KANALBERITA.COM – Kementerian Haji dan Umrah akan menerapkan skema baru dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, yaitu Murur (melintas Muzdalifah tanpa turun) dan Tanazul (pengembalian jamaah ke akomodasi lebih awal). Kedua inovasi ini dirancang untuk mengatasi tantangan kepadatan jamaah di Muzdalifah yang semakin terbatas dan mengoptimalkan aliran pergerakan jamaah menuju Mina.
Kasat Ops Armuzna pada Haji 2025, Laksma TNI Harun Arrasyid, menyatakan bahwa rencana ini telah mendapat persetujuan dari pimpinan dan akan didukung penuh oleh seluruh petugas di lapangan. Implementasi skema ini merupakan langkah adaptif kementerian dalam manajemen penyelenggaraan haji demi peningkatan kenyamanan dan keselamatan seluruh jamaah.
“Rencana untuk murur dan tanazul itu akan kita laksanakan rencananya di tahun ini. Bapak Menteri juga akan melaksanakan proyek itu, sehingga kami dengan unsur-unsur petugas yang di Armuzna akan mendukung kebijakan itu,” ujar Harun usai memberikan materi dalam diklat calon petugas haji 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu malam.
Optimalkan Pergerakan Jamaah dengan Murur dan Tanazul
Skema Murur dipandang sebagai solusi paling efektif untuk mengurangi penumpukan massa di area Muzdalifah. Dengan metode ini, sebagian jamaah, khususnya lansia, kelompok risiko tinggi (risti), dan penyandang disabilitas, akan tetap berada di dalam bus saat melewati Muzdalifah. Bus akan berhenti sejenak untuk memenuhi rukun mabit, sebelum melanjutkan perjalanan langsung ke Mina. Pendekatan ini diharapkan dapat secara signifikan mengurai kepadatan jamaah di Muzdalifah.
“Kita anggap itu lebih efektif. Dengan adanya murur, bisa mengurai kepadatan jamaah di Muzdalifah dan juga akan bisa lebih mengontrol kepadatan, baik yang ada di Muzdalifah maupun nanti yang ada di Mina,” jelas Harun.
Meskipun konsep ini sudah matang, detail teknis terkait jumlah pasti jamaah yang akan menerapkan skema Murur dan Tanazul masih dalam tahap pendataan. “Kalau sekarang ini baru konsep saja yang kita akan laksanakan. Untuk berapa jumlah jamaah yang akan melakukan itu, ini nanti kalau sudah lengkap proses pendataan dan sebagainya akan dimatangkan,” tambahnya.
Penerapan Murur dan Tanazul ini menunjukkan pergeseran dalam manajemen haji yang semakin adaptif terhadap kondisi lapangan, dengan prioritas utama pada keselamatan dan kenyamanan jamaah selama menjalankan ibadah.








