JAKARTA, Kanal Berita – – Kontroversi pernyataan Eggy Sudjana terkait pertemuannya dengan mantan Presiden Joko Widodo terus bergulir. Kali ini, Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) memberikan respons keras terhadap pernyataan Eggy yang mengibaratkan dirinya seperti Nabi Musa saat menghadap Firaun.
Polemik ini bermula dari pengungkapan pesan WhatsApp Eggy Sudjana oleh Refly Harun dalam sebuah acara talkshow televisi nasional pada Selasa (13/1/2026) malam. Pesan yang dikirim Eggy pada pukul 22.06 tersebut mengungkap latar belakang ideologis kunjungannya ke kediaman Jokowi di Solo.
Dalam pesan itu, Eggy yang saat ini berstatus tersangka dalam kasus dugaan ijazah palsu Jokowi menjelaskan bahwa keputusannya berkunjung bukan didasari kepentingan personal atau desakan politik. Ia mengklaim tindakannya memiliki dasar ideologis dan religius yang kuat.
Eggy bahkan melakukan perbandingan dengan kisah dalam Al-Quran, dimana Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendatangi Firaun dengan pendekatan yang lemah lembut, meskipun keduanya merasa ketakutan.
“Itulah alasan ideologis saya mau berkunjung ke JKW. Bagi yang tidak percaya, no problem,” demikian bunyi pesan Eggy yang dibacakan oleh Refly Harun, sebagaimana dikutip dari Warta Kota.
Keras Dikritik Ulama
Pernyataan tersebut mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk dari Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH Athian Ali Dai. Menurut ulama senior ini , apa yang disampaikan Eggi berpotensi masuk dalam kategori pelecehan terhadap kitab suci Al-Quran.
KH Athian menegaskan bahwa Eggy tidak memiliki hak, tidak pantas dan sangat tidak layak untuk menyamakan atau mengibaratkan dirinya dan Damai Hari Lubis ( DHL ) Sebagai Nabi Musa dan Nabi Harun yang memiliki kedudukan yang sangat mulia disisi Allah SWT.
Mengenai Eggy memposisiksn Jokowi sebagai Firaun , KH Athian menyatakan tidak mempermasalahkannya. Menurutnya, Firaun bukanlah nama personal seseorang, melainkan gelar atau julukan.
“Jika Eggi menganggap atau menyamakan Jokowi dengan Fir’aun maka kita tidak peduli. Silahkan saja terserah dia. Karena Fir’aun bukan figur seseorang. Fir’aun adalah gelar atau julukan. Sama seperti julukan Abu Jahal dan Abu Lahab. Dimana semua itu bukan nama asli seseorang, tapi julukan yang disematkan kepada sosok manusia yang berwatak sangat buruk, durjana, menentang kebenaran ilahi dan sosok pemimpin yang zalim . Fir’aun yang di zaman nabi Musa itu nama aslinya Ramses II,” jelas KH Athian.
Masalah yang Serius dari Sisi Akidah
Menurut KH Athian , pernyataan Eggy yang mentamsilkan dirinya dan DHL sebagai Nabi Musa dan Nabi Harun, sangatlah bermasalah dari sisi akidah.
Alasannya, menyamakan manusia biasa dengan para nabi dan rasul yang maksum (terjaga dari dosa) adalah tindakan yangĺ sangat tidak dibenarkan dalam Islam.
” Terlebih lagi, misi yang diemban oleh nabi Musa dan nabi Harun itu sangat jauh berbeda dengan misinya Eggi dan DHL. Kalau nabi Musa dan Harun menemui Fir’aun dengan tujuan mendakwahi, agar dia sadar bahwa dirinya bukanlah tuhan yang kuasa berbuat zalim semau dia, dan bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah, dan agar firaun segera sadar , bertobat, beriman dan menghentikan segala bentuk kezalimannya . Dimana dengan demikian, misi nabi Musa dan nabi Harun berdakwah menyampaikan risalah Illahi , bukan datang sebagai orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Jokowi yang dijuluki Fir’aun oleh Eggy, yang berakhir dengan pemberian maaf dari firaun dan terbitnya SP3,” tegas KH Athian.
Inkonsistensi Narasi
KH Athian juga menyoroti inkonsistensi dalam narasi yang dibangun Eggy. Ia mempertanyakan logika di balik klaim tidak meminta maaf, sementara faktanya pihak yang dijuluki Firaun oleh Eggy tersebut memberikan pengampunan.
“Wajarkah Fir’aun memaafkan orang yang tidak minta maaf ? Apakah Fir’aun sosok manusia sebijaksana itu? yang bahkan lewat instruksinya kepada aparat, hanya dengan hitungan 1-2 hari langsung keluar SP3 ?” imbuh KH Athian penuh keheranan
Menurutnya, di sinilah letak penghinaan dan pelecehan terhadap Al-Quran. Eggy telah menyamakan dirinya dengan kedua sosok mulia yang tidak mungkin berada dalam posisi sebagai tersangka atau melakukan kesalahan yang memerlukan permintaan maaf dari Firaun.
Eggi Dituntut Melakukan Pertobatan
KH Athian menekankan , dengan kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun , maka wajarlah bila
” Saya dan setiap mumin tidak bisa menerima bahkan sangat sakit hati, jika ada pihak yang melakukan pelecehan terhadap para nabi dan rasul, termasuk Nabi Musa dan Nabi Harun yang sangat kita muliakan dan dimuliakan oleh Allah SWT. Bagaimana tidak mulia, bayangkan saja mereka berdua terpilih bersama 23 Nabi lainnya dari sekian miliar manusia, untuk mengemban risalah Allah SWT. Menuntun manusia kejalan yang benar, termasuk berupaya menyadarkan firaun dari kesesatan dan kezalimannya, yang kalau bukan karena pertolongan Allah SWT, nyaris nyawa Nabi Musa terenggut kekuasaan bengis firaun ” jelas KH Athian.
Untuk itu, sebagai mumin yang brrkewajiban mencintai saudaranya sesama mumin , KH Athian mendesak Eggy Sudjana untuk segera bertobat. Bahkan, ia memberikan peringatan yang lebih serius jika pelecehan tersebut dilakukan dengan kesadaran penuh karena kepentingan tertentu.
” Jika Eggy sama sekali tidak berniat melecehkan Nabi Musa , Nabi Harun dan firman Allah SWT yang mengkisahkan keduanya dalam Al Quran, dan bahwasanya tamsil tersebut hanyalah sesuatu yang secara tiba-tiba muncul dan terlintas dalam pikirannya ketika dia berupaya menyelamatkan posisi dirinya dan DHL dari berbagai kecaman di masyarakat, Dengan kata lain, tidak sedikitpun terbesit niat untuk melecehkan, maka insya Allah cukup dengan bertobat nasuha. Tetapi jika dilakukan dengan sadar maka sebaiknya dia bersyahadat lagi karena telah batal keimanannya akibat melecehkan dua hamba yang dimuliakan Allah SWT terutama firman-Nya, ” pungkas KH Athian.
Menurut KH Athian, Eggy terlalu gegabah dalam membuat perumpamaan yang melibatkan dua dari sekian nabi dsn rasul yang sangat mulia bagi seluruh kaum Muslimin. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan FUUI dalam menyikapi penggunaan ayat-ayat Al-Quran dalam bentuk penafsiran yang tidak pada tempatnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Eggy Sudjana terkait kritik keras dari FUUI tersebut. [ ]














