Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Bergembira Akan Tibanya Ramadhan Tanpa Membiarkan Puasa Berlalu Tanpa Makna

×

Khutbah Jumat: Bergembira Akan Tibanya Ramadhan Tanpa Membiarkan Puasa Berlalu Tanpa Makna

Sebarkan artikel ini
Khutbah Jumat
ilustrasi foto: istimewa

*penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten

Khutbah Pertama:

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله الذي فرض علينا الصيام في شهر رمضان.

اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له الملك المنان.

واشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله سيد الرسل والخلق والإنسان.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وأصحابه ومن تبع هداه بإحسان إلى آخر الزمان.

أما بعد : فيا أيها الناس اتقوا الله حق نقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Bergembira Menyambut Ramadhan, adalah Salah Satu Wujud Keimanan Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?

 

Salah satu tanda keimanan seorang muslim adalah  bergembira menyambut Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.

 

Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja seolah tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Padahal  ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.

Allah berfirman,

 

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

 

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

 

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

 

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.”

(Latha’if Al-Ma’arif hal. 232).

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?  Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, berkah, dan keutamaan pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada Allah

Kabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.

 

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385).

Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991)).

 

Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan:

 

ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ

‏( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 ‏)

 

“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.” (Ahaditsus Shiyam hal. 13)

 

Dalam Lathoif Al Ma’rifat (hal 148), Syekh Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,

 

ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ

 

“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan).”

 

Ada hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, walau   haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’, yaitu :

 

ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ

 

“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin).

 

Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadhan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambut Ramadhan agar amaliah Ramadhan yang kita jalankan bisa lebih maksimal.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga sejak terbut fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya.

 

Inilah yang disabdakan oleh Nabi Saw yang jujur lagi membawa berita yang benar,

 

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

 

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa.

Dan Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib (1084) yang mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya).

 

Apa di balik ini semua? Mengapa amaliah  puasa orang tersebut tidak dianggap tidak.memiliki nilai padahal seseorang telah susah payah menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Agar kita mendapatkan jawabannya, mengenai beberapa hal yang membuat amaliah puasa seseorang menjadi sia-sia, seperti :

 

1 -> Berkata Dusta (قول الزور)

Yaitu perkataan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia, tanpa makna,  hanya merasakan lapar dan dahaga saja.

 

Hadits yang sanadnya dari Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1903),  Rasulullah saw  bersabda :

 

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

 

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”

 

Apa yang dimaksud dengan Qaulaz zuur?, Imam As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta, hasud dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah).

 

2 -> Berkata laghwu (اللغو/sia-sia) dan rofats (رفث/kata-kata porno) merupakan

Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

 

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih).

 

Apa yang dimaksud dengan laghwu? Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,

 

اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه

 

“Laghwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”

 

Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats?  Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,

 

وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل

 

“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan dan semua perkataan yang mengarah kesana.”

 

Al Azhari mengatakan,

 

الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة

 

“Istilah rofats (رفث) adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita dan atau sebaliknya.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.

 

Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia.

Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, yang  begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.

 

3 -> Melakukan Berbagai Macam Maksiat

Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram.

 

Ibnu Rojab Al Hambali memberi petuah yang sangat bagus ;

 

“Ketahuilah, amalan taqorub (تقرب/mendekatkan diri) kepada Allah SWT dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri), tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.”  (Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah).

 

Petuah Jabir bin ‘Abdillah dalam Lathoif Al Ma’arif Jilid 1 hal 168 (aay-syamilah)  juga  sangat bagus untuk bahan renungan kita :

 

“Seandainya kita berpuasa maka hendaknya pendengaran kita,  penglihatan kita  dan lisan kita turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kita  menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasa kita. Hendaknya  kita tidak menjadikan hari-hari puasa kita  dan hari tidak berpuasamu sama saja.”

 

Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja tanpa makna,  sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat.

 

Ibnu Rojab mengatakan,

 

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

 

Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”

 

4 -> Apakah dengan Berkata Dusta dan Melakukan Maksiat, Puasa Seseorang Menjadi Batal?

 

Untuk menjelaskan hal ini, perhatikanlah perkataan Ibnu Rojab berikut :

 

“Mendekatkan diri pada Allah SWT dengan meninggalkan perkara yang mubah tidaklah akan sempurna sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah. Walaupun puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqodho’) puasanya. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”

 

Ibnu Hajar dalam Al Fath (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan qaul Al zur  (قول الزور/dusta) dan mengamalkannya :

 

“Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan coitus/ jima’ (berhubungan suami istri).”

 

Dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih (6/308), Maula ‘Ali Al Qori  berkata:

 

 “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”

 

Kesimpulannya : Seseorang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, menghasut, menfitnah, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah SWT.

 

–Semoga kita dijauhkan dari melakukan hal-hal semacam ini-

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Ada pahala yang tak terhingga di shaum kita.

 

Kita tidak akan  membiarkan puasa dan amaliyah ramadhan  yang kita lakukan berlalu tanpa makna,  puasa yang  hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan  puasa kita.

Karena Sungguh sangat merugi jika kita  melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa dan amaliyah ramadhan yang kita lakukan.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut?

Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini.

Dalam riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah saw bersabda,

 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

 

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151).

 

معاشر. المسلمين رحمكم الله

 

Kita tentu melihat, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, kita juga mesti memperhatikan pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah SWT  sendiri yang akan membalasnya.

 

Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, kita renungkan penjelasan Ibnu Rojab berikut ini :

 

“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah SWT  akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar.

 

Dan Mengenai ganjaran sabar, Allah SWT sudannjelaskan sebagaimana  firman-Nya :

 

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

 

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar : 10).

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. Sebagaimana Sabda Nabi Saw yang sanadnya dari Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh Tirmidzi (2658)

 

الصوم نصف الصبر

 

“Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi dalam Al JamiUsh Shoghir (2658).

 

Sabar ada tiga macam yaitu

-> sabar dalam menjalani ketaatan,

-> sabar dalam menjauhi larangan dan

-> sabar dalam menghadapi taqdir Allah yang terasa menyakitkan.

 

Ternyata dalam puasa yang kita lakukan terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT yaitu menjauhi berbagai macam syahwat.

Dalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas.

 

Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman Allah SWT :

 

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

 

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”  (QS. At Taubah : 120).

 

–Dalam Lathoif Al Ma’arif (1,168), Ibnu Rajab mengungkap rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena di dalam puasa tersebut terdapat sikap sabar.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

sekali lagi  kita tentu tidak akan menyia-nyiakan  puasa kita tanpa makna. Puasa yang  hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu kita lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amaliyah puasa dan amaliyah ramadhan kita.

 

Kita mengisi hari-hari kita di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah kita  berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka  lebih baik diisi dengan tidur.

 

Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berdzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan.

 

Kita Manfaatkan waktu  di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.

 

Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.

 

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته أنه هو السميع العليم.

 

Khutbah Kedua:

 

الحمد لله رب العالمين وله نستعين على أمور الدنيا والدين. اشهد ان لا اله الا الله الملك الحق المبين، واشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله الصادق وعد الأمين.

الصلات والسلام على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين.

أما بعد :

ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.

اللهم صل وسلم وبارك امين يا رب العالمين

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الاحياء منهم والاموات انك سميع قريب مجيب الدعوات ويا قاضي الحاجات ويا رافع الدرجات ويا شافي الأمراض ويا دافع البليات.   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّويانا صِغَارًا.

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما.

اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان وحصل مرادنا واغفرلنا ذنوبنا.

ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه اجمعين.. والحمدلله رب العالمين.

Example 300x600
Khutbah Jumat
Khutbah Jum'at

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA* *penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten   Khutbah Pertama:   اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا…

Khutbah Jumat
Headline

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA* *penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten   Khutbah Pertama:   الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ…

Khutbah Jumat
Headline

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA* *penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten Khutbah Pertama:   اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ…

Khutbah Jumat
Headline

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA* *penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten   Khutbah Pertama:   الحمد لله الملك المنان ذي السُّلْطَانِ، الحَلِيْمِ اْلكَرِيْمِ الرَحِيْمِ…