KANALBERITA.COM – Sebuah studi berskala besar yang melibatkan 16.000 peserta sehat menemukan bahwa gejala aterosklerosis atau penyumbatan arteri dapat terjadi jauh lebih awal dari perkiraan medis sebelumnya. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal The New England Journal of Medicine pada 1 Oktober 2026, yang menyoroti perlunya deteksi dini penyakit kardiovaskular.
Penelitian yang dipimpin oleh para ahli dari Centro Nacional de Investigaciones Cardiovasculares (CNIC) Spanyol dan Rigshospitalet Denmark ini mengungkap bahwa sekitar 1 dari 13 orang dalam rentang usia 18 hingga 29 tahun telah memiliki plak di dalam arteri mereka. Kondisi ini sering kali bersifat diam tanpa menimbulkan gejala klinis yang nyata.
Secara keseluruhan, sebanyak 57,1 persen dari total peserta penelitian yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung justru menunjukkan tanda-tanda aterosklerosis melalui pencitraan medis. Kondisi ini menegaskan bahwa proses penyumbatan pembuluh darah sering kali berkembang selama puluhan tahun sebelum akhirnya memicu serangan jantung atau stroke.
Terkait temuan ini, Dr. Borja Ibáñez menyatakan bahwa model pencegahan saat ini perlu bergeser dari sekadar estimasi risiko berbasis kolesterol atau tekanan darah menuju deteksi langsung menggunakan pencitraan medis sebelum gejala muncul. Pernyataan tersebut disampaikan pada sesi Hot Line di ajang ESC Congress 2026.
Pentingnya Deteksi Dini
Dalam upaya mendeteksi penyakit lebih akurat, peneliti mengusulkan penggunaan perangkat ultrasound portabel sebagai standar skrining yang lebih efisien dan non-invasif. Metode ini dinilai lebih mampu menangkap keberadaan plak pada arteri karotis atau femoralis dibandingkan hanya mengandalkan perhitungan skor risiko konvensional.
Studi yang dikenal dengan nama proyek REACT ini juga menemukan perbedaan pola perkembangan penyakit antara pria dan wanita. Pada pria, prevalensi plak cenderung meningkat lebih awal, sementara pada wanita terjadi lonjakan signifikan antara usia 40 hingga 60 tahun yang bertepatan dengan masa transisi menopause.
Hasil penelitian ini nantinya akan menjadi dasar bagi fase kedua proyek REACT yang direncanakan berlangsung pada 2027 hingga 2032. Tim peneliti bertujuan untuk menguji apakah intervensi preventif yang dipandu oleh hasil pencitraan medis dapat mengurangi beban penyakit kardiovaskular secara sistemik di masa depan.
Wartawan senior yang masih aktif menulis dan pernah bekerja di media nasional KOMPAS.COM







