HeadlineRegional

Dewan Da’wah Jawa Barat Tugaskan 26 Dai Muda, Perkuat Misi Dakwah hingga Pelosok

95
×

Dewan Da’wah Jawa Barat Tugaskan 26 Dai Muda, Perkuat Misi Dakwah hingga Pelosok

Sebarkan artikel ini
Dai Daerah
Pelepasan dai Dewan Da'wah Jabar ( foto: julhayadi)

BANDUNG BARAT, Kanal Berita – Dalam upaya memperluas jangkauan dakwah dan mengawal akidah umat di seluruh wilayah Jawa Barat, Pengurus Dewan Dakwah Provinsi Jawa Barat telah menyelenggarakan acara pelepasan dan serah terima 26 dai yang akan ditugaskan ke berbagai pelosok provinsi. Ceremonial ini berlangsung pada Rabu, 13 Agustus 2025, bertempat di Masjid Nurul Iman, Komplek Pusdiklat Dewan Da’wah Jawa Barat, Jalan Kiansantang, Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.

 

Acara strategis ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cimahi, yang diwakili oleh H. Rahmat Efendi. Kehadiran perwakilan Kemenag menunjukkan sinergi positif antara lembaga pemerintah dan organisasi dakwah dalam memperkuat program keagamaan di tingkat grassroot.

 

Selain perwakilan Kemenag, acara ini juga dihadiri oleh jajaran pengurus Dewan Da’wah dari berbagai tingkatan, mulai dari provinsi hingga kota dan kabupaten. Representasi dari daerah-daerah seperti Cirebon, Cianjur, dan Kota Cimahi turut hadir, menunjukkan koordinasi yang solid dalam program dakwah lintas wilayah.

 

Program penugasan dai ke daerah pedalaman ini merupakan manifestasi dari agenda dan program rutin Dewan Da’wah yang telah berlangsung secara konsisten. Fokus utama misi para dai yang ditugaskan adalah mengawal akidah umat di tengah-tengah masyarakat, sebuah mandat yang sejalan dengan visi fundamental Dewan Da’wah sebagai “Pengawal Akidah Umat”.

 

Dalam sambutannya, H. Rahmat Efendi menekankan pentingnya kesabaran sebagai modal utama bagi para dai dalam menjalankan misi dakwah. Beliau memberikan perspektif spiritual dengan mengutip Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 153 yang menegaskan bahwa hamba yang bersabar akan mendapat kebersamaan Allah.

 

“Para dai harus perbanyak sabarnya. Ketika sudah mengajak kebaikan namun ada yang bahkan banyak yang tidak menyambut dengan baik maka senjata utama para dai dan daiyah adalah sabar,” tegas H. Rahmat Efendi dalam pesannya kepada para dai yang akan bertugas.

 

Rahmat Efendi kemudian memberikan refleksi mendalam dengan mengangkat kisah-kisah para nabi dan rasul yang juga menghadapi ujian dari umat mereka. Beliau menekankan bahwa jika para nabi yang memiliki derajat mulia saja diuji dengan berbagai tantangan dari umat mereka, apalagi para dai biasa yang tentunya akan menghadapi rintangan serupa.

 

“Seperti Nabi Yunus yang sempat putus asa sehingga diperingatkan oleh Allah dengan dimakan oleh ikan paus di tengah lautan hingga beliau bertaubat. Maka saya ingatkan sekali lagi sabar adalah yang utama bagi para dai,” kembali mengingatkan H. Rahmat Efendi dengan mengambil hikmah dari kisah para nabi.

 

Sementara itu, Ketua Dewan Dakwah Provinsi Jawa Barat, Ustadz M. Roinul Balad, memberikan briefing komprehensif kepada para dai mengenai kompleksitas tantangan yang akan mereka hadapi di lapangan. Beliau menekankan pentingnya kesiapan mental dan strategis dalam menghadapi dinamika sosial dan keagamaan yang kompleks di Jawa Barat.

 

Provinsi Jawa Barat dengan karakteristik geografis yang luas, kepadatan penduduk yang tinggi, dan kompleksitas permasalahan sosial yang beragam membutuhkan pendekatan dakwah yang tidak hanya ikhlas tetapi juga militant dan strategis dari para dai.

 

“Jawa Barat ini secara geografis luas dan masih banyak yang belum mendapatkan sentuhan dakwah amar ma’ruf nahyi munkar,” papar Ustadz Roin, menekankan luasnya medan dakwah yang harus dijangkau.

 

Ustadz Roin kemudian memberikan data statistik yang menggambarkan skala tantangan dakwah di Jawa Barat. Secara administratif, Jawa Barat terdiri dari 27 kota dan kabupaten, 627 kecamatan, dan 5.877 desa. Angka-angka ini menunjukkan betapa luasnya cakupan wilayah yang harus dijangkau oleh program dakwah.

 

Yang lebih menantang lagi, Ustadz Roin menyampaikan data yang mengejutkan bahwa terdapat 122 aliran sesat yang terdata di wilayah Jawa Barat. Angka ini menunjukkan kompleksitas tantangan ideologis yang harus dihadapi para dai dalam menjaga kemurnian akidah umat.

 

Selain tantangan aliran sesat, Ustadz Roin juga memberikan peringatan strategis terkait aktivitas kristenisasi yang dinilainya masih berlangsung di seluruh wilayah Jawa Barat. “Saya juga mengingatkan bahwa di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat semuanya tidak lepas dari gerakan kristenisasi,” ungkapnya dengan tegas.

 

Menghadapi realitas ini, Ustadz Roin memberikan arahan praktis kepada para dai agar tidak terkejut ketika berhadapan dengan berbagai tantangan tersebut. Beliau menekankan pentingnya pendekatan yang santun namun tegas dalam menghadapi pihak-pihak yang memiliki agenda berbeda.

 

“Oleh karena itu jangan kaget nantinya berhadapan dengan mereka. Jika bertemu di lapangan maka temui dan layani mereka dengan baik,” pesan Ustadz Roin, menekankan pentingnya akhlak yang baik dalam berdakwah.

 

Sebagai bagian dari strategi dakwah yang efektif, Ustadz Roin memberikan panduan teknis kepada para dai untuk melakukan pemetaan wilayah secara sistematis. Setiap dai diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang kondisi sosial-religius di wilayah tugasnya dalam radius minimal satu kilometer.

 

“Minimal kalian tahu di radius 1 kilometer. Kalian petakan berapa pesantren, sekolah, masjid hingga dukun dan aliran sesat di sana,” terang Ustadz Roin, menekankan pentingnya intelligence gathering dalam dakwah.

 

Pemetaan ini tidak hanya bertujuan untuk mengetahui potensi dan tantangan, tetapi juga untuk mengidentifikasi objek dakwah yang perlu didekati dan diberi sentuhan dakwah. Menurut Ustadz Roin, semua elemen masyarakat, termasuk mereka yang terlibat dalam praktik-praktik menyimpang, adalah objek dakwah yang harus didekati dengan pendekatan yang tepat.

 

“Mereka itu, sambung Ustadz Roin adalah objek dakwah yang harus didekati agar mendapat sentuhan dakwah,” jelasnya, menekankan inklusivitas dalam pendekatan dakwah.

 

Selain aspek teknis pemetaan, Ustadz Roin juga menekankan pentingnya membangun jaringan dan hubungan baik dengan para tokoh masyarakat dan stakeholder lokal. Strategi ini dinilai krusial untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan program dakwah di tingkat grassroot.

Para Da’i ini akan di tugaskan ditempat tugasnya masing -masing selama 1 hingga 2 tahun.

“Kalian juga disana jangan lupa silaturahmi dengan tokoh dan stake holder di sana. Jalin silaturahmi dan perkuat ukhuwah sesuai dengan misi kita (Dewan Dakwah) yakni sebagai perekat ukhuwah,” pungkas Ustadz Roin, menegaskan pentingnya diplomasi dakwah.

Tak lupa Ustadz Roing mengucapkan terima kasih kepada BAZNAS Jawa Barat yang senantiasa memberikan dukungan kepada program program Dewan Dawah dan semua pihak yang telah membantu dan support baik materi ataupun moril .

Hadir dalam acaraini sejumlah Pengurus Dewan Da’wah Jabar, Pengurus Dewan Da’wah Daerah Kokab ; Cianjur, Sukabumi, Bekasi, Subang, Cirebon, Kuningan, Kota Bandung dan Kab. Bandung Barat, Kades Tani Mulya, Perwakilan majlis ta’lim,  Kepala. Sekolah Dewan Da’wah RA, MI, MTS, Darul Aitam .

Program penugasan kepada 26 dai ini mencerminkan komitmen serius Dewan Da’wah Jawa Barat dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil yang belum mendapat sentuhan dakwah yang memadai. Dengan dukungan dari Kementerian Agama Provinsi Jawa barat dan koordinasi lintas daerah, program ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam penguatan akidah dan persatuan umat Islam di Jawa Barat.

 

Keberadaan 26 dai di berbagai pelosok Jawa Barat diharapkan tidak hanya dapat mengawal kemurnian akidah, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan kerukunan antarumat beragama. Dengan pendekatan yang santun namun tegas, serta strategi yang terukur dan sistematis, program dakwah pedalaman ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat diadopsi oleh daerah-daerah lain di Indonesia.[ ]

Example 300x600