JAKARTA, KANALBERITACOM – Ketimpangan distribusi tenaga medis spesialis menjadi permasalahan serius yang dihadapi Indonesia, meskipun secara jumlah beberapa bidang spesialisasi mengalami surplus. Kondisi ini diungkapkan pakar kedokteran dari Universitas Indonesia dalam sebuah forum diskusi nasional.
Konsultan Obstetri dan Ginekologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Andon Hestiantoro, mengungkapkan paradoks yang terjadi dalam dunia kesehatan Indonesia. Di satu sisi, negara memiliki kelebihan dokter spesialis kandungan, namun di sisi lain, akses masyarakat terhadap layanan kesehatan spesialis masih timpang.
Dalam seminar bertajuk ‘Distribusi Dokter dan Tantangan Nasional’ yang digelar Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia bersama Dewan Guru Besar FK UI pada Jumat (25/7/2025) kemarin, Andon memaparkan data mengejutkan terkait kondisi dokter spesialis kandungan di Indonesia.
“Saat ini surplus sekitar 900 dokter spesialis obgyn, dengan rasio 1–2 dokter per 100.000 penduduk,” ungkap Andon dalam seminar yang berlangsung secara virtual dari Ruang Senat Akademik Fakultas FK UI Jakarta.
Namun, surplus tersebut tidak berbanding lurus dengan kemudahan akses layanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah terpencil. Andon mencontohkan betapa sulitnya menemukan dokter spesialis kandungan bahkan di daerah yang relatif dekat dengan ibu kota.
“Permasalahannya tetap di distribusi, bahkan di Kepulauan Seribu dan Sukabumi, dokter obgyn sulit ditemukan,” tegas Andon.
Menurut dosen Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UI ini, persoalan distribusi dokter tidak terlepas dari aspek penghargaan dan apresiasi yang diterima tenaga medis. Ia berpandangan bahwa pemberian apresiasi yang memadai dapat menjadi solusi untuk mendorong dokter bertugas di daerah-daerah yang membutuhkan.
“Tetapi kalau seandainya ada apresiasi yang cukup untuk dokter-dokter kita, mungkin ini dapat dipecahkan bersama,” kata Andon.
Lebih lanjut, Andon menegaskan bahwa kesehatan merupakan hak fundamental setiap warga negara yang tidak boleh dibedakan berdasarkan lokasi geografis.
“Kesehatan adalah hak seluruh warga negara, jadi akses kesehatan bagi masyarakat merupakan hal yang sangat penting,” tegas dia.
Untuk mengatasi tantangan ini, Andon mendorong pentingnya sinergi multipihak dalam merumuskan kebijakan yang komprehensif dan berkelanjutan. Menurutnya, solusi tidak bisa dicari secara parsial, melainkan membutuhkan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan.
“Harus ada jalan keluar bersama pemerintah, institusi pendidikan, dan pemangku kepentingan,” ujar Andon.
Seminar nasional ini dinilai Andon sebagai langkah strategis dalam upaya transformasi sistem kesehatan Indonesia ke arah yang lebih berkeadilan dan berkualitas.
“Seminar ini merupakan langkah nyata dalam upaya-upaya untuk menuju sistem kesehatan Indonesia yang lebih adil dan unggul,” pungkas Andon.
Diskusi yang diselenggarakan secara daring ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif untuk mengatasi ketimpangan distribusi tenaga medis spesialis di Indonesia.
Sumber : RRI