KANALBERITA.COM – Fenomena siaran langsung di platform TikTok kembali menjadi sorotan publik menyusul keluhan dari para pedagang pasar tradisional mengenai penurunan omzet yang drastis. Aktivitas promosi produk dengan diskon besar-besaran melalui fitur live shopping dinilai telah secara fundamental menggeser kebiasaan berbelanja masyarakat.
Dalam berbagai unggahan video yang menjadi viral di media sosial, terlihat bagaimana penjual di TikTok Shop Live mampu meraup ratusan hingga ribuan transaksi hanya dalam hitungan jam.
Strategi seperti penawaran flash sale, interaksi langsung dengan audiens, serta pemanfaatan jasa influencer terbukti ampuh dalam mendongkrak angka penjualan secara pesat.
Namun, di sisi lain, para pelaku usaha di pasar konvensional mengaku menghadapi tantangan berat untuk bersaing.
Persaingan Ketat dengan Harga Murah
Mereka menilai bahwa harga yang ditawarkan dalam sesi siaran langsung sering kali jauh lebih kompetitif. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk subsidi dari platform, promosi khusus, dan jalinan kerja sama langsung dengan produsen besar.
“Sekarang pembeli banyak yang lihat barang di sini, tapi belinya online karena lebih murah,” ujar salah seorang pedagang dalam sebuah video yang beredar luas, menggambarkan pergeseran perilaku konsumen.
Fenomena ini tidak hanya memicu diskusi seputar kemajuan teknologi, tetapi juga menyoroti isu distribusi kekuatan ekonomi dalam sektor perdagangan. Platform seperti ByteDance, sebagai pemilik TikTok, dipandang memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan siapa yang meraih keuntungan dalam ekosistem digital.
Melalui mekanisme algoritma dan fitur promosi yang terarah, platform tersebut dapat memprioritaskan visibilitas produk tertentu di atas yang lain. Akibatnya, persaingan tidak lagi semata-mata berlangsung antarpenjual, melainkan turut dipengaruhi oleh sistem yang dimiliki oleh platform itu sendiri.
Selain itu, integrasi konten, hiburan, dan aktivitas transaksi dalam satu aplikasi membuat garis antara media dan pasar menjadi semakin kabur. Pengguna tidak hanya menonton, tetapi juga dapat langsung melakukan pembelian produk yang ditampilkan secara real-time.
Pemerintah sebelumnya telah menunjukkan perhatian terhadap praktik ini dan berupaya menyusun kerangka regulasi baru untuk perdagangan digital, dengan fokus pada perlindungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta penciptaan pasar yang adil. Namun, laju perkembangan teknologi yang pesat sering kali membuat upaya regulasi tertinggal.
Para pengamat menilai fenomena ini merefleksikan perubahan substansial dalam lanskap media dan ekonomi. Platform digital kini tidak hanya berperan sebagai perantara, melainkan menjelma menjadi aktor utama yang mengendalikan arus informasi sekaligus transaksi.
Hingga kini, perdebatan masih terus bergulir antara pihak yang melihat live shopping sebagai peluang ekonomi baru dan mereka yang menganggapnya sebagai ancaman bagi keberlangsungan usaha tradisional. Terlepas dari itu, tren ini menegaskan bahwa kekuatan media digital kini tidak hanya membentuk persepsi publik, tetapi juga secara langsung memengaruhi cara mereka berbelanja.









