pimpinan DPRD Jawa Barat.
Konteks Kontroversi Pergantian Nama
Pergantian nama RSUD Al-Ihsan menjadi RSUD Welas Asih telah memicu perdebatan luas di kalangan masyarakat Jawa Barat. Kontroversi ini tidak hanya menyangkut aspek administratif, tetapi juga menyentuh dimensi keagamaan dan nilai-nilai spiritual yang dianut mayoritas penduduk di wilayah tersebut.
Nama “Al-Ihsan” yang digunakan sebelumnya memiliki makna mendalam dalam perspektif Islam dan dianggap mencerminkan nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi landasan pelayanan kesehatan. Penggantian nama ini dinilai sebagai upaya menghilangkan identitas spiritual yang telah mengakar dalam masyarakat.
Makna Spiritual Ihsan dalam Islam
Untuk memahami mengapa pergantian nama ini menjadi kontroversi, penting untuk mengetahui makna mendalam dari istilah “Ihsan” dalam perspektif Islam. Berdasarkan penelusuran dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan kata “ihsan” sebanyak sebelas kali untuk merujuk pada perbuatan yang baik dan mulia. Dari jumlah tersebut, dua ayat menggunakan bentuk “alif-lam” atau “al-ihsan”, yaitu dalam surah al-Rahman ayat 60 dan surah al-Nahl ayat 90.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kedua ayat tersebut mengandung makna kebaikan atau kebajikan. Pada surah al-Rahman, Allah menjelaskan: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” Sementara dalam surah al-Nahl disebutkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (ihsan), memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Sembilan ayat lainnya juga menerjemahkan “ihsan” sebagai bentuk kebaikan dan perbuatan yang mulia. Bahkan dalam surah al-Baqarah ayat 83, “ihsan” digunakan sebagai pengganti frasa berbuat baik kepada orang tua, sebagaimana firman Allah: “Janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah, dan berbuat baiklah (ihsan) kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” [ ]