Kanal Berita – – Kegembiraan berkumpul bersama keluarga masih terus mewarnai suasana dihari Raya Idul Fitri. Umat Islam di seluruh penjuru dunia, khususnya di Indonesia, menikmati momen kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah shaum Ramadan. Namun di balik semarak baju baru, hidangan lezat, dan suka cita yang lazim mewarnai lebaran, Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH Athian Ali M. Da’i, Lc, MA, mengingatkan umat Islam untuk tidak larut dalam kesenangan sendiri dan melupakan saudara-saudara mereka yang masih dirundung penderitaan.
Bergembira di Idul Fitri, Jangan Lupakan Gaza dan Korban Banjir Sumatera
“Saat kita merayakan Idul Fitri. saya mengajak diri sendiri dan kaum Muslimin, tolong jangan dilupakan keadaan saudara-saudara kita di Gaza Palestina. Mereka yang sudah kehilangan keluarga, anak kehilangan orangtua, orangtua kehilangan anak-anak dan bahkan tidak sedikit yang kehilangan seluruh keluarganya,” ajak KH Athian Ali
KH Athian mengajak seluruh kaum Muslimin untuk meluangkan sebagian rezeki yang dititipkan Allah kepada mereka demi membantu meringankan beban saudara-saudara yang tengah menderita, baik di Gaza, Palestina, maupun saudara-saudara di dalam negeri. Ia secara khusus menyebut para pengungsi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang hingga kini masih belum sepenuhnya pulih pascabanjir bandang yang melanda beberapa waktu lalu.
“Alhamdulillah kita di ANNAS bekerja sama dengan ITB masih terus berupaya membantu saudara-saudara kita di Aceh khususnya dalam menggarap pengadaan air bersih ,” ungkap KH Athian.

Kontras Menyentuh: Meja Mewah Bukber vs Saudara yang Kelaparan
KH Athian kemudian menggambarkan sebuah kontras yang menyayat hati di bulan Ramadhan yang lalu. Umat Islam di Indonesia, selama Ramadan, memilih menahan makan dan minum bukan karena ketiadaan makanan, melainkan sebagai wujud ibadah dan penghambaan diri kepada Allah. Hidangan tersedia berlimpah, menunggu waktu azan Magrib untuk segera disantap. Namun di belahan bumi lain, di Gaza, saudara-saudara mereka menjalani ‘puasa’ yang jauh berbeda — bukan hanya karena keimanan, melainkan juga karena ketiadaan makanan.
“Di bulan Ramadhan yang lalu, setelah adzan Maghrib kita akan segera dengan lahap memakan makanan yang ada. Sementara saudara-saudara kita nun jauh di sana masih harus melanjutkan shaum karena tidak ada yang dimakan. Bahkan sampai berhari-hari. Bahkan ada yang sampai meninggal karena kelaparan,” terang KH Athian.
Pemandangan di Hari Raya dengan berbaju baru dan makanan yang berlimpah turut menjadi sorotan KH Athian. Ia menilai fenomena tersebut belum sepenuhnya mencerminkan nilai ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya. Seharusnya, ibadah shaumn yang diantaranya mengajarkan kesabaran, kepedulian, meninggalkan jejak nyata dalam cara seseorang bersikap dan berperilaku, khususnya di Hari Raya
“ Diantara hikmah ibadah shaum Ramadhan, kita dilatih selama sebulan lamanya dalam mengendalikan hawa nafsu, melatih kita dalam bersabar, menanamkan dalam diri rasa peduli dan empati kepada sesama,” terang KH Athian.
Makna Zakat Fitrah: Proklamasi Agar Tak Ada yang Kelaparan di Hari Raya
KH Athian juga menyinggung dimensi spiritual dari kewajiban zakat fitrah, yang ia maknai jauh melampaui sekadar ritual tahunan. Mengutip hadis Rasulullah SAW, ia menjelaskan bahwa zakat fitrah adalah wujud nyata dari kehendak Allah agar di hari raya tidak ada seorang pun yang melewati hari tanpa makanan. Bahkan, ia merujuk pada pendapat Khalifah Umar bin Khattab yang menyatakan bahwa jika seluruh umat Islam di hari raya telah terpenuhi kebutuhan pangannya, maka zakat fitrah dapat diserahkan kepada fakir miskin non-Muslim sekalipun.
“Allah menghendaki, kata Rasulullah Saw, di hari raya itu jangan sampai ada orang yang tidak makan. Atas dasar prinsip ini Khalifah Umar bin Khatab berfatwa, jika di hari raya semua umat Islam sudah memiliki makanan yang bisa mereka makan. Maka zakat fitrah bisa diserahkan kepada fakir miskin yang bukan muslim. Ini semacam proklamasi bahwasanya di hari raya itu, jangan ada di bumi ini manusia yang kelaparan,” jelas KH Athian Ali.
Jauhi Flexing, Buktikan Ketakwaan dengan Kepedulian
Menutup pesannya, KH Athian mengajak seluruh kaum Muslimin untuk menahan diri dari kebiasaan pamer atau flexing di media sosial saat Idul Fitri . Memamerkan baju baru, koleksi barang mewah, atau hidangan berlimpah di tengah kondisi saudara-saudara yang masih berjuang bertahan hidup, dinilainya sebagai sikap yang kontradiktif dengan esensi puasa itu sendiri.
“Sebagaimana tujuan dari diwajibkannya ibadah shaum itu agar setiap mumin menjadi insan yang bertakwa. Maka di hari raya ini harus kita tunjukkan salahsatu kriteria takwa yaitu kepedulian kita terhadap nasib sesama. Kalau setelah shaum ketidak-perdulian kita pada nasib saudara kita itu sama dengan sebelum shaum, maka belum tercapai sepenuhnya hakikat shaum tersebut. Jangan-jangan masih termasuk pada hadits Rasul yang mengatakan alangkah banyaknya orang yang shaum namun hasilnya hanya sekedar ikut merasakan lapar dan dahaga,” tegas KH Athian.
Seruan KH Athian ini menjadi pengingat, bahwa Idul Fitri bukan semata pesta kemenangan pribadi, melainkan juga momentum untuk memperbarui komitmen sosial sebagai bagian dari umat yang satu. Ketakwaan yang sejati, tegasnya, akan selalu memancar dalam kepedulian yang nyata terhadap sesama, jauh melampaui sekadar kekhusyukan ritual yang berakhir di pintu masjid. [ ]














