Ilustrasi Frozen Food
JAKARTA, KANALBERITACOM– Siapa yang tidak kenal dengan frozen food atau makanan beku? Nugget ayam, sosis, kentang goreng, hingga dimsum beku sudah menjadi sahabat setia di dapur modern. Kepraktisan menjadi alasan utama mengapa makanan beku sangat populer di kalangan masyarakat urban yang sibuk. Tinggal panaskan sebentar, makanan siap disantap!
Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan berbagai risiko kesehatan yang perlu kita waspadai. Mari kita kupas tuntas dampak konsumsi frozen food terhadap tubuh dan bagaimana cara menyiasatinya.
Gaya hidup modern menuntut segala sesuatu berlangsung serba cepat. Frozen food hadir sebagai solusi praktis untuk kebutuhan makan sehari-hari. Dengan masa simpan yang lama dan proses memasak yang singkat, makanan beku menjadi pilihan favorit keluarga sibuk.
Industri makanan beku terus berkembang pesat di Indonesia. Berbagai merek berlomba-lomba menciptakan produk dengan cita rasa yang menggugah selera. Sayangnya, tidak semua frozen food diproduksi dengan standar kesehatan yang optimal.
Sebagian besar makanan beku mengandung natrium dalam jumlah tinggi. Produsen menambahkan garam berlebih untuk mengawetkan makanan dan memberikan rasa yang lebih gurih. Konsumsi sodium berlebih dapat memicu hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
Seporsi nugget ayam beku (100 gram) rata-rata mengandung 400-600 mg sodium. Padahal, kebutuhan sodium harian orang dewasa hanya sekitar 2.300 mg. Bayangkan jika kita mengonsumsi beberapa jenis frozen food dalam sehari!
Makanan beku umumnya menggunakan berbagai zat pengawet untuk memperpanjang masa simpan. Beberapa pengawet seperti nitrat dan nitrit berpotensi membentuk senyawa karsinogenik dalam tubuh. Konsumsi jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker usus besar.
Banyak frozen food mengandung trans fat dan lemak jenuh tinggi akibat proses penggorengan atau penambahan minyak hidrogenasi. Lemak jahat ini dapat menyumbat pembuluh darah, meningkatkan kolesterol LDL (kolesterol jahat), dan memicu penyakit kardiovaskular.
Proses pembekuan dan pengolahan makanan dapat mengurangi kandungan vitamin, mineral, dan serat. Vitamin C, vitamin B kompleks, dan antioksidan alami mudah rusak selama proses produksi. Akibatnya, frozen food cenderung rendah nutrisi dibandingkan makanan segar.
Frozen food umumnya tinggi kalori namun rendah serat dan protein berkualitas. Kombinasi ini membuat kita cepat lapar kembali setelah makan. Kebiasaan mengonsumsi makanan beku dapat memicu penambahan berat badan berlebih dan obesitas.
Kurangnya serat dalam frozen food dapat mengganggu sistem pencernaan. Sembelit, sindrom iritasi usus, dan ketidakseimbangan mikrobiota usus sering dialami oleh konsumen rutin makanan beku.
Kandungan sodium tinggi dalam frozen food menjadi bom waktu bagi kesehatan jantung. Konsumsi rutin dapat memicu hipertensi, bahkan pada usia muda. Hipertensi yang tidak terkontrol berpotensi menyebabkan serangan jantung dan stroke.
Makanan olahan seperti frozen food dapat memicu lonjakan gula darah yang tidak stabil. Kondisi ini memaksa pankreas bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Dalam jangka panjang, tubuh dapat mengalami resistensi insulin yang berujung pada diabetes tipe 2.
Selalu periksa komposisi dan informasi nilai gizi sebelum membeli. Pilih produk dengan kandungan sodium rendah (kurang dari 200 mg per 100 gram) dan tanpa pengawet berbahaya seperti MSG berlebih.
Jadikan frozen food sebagai makanan darurat, bukan menu harian. Batasi konsumsi maksimal 2-3 kali per minggu untuk mengurangi paparan zat berbahaya.
Saat mengonsumsi frozen food, tambahkan sayuran segar seperti tomat, timun, atau daun selada. Sayuran akan memberikan serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Hindari menggoreng frozen food dengan minyak berlebih. Gunakan metode memanggang, mengukus, atau air fryer untuk mengurangi tambahan lemak tidak sehat.
Jangan terlalu banyak mengonsumsi frozen food dalam sekali makan. Kombinasikan dengan nasi, roti gandum, atau kentang rebus untuk menciptakan menu yang lebih seimbang.
Luangkan waktu di akhir pekan untuk menyiapkan makanan rumahan yang bisa dibekukan sendiri. Potong sayuran, marinasi daging, atau buat sup sehat yang bisa dipanaskan sewaktu-waktu.
Pilih buah dan sayuran beku tanpa tambahan gula atau pengawet. Produk ini tetap mempertahankan nutrisi dan aman dikonsumsi sebagai alternatif praktis.
Cari produk frozen food organik atau yang diproduksi dengan standar kesehatan tinggi. Meskipun harganya lebih mahal, investasi ini akan menguntungkan kesehatan jangka panjang.
Frozen food memang menawarkan kemudahan, namun kita harus bijak dalam mengonsumsinya. Berbagai ancaman kesehatan seperti hipertensi, obesitas, dan gangguan pencernaan dapat muncul akibat kebiasaan mengonsumsi makanan beku berlebihan.
Kunci utamanya adalah keseimbangan dan kesadaran. Konsumsi frozen food sesekali tidak akan membahayakan kesehatan, asalkan kita tetap mengutamakan makanan segar dan bergizi dalam menu harian.
Ingat, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya. Mulailah dari sekarang untuk membuat pilihan makanan yang lebih sehat demi masa depan yang cerah!
Referensi:
KANALBERITA.COM - Dunia produksi video terus berevolusi, dan Google tak mau ketinggalan. Dengan peluncuran fitur-fitur baru…
Unjuk rasa (demonstrasi) merupakan salah satu bentuk ekspresi kolektif yang dilakukan untuk menyuarakan aspirasi, protes,…
BEKASI, KANALBERITA.COM - PT Jababeka Infrastruktur bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita…
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres dengan tegas mengecam serangan Israel pada Senin (25/8)…
BEKASI, KANALBERITA.COM — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita Bangsa (UPB) 2025 menggelar sosialisasi…
BEKASI, KANALBERITA.COM — Dalam rangka meningkatkan kemampuan pemasaran digital Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)…
This website uses cookies.