KANALBERITA.COM – Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Observatorium Bosscha menggelar pengamatan virtual Gerhana Bulan Total pada awal Maret 2026, menyajikan fenomena langit langka ini kepada publik secara daring bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Acara yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube tersebut berhasil menangkap momen-momen penting pergerakan Bulan meskipun kondisi langit Lembang sempat berawan.
Fenomena Gerhana Bulan Total sendiri merupakan peristiwa astronomi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus yang presisi. Akibatnya, Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (Umbra) Bumi, yang membuatnya tidak menerima cahaya Matahari secara langsung.
Salah satu aspek paling menarik dari gerhana ini adalah perubahan warna Bulan menjadi kemerahan, yang populer dengan sebutan Blood Moon. Perubahan warna ini bukanlah tanda mistis, melainkan hasil dari pembiasan cahaya di atmosfer Bumi.
“Warna merah ini terjadi karena atmosfer Bumi menghamburkan cahaya biru. Dan itu hanya menyisakan cahaya merah untuk diteruskan hingga jatuh ke permukaan Bulan,” jelas Dimas Gilang Ramadan, salah satu edukator Observatorium Bosscha. Tingkat kegelapan dan kecerahan warna merah ini diukur menggunakan Skala Danjon, yang dipengaruhi oleh kondisi atmosfer seperti tingkat polusi dan debu vulkanik.
Memaknai Gerhana dari Sisi Sains dan Humaniora
Sebagai institusi sains bersejarah, Observatorium Bosscha mengerahkan perangkat modern untuk menyajikan citra terbaik kepada masyarakat luas, termasuk mengirimkan data ke jaringan astronomi internasional Slooh Observatory. Di sisi lain, acara ini juga mengeksplorasi perspektif budaya terkait gerhana, mulai dari mitos Batarakala di Jawa dan Bali hingga tradisi suku Batamariba di Afrika yang menjadikan gerhana sebagai momen rekonsiliasi.
Momen ini menjadi sangat relevan karena bertepatan dengan bulan Ramadan dan mendekati perayaan hari besar keagamaan lainnya di Indonesia, membawa pesan persatuan di bawah langit yang sama. Bagi yang melewatkannya, fenomena Gerhana Bulan Total ini merupakan satu-satunya yang bisa diamati dari Indonesia pada tahun 2026. Kesempatan serupa baru akan datang kembali pada 31 Desember 2028 mendatang.












