BANDUNG, Kanal Berita – Perguruan beladiri KJI (Koporyu Jujitsu Indonesia) dan Women Self Defense of Koporyu (WSDK) akan menggelar kegiatan Gasshuku (latihan bersama) dan ujian kenaikan tingkat sabuk hitam (DAN) Nasional pada 23-24 November 2024 mendatang.
Kegiatan yang akan mengambil lokasi di bumi perkemahan Rainbow Riverside, Maribaya, Lembang, Kabupaten Bandung itu, akan diikuti para anggota dari berbagai daerah di Tanah Air, seperti Medan, Jambi, Papua, Mojokerto, Surabaya, dan Jakarta.
Ketua Pelaksana Gasshuku Nasional dan Ujian Sabuk Hitam, Zallu Alraja Dilaga mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja Ketua Dewan Guru dan Pengurus Besar (PB) KJI, sesuai amanah AD ART KJI.
“Selain ajang silaturahmi, kegiatan ini tentu menjadi momentum dalam upaya penguatan masing-masing anggota, baik teknik maupun hal yang sifatnya non teknik. Akan hadir para anggota KJI dan WSDK dari berbagai daerah,” ujarnya dihubungi di Bandung, Ahad (20/10/2024)
Sementara itu, Ketua Umum PB KJI H. Ahmad Taufik M.Eng.,Ph.D mengatakan kegiatan Gasshuku dan Ujian Kenaikan Tingkat Sabuk Hitam merupakan sarana untuk memperkuat soliditas di antara anggota sabuk hitam serta pembibitan generasi-generasi sabuk hitam KJI di masa akan datang.
“Peserta yang direkomendasikan mengambil tingkatan dari sabuk cokelat ke sabuk hitam adalah mereka yang pernah mengikuti kejuaraan minimal di daerah maupun internasional. Ini jadi salah satu persyaratan,” ujarnya.
Dikatakan Taufik, pada pelaksanaan ujian kenaikan sabuk hitam kali ini hanya dibatasi hingga tingkatan DAN 3 saja. “KJI berusaha menjaga marwah seperti apa yang diamanatkan pendiri KJI, Kancho Sofyan, bahwa tingkatan DAN harus selaras dengan keilmuan dan karakter seorang praktisi beladiri, khususnya anggota KJI. Jangan hanya sekadar mengejar tingkatan DAN tinggi tanpa diimbangi dengan kemampuan diri. Itu pesan pendiri kita,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Guru PB KJI, Firman Monardi mengatakan kegiatan Gasshuku ini juga menjadi ajang penguatan materi para anggota Sabuk Hitam dalam memahami sanad (ryuha) keilmuan KJI yang tersambung dengan keilmuan aliran beladiri Konshinryu Juhojutsu.
“Sebagai aliran beladiri Jujitsu, KJI berafiliasi pada sanad keilmuan yang diciptakan praktisi beladiri asal Jepang, Sanasuke Oeshima di tahun 1930-an.”
Menuru Firman, di Indonesia, aliran beladiri ini diperkenalkan oleh muridnya, yang juga praktisi beladiri asal Jepang bernama Matsuzaki pada tahun 1966, tepatnya di Kota Bandung.
“Pendiri Dojo Kopo, Mayor Anang Alibasyah, dan putranya, Kancho Sofyan Hambally, adalah murid langsung dari Matsuzaki. Kancho Sofyan yang kemudian mewarisi keilmuan jujitsu itu melalui wadah organisasi KJI,” jelas Firman.