Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA*
*penulis adalah aktivis da’wah dan anggota Komisi Dakwah MUI Pusat serta pengasuh pesantren di Banten
Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ،
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الملك المنان، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أرسله الله لأمته
إلى اخر الزمان.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَان الى اخر الزمان.
أَمَّا بَعْدُ :
فيا عباد الله رحمكم الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون.
قال الله تعالى في كتابه الكريم.
وقل جاء الحق وزهق الباطل أن الباطل كان زهوقا
معا شر المسلمين رحمكم الله
Berersyukur yang tak boleh luntur kepada Allah Yang Maha Ghafur atas segala nikmat hidup dari Allah Subhanahu wa ta’ala hingga kita masuk alam kubur. Karena dengan syukur kita hidup akan bertambah makmur di hamparan persada yang subur.
Kita bershalawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam penutup para Nabi dan Rasul. Yakni Nabi yang memberikan teladan kehidupan baik dengan taqrir/restu, teladan yang dicontoh amalkan serta qaul pitutur rasul.
Sebagai khatib pada Jum’at kali ini, saya mengajak khususnya kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Asy-Syakuur, Robb yang selalu menerima aktifitas ibadah hamba-hamba-Nya sebagai salah satu bentuk syukur untuk mencapai kebahagiaan, di dunia maupun di akhirat.
Sesungguhnya pertentangan antara al-Haq dan al-Bathil adalah bagian dari persoalan yang telah baku dan pasti, dan ini telah menjadi sunnatullah yang tak akan pernah berubah.
سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (QS. Al-Fath: 23).
Meskipun kebatilan selalu menyeruak, meninggi, dan mendominasi di mata mayoritas masyarakat dunia, pasti akan ada waktunya ia tumbang, hancur, dan musnah.
لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ
“Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8).
معاشر المسلمين رحمكم الله
Untuk dapat mengetahui apa yang akan dilakukan al-Haq terhadap al-Bathil, mari kita selami firman Allah Subhanahu wa ta’ala ini,
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ۚ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ
“Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (QS. Al-Anbiya’: 18).
Seperti itulah akhir cerita dari kebatilan; Al-Haq berjaya, sementara al-Bathil lenyap. Lenyap atau Zahuq adalah sifat yang melekat pada kebatilan. Maha Benar Allah Subhanahu wa ta’ala dengan firman-Nya,
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al- Isra’: 81).
Zahuq maknanya adalah hancur, lenyap, sama sekali tidak memiliki keabadian sebagaimana al-Haq.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Di bulan Muharram ini, ribuan tahun yang lalu terjadi sebuah peristiwa besar. Di mana peristiwa besar itu mencapai puncaknya dan berakhir pada tanggal sepuluh bulan Muharram. Peristiwa besar itu berupa peperangan yang cukup dahsyat. Perang narasi yang berlanjut pada perang fisik. Peperangan antara ahli tauhid dengan ahli syirik. Peperangan kaum beriman melawan kaum penyembah berhala.
Peperangan besar ini terjadi antara seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wa ta’ala yang melawan seorang thagut penguasa sebuah kerajaan yang sangat besar. Peperangan ini adalah peperangan antara nabiyullah Musa as yang melawan penguasa yang mengaku-aku sebagai Tuhan, yaitu Fir’aun laknatullah ‘alaih.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Sesungguhnya kisah perlawanan Musa ‘alaihissalam terhadap penguasa Firaun adalah potret hidup pertolongan kepada al-Haq dalam melawan kebatilan. Kisah itu adalah gambaran yang cukup jelas dan detail, betapa menyedihkannya akhir dari sebuah dominasi kebatilan dan para pengikutnya.
Mari sejenak kita gunakan akal pikiran masing-masing. Allah Subhanahu wa ta’ala mengutus Musa as kepada Fir’aun laknatullah ‘alaih, sosok thagut yang paling tiran yang pernah hidup di muka bumi ini sebelum turunnya Dajjal.
اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ
“Pergilah kepada Fir’aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas.” (QS. Thaha: 24).
Pergilah wahai Musa as kepada thagut yang telah melampaui batas kekafirannya ini, yang telah merampas hak Rububiyah Allah Subhanahu wa ta’ala ketika ia berseru kepada kaumnya,
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي
“Dan berkata Firaun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku’.” (QS. Al-Qashash: 38).
Fir’aun laknatullah ‘alaih yang sombongnya tidak keruan ini juga pernah melakukan proyek kampanye di hadapan rakyatnya,
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24).
Kemudian, untuk menyukseskan misi kampanyenya tersebut, Fir’aun laknatullah ‘alaih memproduksi propaganda-propaganda dusta untuk melakukan penyesatan opini rakyatnya melalui berbagai kanal media komunikasi yang ia kuasai saat itu,
وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: ‘Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 51).
Dengan mengerahkan seluruh keahlian bernarasi, mengerahkan seluruh corong media yang ia kuasai, Fir’aun pun berhasil menyesatkan opini masyarakat. Ia berhasil menyihir rakyatnya sehingga rakyatnya tunduk patuh, taat, dan menjadi fans berat Fir’aun atas segala keindahan sihir narasi kampanyenya.
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 54).
معاشر المسلمين رحمكم الله
Inilah Fir’aun laknatullah ‘alaih. Sosok thagut yang berkuasa dengan penuh kepongahan. Dengan memanfaatkan kelicikan narasi dan kekuasaan atas seluruh media komunikasi, ia sesatkan rakyatnya.
Inilah Fir’aun, di mana Allah ‘azza wajalla mengutus Musa asdan Harun as untuk mendakwahinya dengan melakukan kontra narasi yang sangat baik. Allah Subhanahu wa ta’ala berpesan kepada Nabi mulia ini,
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)
Strategi narasi dakwah yang digunakan oleh Musa as dan Harun as adalah narasi yang positif secara intonasi dan konten. Namun, kekafiran Fir’aun yang menganggap dirinya memiliki kemampuan Tuhan, menjadikan narasi positif itu mental dan tertolak. Hatinya terlalu keras untuk menerima kebenaran.
Sungguh strategi yang sangat menarik, saudaraku sekalian. Melalui potret perang narasi antara Musa as dan Fir’aun, Allah ‘azza wajalla ingin menunjukkan betapa buruknya karakter thagut itu. Begitu kerasnya hati pemilik karakter thagut itu, sampai-sampai sentuhan dengan bahasa yang halus dan lembut pun tak dapat meluluhkannya!
Allah Subhanahu wa ta’alaingin menunjukkan kepada hamba-Nya bahwa seperti itulah sifat thagut itu. Selalu saja akan menolak ajakan kembali kepada peribadatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala menolak ajakan kembali kepada syariat Allah Subhanahu wa ta’ala selalu menolak jika diseru untuk menegakkan hukum Allah Subhanahu wa ta’ala dalam bingkai kekuasaan.
Perang narasi pun berlanjut. Fir’aun laknatullah ‘alaih mencoba menjatuhkan wibawa Musa as dan menempelkan citra negatif pada dirinya di hadapan publik dengan membangun narasi yang memanfaatkan celah level strata sosial dan kondisi ekonomi nabi Musa. Fir’aun laknatullah ‘alaih berkata,
أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ
“Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?” (QS. Az-Zukhruf: 52)
Kemudian Fir’aun memperkuat serangan narasinya dengan membalikkan fakta, menyesatkan opini, yang dibalut dengan narasi yang begitu memukau bagi pikiran rakyatnya.
ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ
“Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Mukmin: 26).
Narasi itu pula yang dijadikan Fir’aun sebagai argumentasi agar diterima logika publik untuk melakukan kriminalisasi, penangkapan, dan eksekusi mati terhadap Musa as.
Nabi Musa as yang pada faktanya berdakwah dengan penuh kesantunan dan kelembutan, difitnah sebagai manusia hina yang layak untuk dikriminalisasi dan dibunuh. Sementara Fir’aun penguasa yang pada faktanya suka membunuh anak-anak dan bayi yang lahir dan mengaku-aku sebagai Tuhan, justru mengopinikan diri sebagai sosok yang baik dan berjasa.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Perseteruan antara al-Haq dan al-Bathil yang tergambar dalam kisah Musa as melawan tirani Firaun pun berlanjut.
Serangan Fira’un kepada Musa as yang diawali dengan perang narasi pun berkembang ke arah serangan dengan senjata. mengerahkan para penyihir professionalnya untuk mempertontonkan kekalahan Musa as di hadapan rakyat.
وَجَاءَ السَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوا إِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ
“Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Firaun mengatakan: ‘(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?’” (QS. Al-A’raf: 113).
قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
“Fir’aun menjawab: ‘Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)’.” (QS. Al-A’raf: 114).
Namun, jauh-jauh hari Allah Subhanahu wa ta’ala telah membekali nabi Musa as dengan mukjizat yang tak dimiliki oleh Fir’aun. Mukjizat inilah yang menjadi senjata Musa as untuk melawan balik serangan dari tirani Firaun laknatullah ‘alaih.
Maka, bertemulah dua kelompok yang saling berseteru. Sekelompok berada di barisan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, sekelompok lain berada di barisan setan.
Para penyihir Fir’aun mengeluarkan ular-ular dengan sihirnya. Dengan harapan, ular-ular ini akan memangsa Musa as dan Harun as.
Namun, di luar prediksi seluruh penyihir Fir’aun laknatullah ‘alaih, ternyata tongkat yang dibawa Musa as ke mana pun ia pergi itu, dengan kuasa Allah Subhanahu wa ta’ala dapat berubah menjadi ular yang sangat besar dan menelan ular-ular para penyihir itu.
Para penyihir pun kaget dan takut. Fir’aun laknatullah ‘alaih pun kaget. Dari mana Musa as mendapatkan kemampuan yang cukup dahsyat itu?
Fir’aun dan para penyihir mulai tampak kalah. Mereka tidak tahu akan mukjizat Allah Subhanahu wa ta’ala kepada nabi-Nya. Kedustaan mereka terhadap Musa as menjadi petunjuk nyata akan kebodohan mereka.
Musa as bukanlah penyihir. Musa as hanyalah seorang hamba Allah Subhanahu wa ta’ala yang diutus untuk menyampaikan risalah tauhid dan menegakkan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala di kalangan kaumnya. Seluruh kelebihan yang ada pada diri Musa as adalah mukjizat. Anugerah dari Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai bantahan telak yang akan melemahkan kekuatan kebatilan yang dibawa oleh musuh-musuhnya.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Setelah merasa takjub dengan aksi yang dipertontonkan Musa as, dan melihat kenyataan kekalahan mereka, akhirnya mereka pun langsung menyungkur sujud dan berkata,
آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَىٰ
“Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.” (QS. Thaha: 70).
وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ
“Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.” (QS. Al-A’raf: 120).
قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Rabb semesta alam.’” (QS. Al-A’raf: 121).
رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
“(yaitu) Rabbnya Musa dan Harun.” (QS. Al-A’raf: 122).
Lihatlah saudaraku sekalian. Para penyihir bayaran Fir’aun akhirnya takluk dan menyerah kepada Musa as. Menyadari sihir mereka telah kalah, dan melihat kedahsyatan senjata yang dimiliki Musa as. akhirnya mereka tanpa basa-basi, tanpa meminta syarat upah sebagaimana yang mereka ajukan kepada Fir’aun، tanpa menoleh kepada Fir’aun, mereka langsung menyatakan beriman kepada Rabb yang telah menganugerahi Musa as dengan senjata berupa mukjizat yang sangat menakjubkan itu.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Melihat pembelotan para penyihir itu, Fir’aun pun tambah geram kepada Musa as. Tanda-tanda kekalahan hegemoni Fir’aunmulai tampak nyata di hadapan publik saat itu. Fir’aun telah dikhianati oleh para penyihirnya.
Karakter thagut yang ada dalam diri Fir’aun pun muncul. Ia tidak terima dengan sikap para penyihirnya yang telah membelot tanpa seizin majikannya.
قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ
“Berkata Fir’aun: ‘Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian.” (QS. Thaha: 71).
Namun, sekali lagi tampak kebodohan Fir’aun di hadapan publik. Ia tidak sadar, orang yang telah beriman kepada AllahSubhanahu wa ta’ala artinya ia telah pasrah sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Segala ketundukan hanya diberikan kepada Allah. Karena AllahSubhanahu wa ta’ala lah yang Maha Menguasai segalanya.
Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus: 100).
Dalam ayat lain Allah berfirman,
إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” (QS. Thaha: 73)
Begitulah gambaran keimanan yang sebebnarnya. Sekali Allah Subhanahu wa ta’ala hujamkan iman dalam hati manusia, maka ia akan tunduk, patuh, taat secara totalitas kepada Allah Subhanahu wa ta’ala Sebab, ia dengan keimanan itu ia telah menjadi sadar bahwa tiada Ilah yang Haq untuk disembah dan diibadahi kecuali hanya Allah Subhanahu wa ta’ala semata.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Kisah pun berlanjut. Fir’aun marah besar. Ia pun akhirnya mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memusnahkan Musa as dan para pengikutnya dari muka bumi ini.
Terdetik dalam hati Musa as sedikit rasa takut. Bagaimana tidak takut? Sebagai manusia biasa, melihat kekuatan adikuasa yang begitu dahsyat mulai totalitas menyerang dirinya yang tak memiliki senjata dan sistem pertahanan perang.
Fir’aun mengerahkan seluruh sumber daya perangnya untuk memburu Musa as. Karena bagi Fir’aun, Musa as dan para pengikutnya adalah sekelompok yang dianggap teroris itu yang mencoba menggulingkan kekuasaan dengan syari’at Allah yakni syari’at Iskam.
Musa as dengan ajaran tauhidnya adalah dianggap sebagai pemberontak yang mencoba menggerogoti kekuasaan Fir’aun. Musa as adalah ancaman bagi kerajaan Fir’aun karena mempromosikan ajakan untuk menegakkan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala Musa as harus dikriminalisasi karena telah mempromosikan kalimat tauhid : لا اله الا الله
(laa ilaaha illallah).
Sehingga Musa as harus dikriminalsisasi, ditangkap, lalu dijatuhi hukuman mati, atau dibunuh saat medang perang berkecamuk.
معاشر المسلمين رحمكم الله
namun apa yang terjadi?
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128).
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
“Allah berfirman: ‘Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat’.” (QS. Thaha: 46).
معاشر المسلمين رحمكم الله
Janji Allah Subhanahu wa ta’alaadalah benar. Janji Allah Subhanahu wa ta’ala adalah nyata. Sekali lagi Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan bantuan langsung kepada nabi Musa as dan para pengikutnya.
Saat nabi Musa as dan para pengikutnya terdesak di tepi laut yang begitu luas dan dalam, AllahSubhanahu wa ta’ala memerintahkan Musa as untuk melemparkan tongkatnya ke laut. Lalu laut pun terbelah membentuk seruas jalan seolah menyambut kedatangan Musa as dan para pengikutnya untuk segera menyeberangi laut tersebut.
Lalu, Musa as dan para pengikutnya bergegas menyeberangi laut itu. Tak lama kemudian, tampak Fir’aun dan seluruh brigade pasukannya dari kejauhan. Mereka pun ikut menyeberangi lautan itu.
Namun, Alllah SUBHANAHU WA TA’ALAyang Maha Kuasa. Saat Musa as dan pengikutnya telah sampai di seberang laut, sementara Fir’aun dan pasukannya masih berada di tengah-tengah samudera, tiba-tiba belahan laut itu menyatu kembali.
الله اكبر
Allah SUBHANAHU WA TA’ALA tenggelamkan Fir’aun dan seluruh pasukannya di tengah laut itu.
inilah wujud nyata pertolongan Allah SUBHANAHU WA TA’ALAkepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kontributif berpartisipasi dalam upaya menegakkan syariat Allah SUBHANAHU WA TA’ALA di muka bumi.
Inilah akhir jalan kebatilan yang dibanggakan oleh Firaun sang Thagut penentang Allah SUBHANAHU WA TA’ALA.
Semoga Allah SUBHANAHU WA TA’ALAsenantiasa menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang mendapat bagian dalam upaya menegakkan agama Allah SUBHANAHU WA TA’ALA di muka bumi ini. Dan melindungi kita dan agama ini dari segala bentuk makar kebatilan yang senantiasa digulirkan oleh musuh-musuh Allah SUBHANAHU WA TA’ALA.
بارك الله إلى ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته أنه هو السميع العليم.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua:
الحمد لله رب العالمين وله نستعين على أمور الدنيا والدين. اشهد ان لا اله الا الله الملك الحق المبين، واشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله الصادق وعد الأمين.
الصلات والسلام على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد :
معاشر المسلمين رحمكم الله
Maka, di siang hari yang penuh barakah ini, marilah kita periksa kembali diri kita. Apakah keimanan kita telah kuat untuk menghadapi tantangan kebatilan di sekitar kita? Apakah keimanan kita telah menggerakkan raga ini untuk senantiasa menegakkan syariat AllahSubhanahu wa ta’ala?
Jika jawabannya adalah belum, maka tugas utama kita adalah mempertebal keimanan kita, meningkatkan kemampuan takwa kita kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA, dengan serius mempelajari agama Islam, lalu mengamalkannya, lalu mendakwahkannya, lalu teguh dan sabar di atas semua aktivitas itu.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Karena Syariat Islam itu menembus batas seluruh aspek kehidupan. Syariat Islam itu tidak hanya sekedar tata cara dan do’a masuk kamar mandi, tidak hanya sekedar urusan shalat, zakat, shaum, Haji. Syariat Islam itu tidak hanya sekedar memperbaiki adab dan akhlak, tidak sekedar urusan do’a dan dzikir.
Tapi, syariat Islam itu menyeluruh di semua aspek kehidupan manusia. Seruan untuk menegakkan syariat Islam itu berlaku di seluruh bidang kehidupan; ekonomi, politik, sosial, budaya, dari urusan pribadi hingga urusan sosial masyarakat di seluruh muka bumi ini.
Pertentangan antara al-Haq dan al-Bathil akan terus berlangsung hingga hari kiamat tegak.
Maka, pilihannya, akankah kita menempatkan diri di barisan para pengusung kebatilan (fir’aunisme) yang selalu berupaya menentang tegaknya syariat Allah SUBHANAHU WA TA’ALA atau menempatkan diri di barisan para pembawa panji al-Haq yang akan terus dan tanpa lelah mendakwahkan tauhid dan menegakkan syariat Allah SUBHANAHU WA TA’ALA(Musaisme).
ان الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما.
اللهم صل وسلم وبارك امين يا رب العالمين
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الاحياء منهم والاموات انك سميع قريب مجيب الدعوات ويا قاضي الحاجات ويا رافع الدرجات ويا شافي الأمراض ويا دافع البليات. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمنًا مُطْمَئِنًّا قَائِمًا بِشَرِيْعَتِكَ وَحُكْمِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
عباد الله…