KANALBERITA.COM – Munculnya kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor industri telah memicu kekhawatiran mengenai masa depan tenaga kerja manusia. Laporan terbaru memprediksi bahwa robot AI tidak hanya akan menggantikan posisi manusia, tetapi juga mendominasi populasi pekerja dalam beberapa dekade mendatang.
“Kita memiliki sistem kepemimpinan dalam ekonomi dan bisnis yang mengutamakan profitabilitas,” kata Garlick yang juga menggarisbawahi bagaimana prioritas finansial perusahaan secara langsung memengaruhi integrasi teknologi otomatisasi.
Pergeseran Tenaga Kerja Terbesar dalam Sejarah Modern
Menurut Garlick, kemajuan pesat dalam teknologi AI diperkirakan akan memicu pergeseran tenaga kerja terbesar dalam sejarah modern. Kemampuan robot AI yang dinilai mampu melakukan tugas lebih banyak, lebih baik, dan dengan biaya lebih rendah dibandingkan manusia menjadi faktor utama prediksi ini.
Sebuah laporan dari Citi pada tahun 2024 memproyeksikan jumlah robot AI akan mencapai 1,3 miliar unit pada tahun 2035. Angka ini diprediksi akan melonjak signifikan hingga melebihi 4 miliar unit pada tahun 2050, yang berarti jumlah robot akan melampaui populasi tenaga kerja manusia jika ditambah dengan agen AI digital.
Robot AI yang dimaksud mencakup berbagai bentuk, mulai dari robot humanoid, robot rumah tangga, hingga kendaraan otonom. Minat terhadap teknologi ini terus meningkat karena menawarkan peningkatan efisiensi operasional yang signifikan dengan penurunan biaya yang drastis dibandingkan mempekerjakan tenaga manusia.
Beberapa perusahaan multinasional terkemuka seperti Amazon, Salesforce, Accenture, Heineken, dan Lufthansa dilaporkan telah mulai mengintegrasikan AI untuk menggantikan ribuan posisi pekerjaan sebagai bagian dari transformasi bisnis mereka. Data dari firma konsultan Challenger, Gray & Christmas mencatat bahwa AI telah memicu hampir 55.000 kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat sepanjang tahun 2025.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menggambarkan dampak AI terhadap pasar tenaga kerja seperti sebuah “tsunami”. Ia menambahkan bahwa mayoritas negara dan bisnis belum siap menghadapi gelombang perubahan ini.














