JAKARTA, Kanal Berita – – Persoalan lama yang terus berulang kembali menjadi sorotan: perbedaan penetapan 1 Ramadan sebagai tanda dimulainya ibadah puasa, serta 1 Syawal sebagai penanda berakhirnya Ramadan dan tibanya Idul Fitri, seolah tidak pernah tuntas dari tahun ke tahun. Kondisi ini mendorong Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH Athian Ali M. Da’i, Lc, MA, untuk angkat suara dan mengajak seluruh pihak — mulai dari pemerintah hingga organisasi kemasyarakatan Islam — duduk bersama dan mengakhiri perdebatan klasik yang dinilai tidak memberikan manfaat apa pun bagi umat.
Ego Kelompok dan Fanatisme Jadi Akar Masalah
KH Athian Ali menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi umat Islam Indonesia yang hingga kini belum mampu mewujudkan persatuan sejati atau ukhuwah islamiyah, meski secara statistik mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim. Menurutnya, persoalan perbedaan awal Ramadan dan Syawal bukan semata-mata persoalan teknis penentuan kalender Hijriah, melainkan bersumber dari masalah yang jauh lebih mendasar pada tataran sikap dan mental.
“Menurut saya salah satu penyebab tidak terciptanya persatuan khususnya dalam penentuan 1 Ramadhan atau 1 Syawal antara Pemerintah dan Ormas Islam itu karena adanya unsur dan sikap ananiah yakni sikap egois atau keakuan, di mana lebih mengutamakan kepentingan diri atau kelompoknya dari kepentingan umat,” terang KH Athian Ali.
KH Athian juga menyebut sikap fanatisme kelompok atau ashabiyah sebagai faktor yang turut memperkeruh situasi. Ia mengakui bahwa perbedaan pendapat dalam persoalan-persoalan fikih yang bersifat cabang atau furuiyah adalah sesuatu yang wajar dan dapat ditoleransi, asalkan masing-masing pihak bersikap saling menghormati atas hasil ijtihad yang berbeda. Namun dalam soal penetapan awal bulan Hijriah, KH Athian menegaskan bahwa perbedaan itu seharusnya tidak perlu terjadi.
Tidak Masuk Akal jika Perbedaan Terjadi dalam Satu Kota
KH Athian memberikan argumen yang sangat lugas dari sisi logika sederhana. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin dalam satu kota yang sama, di mana matahari terbit dan terbenam pada waktu yang persis sama, bulan bisa seolah-olah muncul pada waktu yang berbeda. Kota Bandung ia jadikan ilustrasi: jika waktu terbit dan tenggelamnya matahari identik bagi seluruh warganya, maka terbitnya hilal pun semestinya tidak berbeda.
“Kan secara logika mustahil 1 Ramadhan atau 1 Syawal bisa terjadi di sebuah tempat atau satu kota atau satu daerah bulan muncul dua kali padahal Matahari terbit dan terbenam dalam waktu yang sama. Misalnya kita ambil contoh di Bandung. Kan matahari terbit dan terbenam bersamaan. Jadi tidak masuk akal sehat, ketika terbit dan terbenam matahari itu sama tapi terbitnya bulan berbeda,” jelas KH Athian Ali .
Ia memandang bahwa perbedaan dengan negara-negara Timur Tengah masih dapat dipahami secara rasional, mengingat selisih waktu antara Indonesia dan kawasan tersebut mencapai empat hingga lima jam. Namun jika perbedaan itu terjadi dalam satu kota, bahkan dalam satu keluarga, maka hal itu tidak lagi bisa dibenarkan secara ilmiah bahkan aksk sehat siapapun.
“Maka jangan pernah ditutup-tutupi lagi masalah ini. Kecuali harus kita nyatakan salah satu pasti salah. Atau dua-duanya salah. Yang tidak mungkin dua-duanya benar. Jadi kalau kemudian umat itu merasa bingung, ya wajar,” imbuh KH Athian .
Perbedaan Bukan Rahmat jika Memecah belah umat
KH Athian juga meluruskan ungkapan yang kerap dijadikan tameng untuk membenarkan perbedaan ini, yakni klaim bahwa perbedaan di antara umat adalah rahmat. Ia menegaskan bahwa ungkapan tersebut bukan hadis Nabi, melainkan hanyalah perkataan ulama atau orang bijak, sehingga tidak bisa dijadikan dalil pembenaran atas situasi yang justru menimbulkan kebingungan dan perpecahan di tubuh umat.
“Bagaimana mungkin perbedaan itu Rahmat? Jika dalam satu keluarga saja ada yang memulai dan mengakhiri Ramadhan tidak sama. Suami yang sudah berhari raya menyalahkan istrinya yang masih shaum telah berbuat yang haram karena berpuasa di hari raya. Sementara si isteri tidak mau kalah dengan menuduh suaminya juga berbuat haram karena tidak shaum yang membuat shaum Ramadhannya tidak sempurna karena kurang satu hari. Perbedaan bahkan pertikaian seperti ini tentu saja sangat tidak layak jika dianggap rahmat,” ungkap KH Athian
Yang Lain Sudah Mendarat di Bulan, tapi Umat Islam Belum Bisa Sepakat Soal Awal Bulan
Dengan nada yang penuh keprihatinan sekaligus sindir halus, KH Athian menggambarkan betapa ironis kondisi umat Islam Indonesia di hadapan kemajuan ilmu pengetahuan dunia. ” Di saat manusia modern telah menjejakkan kaki di permukaan bulan dan mulai menjajaki planet-planet lain , umat Islam di Indonesia justru masih belum mampu menyatukan kesepakatan dalam hal yang jauh lebih sederhana: menentukan kapan bulan baru dalam kalender Hijriah dimulai.
Malu kita dilihat orang di luar Islam. Orang lain katanya sudah mendarat di bulan . Kita malah belum bisa menentukan awal bulan. Padahal umat Islam punya para astronom atau ahli falak dari berbagai ormas Islam maka bersatu dan bersepakat membuat satu Keputusan, itu lebih bijak daripada selalu ngotot dengan prinsip masing-masing,” terang KH Athian Ali.
KH Athian menutup pernyataannya dengan sebuah peringatan serius “Jika tidak ada semangat untuk bersatu dan masing-masing pihak tetap berpegang teguh mempertahankan pendapatnya sebagai yang paling benar, maka persoalan ini tidak akan pernah selesai hingga kapan pun. Ia menyerukan agar seluruh elemen umat Islam — para ahli falak dari berbagai ormas dan pemerintah — segera duduk bersama dengan niat dan tekad menemukan kesepakatan, jika perlu mengorbankan prinsip ijtihadnya jika pihak lain siap mempertanggung-jawabkan hasil ijtihadnya dunia akhirat , demi maslahat yang lebih utama terciptanya persatuan umat mengakhiri polemik tahunan ini,” pungkas KH Athian Ali. [ ]










