
Gempa bumi berkekuatan 8,8 magnitudo yang mengguncang wilayah timur Rusia menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Namun, tsunami yang ditimbulkan ternyata tidak sebesar yang dikhawatirkan banyak orang.
Gempa tersebut terjadi di Semenanjung Kamchatka pada Rabu (30/7/2025) pada pukul 11.25 waktu setempat. Peristiwa ini langsung memicu kekhawatiran akan potensi tsunami besar yang bisa membahayakan wilayah pesisir di sekitar Samudra Pasifik. Jutaan orang pun dievakuasi. Banyak yang teringat bencana tsunami besar seperti yang terjadi pada 2004 di Samudra Hindia dan 2011 di Jepang.
Namun kenyataannya, tsunami kali ini relatif kecil dan menyebabkan kerusakan yang terbatas. Mengapa bisa begitu?
Apa Penyebab Gempa Dahsyat Ini?
Seperti dikutip dari BBC, Semenanjung Kamchatka terletak di area yang disebut Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), yaitu wilayah yang sering terjadi gempa dan aktivitas gunung berapi. Di sini, lempeng bumi (tektonik) saling bertemu dan bergerak.
Tepat di lepas pantai Kamchatka, Lempeng Pasifik bergerak ke arah barat laut sekitar 8 cm per tahun — kira-kira dua kali lebih cepat dari pertumbuhan kuku manusia. Lempeng ini bertabrakan dengan lempeng yang lebih kecil bernama Lempeng Okhotsk.
Karena Lempeng Pasifik lebih padat (karena berasal dari dasar laut), ia cenderung “menyelam” ke bawah lempeng yang lebih ringan. Proses ini dinamakan subduksi. Namun pergerakan ini tidak selalu mulus. Kadang lempeng-lempeng ini “macet” dan tekanan pun menumpuk selama ribuan tahun. Ketika akhirnya dilepaskan, terjadilah gempa besar — atau disebut megathrust earthquake.
“Untuk gempa sebesar ini, pergeseran pada patahan bisa terjadi sepanjang ratusan kilometer,” kata Dr. Stephen Hicks, ahli seismologi dari University College London.
Gempa-gempa terkuat sepanjang sejarah — seperti di Chile (1960), Alaska (1964), dan Sumatra (2004) — juga merupakan megathrust earthquake. Kamchatka sendiri juga pernah diguncang gempa besar pada 1952 dengan kekuatan 9,0 magnitudo.
Kenapa Tsunaminya Tidak Terlalu Besar?
Gempa besar bisa memicu tsunami jika terjadi pergeseran dasar laut yang cukup besar. Tsunami bisa melaju sangat cepat di laut dalam — hingga 800 km/jam, secepat pesawat jet. Namun saat mendekati pantai, kecepatannya melambat dan tinggi gelombangnya meningkat.
Namun, tidak semua gempa besar menghasilkan tsunami besar.
Tsunami kali ini menghasilkan gelombang setinggi sekitar 4 meter di beberapa wilayah timur Rusia. Ini jauh lebih kecil dibanding tsunami 2004 dan 2011, yang ketinggian gelombangnya mencapai puluhan meter.
Beberapa faktor yang mempengaruhi besar atau kecilnya tsunami antara lain:
Bentuk dasar laut (bathymetri)
Kontur daratan di pesisir
Seberapa dangkal atau dalam pusat gempa
Menurut Profesor Lisa McNeill dari University of Southampton, semua faktor ini, ditambah seberapa padatnya penduduk di wilayah pesisir, menentukan seberapa besar dampaknya.
Gempa ini terjadi pada kedalaman sekitar 20,7 km di bawah permukaan bumi. Semakin dangkal, biasanya potensi untuk mengangkat dasar laut dan memicu tsunami juga lebih besar. Tapi jika kedalaman gempa sebenarnya lebih dalam, maka dampak tsunaminya bisa lebih kecil.
Peran Sistem Peringatan Dini
Salah satu alasan korban jiwa dapat diminimalkan adalah karena adanya sistem peringatan dini tsunami yang jauh lebih baik dibanding tahun 2004. Negara-negara di sekitar Samudra Pasifik telah memiliki pusat pemantauan tsunami yang bisa mengirim peringatan secara cepat agar penduduk mengungsi.
Saat tsunami 2004 terjadi, sistem seperti ini belum tersedia, sehingga lebih dari 230.000 orang meninggal dunia di 14 negara.
Penting untuk diketahui bahwa gempa tidak bisa diprediksi secara pasti. Bahkan, sepuluh hari sebelum gempa besar di Kamchatka, sudah terjadi gempa berkekuatan 7,4 di daerah yang sama. Ini kemungkinan adalah foreshock (getaran pendahulu), namun tidak bisa digunakan untuk memprediksi waktu gempa utama secara akurat.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Lembaga Geofisika Rusia (GS RAS) akan terus memantau aktivitas di wilayah ini karena kemungkinan masih akan terjadi gempa susulan selama beberapa minggu ke depan.
Meski kali ini dunia terhindar dari bencana tsunami besar, wilayah Pasifik tetap harus waspada karena pertemuan lempeng-lempeng bumi di sini menyimpan potensi gempa besar di masa depan.