BANDUNG, Kanal Berita – – Gelombang protes masif yang terus bergejolak di Iran menimbulkan keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan, termasuk ulama Indonesia. Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) dan Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) KH Athian Ali M.Dai.Lc,MA menyatakan bahwa peristiwa berdarah di negara Timur Tengah tersebut berpotensi merusak citra Islam di mata dunia.
Situasi di Iran semakin memburuk. Berdasarkan laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), jumlah korban meninggal mencapai 2.571 orang, dengan 2.403 di antaranya adalah demonstran, 147 berafiliasi dengan pemerintah, dan 12 anak-anak. Sementara itu, Iran International memperkirakan bahwa sekitar 12.000 demonstran tewas pada 8-9 Januari, dan Time Magazine melaporkan bahwa jumlah korban bisa mencapai 6.000 orang. Lebih dari 10.600 orang juga telah ditahan oleh aparat, sementara pemerintah Teheran memberlakukan pemadaman total akses internet.
Kondisi semakin tegang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan kemungkinan intervensi militer terhadap Iran. Trump menegaskan bahwa Iran kemungkinan besar telah melanggar “garis merah” berkaitan dengan pembunuhan warga sipil. Tidak hanya AS, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu juga menyatakan kesiapan melakukan serangan militer dengan dalih melindungi warga sipil Iran.
Menyikapi tragedi kemanusiaan ini, KH Athian Ali mengingatkan bahwa apa yang sedang berlangsung di Iran dapat membawa dampak yang sangat buruk bagi persepsi Islam secara global. Kekhawatiran ini muncul karena sejak revolusi Syiah tahun 1979, Iran telah mendeklarasikan diri sebagai negara Islam.
“Padahal pemerintah Iran sendiri berfaham syiah Imamiyah yang sangat bertolak-belakang dengan prinsip – prinsip agama Islam. Baik terkait prinsip akidah yang sangat mendasar, maupun yang berhubungan dengan ibadah, baik hablum minallah maupun hablum minan naas. Dikhawatirkan masyarakat dunia akan menilai apa yang dilakukan rezim yang berkuasa saat ini di Iran merepresentasikan ajaran Agama Islam,” terang KH Athian.
Menurut KH Athian Ali, tindakan rezim Syiah di Iran didalam menghadapi para demontran sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Islami dan bahkan justru merusak kesucian serta kemuliaan agama Islam.
“Bagaimana tidak, kok bisa bisanya rezim penguasa di Iran melakukan pembantaian, pembunuhan terhadap para demonstran yang ini tentu saja sangat bertentangan dengan Islam.
Jangankan membunuh ribuan warga sipil yang tidak bersenjata, bahkan di dalam surat Al Ma’idah ayat 32 , Allah SWT menyatakan, bahwasanya barangsiapa yang membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar (syar’i) maka seolah-olah dia telah membunuh semua manusia,” terangnya.
KH Athian menilai bahwa gejolak yang terjadi di Iran merupakan puncak dari akumulasi ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan atau rezim Syiah. Sejak revolusi 1979, tidak ada perbaikan signifikan dalam sektor ekonomi, bahkan rakyat Iran semakin terpuruk dalam kemiskinan dan penderitaan.
“Iran salah satu negara penghasil minyak tetapi rakyatnya merasa ekonomi negara mereka sudah hancur. Sebagian dari kekayaan negara dipergunakan untuk membantu perjuangan kelompok Syiah di negara lain. Misalnya kelompok Houthi di Yaman, kelompok Hizbullah di Libanon dan yang lainnya. Yang belum lama ini berperang dengan Israel bukan negara Yaman tapi Houthi kelompok syiah di Yaman. Bukan pula negara Libanon, tapi Hizbullah kelompok syiah di Libanon” jelas KH Athian.
Lebih lanjut, KH Athian mengkritisi kebijakan Iran yang mengalokasikan kekayaan negaranya untuk menyebarkan paham Syiah ke berbagai belahan dunia, terutama kawasan Timur Tengah, dengan tujuan mengembalikan kejayaan Persia di masa lampau.
KH Athian menegaskan, bahwa dirinya tidak bermaksud terlalu jauh mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Namun, kegelisahannya muncul karena Iran telah dikenal luas dan memproklamirkan diri sebagai negara Islam. Dengan demikian, setiap tindakan pemerintah Iran dengan sendirinya membawa nama Islam, sehingga kesucian Islam menjadi tercoreng.
Terkait rencana intervensi Amerika Serikat dan Israel, KH Athian memprediksi bahwa momentum demonstrasi rakyat Iran akan dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk menguasai Iran. Skenario ini justru dapat membawa dampak yang sama buruknya bagi rakyat Iran di masa mendatang.
“Ya ibaratnya lepas dari mulut harimau tapi masuk mulut buaya. Rakyat Iran bisa lepas dari rezim pemerintah Syiah tapi akan masuk perangkap rezim sekuler Amerika dan dukungan Israel,” pungkas KH Athian.
Pernyataan KH Athian ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk lebih memahami perbedaan antara ajaran Islam yang sesungguhnya dengan praktik-praktik yang dilakukan oleh negara-negara yang mengatasnamakan Islam namun bertentangan dengan prinsip dan nilai-nilai yang diajarkan Islam.[ ]








