KANALBERITA.COM – Senin pagi, 12 Januari 2026. Langit Jakarta masih berwarna abu-abu, sisa hujan semalam yang enggan pergi. Di sebuah warung kopi pinggir jalan kawasan Tebet, aroma kretek bercampur uap kopi sachet murahan. Di sanalah mereka berkumpul. Pasukan jaket hijau. Bukan pahlawan super, hanya bapak-bapak yang mencoba menyambung napas.
“Anyep, Mas. Hancur,” keluh Budi (bukan nama sebenarnya), matanya nanar menatap layar ponsel yang gelap. Tak ada notifikasi. Hening. Padahal jam sibuk baru saja lewat.
Inilah realitas Ojek Online (Ojol) hari ini. Di atas kertas, statistik ekonomi makro mungkin membaik, politisi di Senayan mungkin berbusa-busa soal “Pertumbuhan Ekonomi Digital”, tapi di aspal? Ceritanya lain. Di sini, di level jalanan, ekonomi gig bukan soal fleksibilitas atau kebebasan. Ini adalah perbudakan modern yang dibungkus rapi dengan pita algoritma.
Saya duduk bersama mereka, mendengarkan apa yang tidak tertangkap oleh rilis pers korporat.
Mitos Kemitraan yang Mematikan
Mari kita luruskan satu hal: kata “Mitra” adalah eufemisme paling kejam abad ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mitra berarti teman, kawan kerja, pasangan kerja yang setara. Tapi tanyakan pada Budi, atau ribuan pengemudi lain yang turun ke jalan pada demonstrasi besar Mei dan Juli 2025 lalu. Apakah mereka merasa setara?
“Setara apanya? Kalau kita mitra, kita punya hak suara. Ini enggak. Tarif diturunkan sepihak, bonus dihilangkan sepihak, akun disuspend sepihak. Kita ini bukan mitra, kita ini sapi perah,” ujarnya, nadanya meninggi.
Masih segar dalam ingatan kita, protes serentak 20 Mei 2025. Ribuan pengemudi mematikan aplikasi (*offbid*), melumpuhkan sebagian Jakarta dan Surabaya. Tuntutannya sederhana: transparansi. Mereka ingin tahu kemana larinya potongan yang kadang menyentuh lebih dari 20% itu.
Pemerintah memang merespons. Akhir tahun lalu, Kemenhub sibuk memfinalisasi aturan tarif baru lewat Perpres. Zona II (Jabodetabek) dipatok Rp 2.600 – Rp 2.700 per kilometer. Terdengar lumayan? Tunggu dulu.
Realitanya, potongan aplikator seringkali membuat angka itu semu. Belum lagi biaya layanan, biaya pemesanan, dan entah biaya apa lagi yang dibebankan ke konsumen tapi tidak menetes ke pengemudi. Konsumen membayar mahal, pengemudi menerima remah-remah. Aplikator? Menang banyak.
Algoritma: Tuhan yang Tak Terlihat
Yang lebih menakutkan dari tarif rendah adalah “Gacor” dan “Anyep”. Dua kata ini adalah mantra sekaligus kutukan.
Sistem *gamification* yang diterapkan aplikator sangat brilian—dan jahat. Mereka mengubah nafkah menjadi perjudian. Pengemudi tidak pernah tahu kapan orderan akan masuk. Algoritma membagi-bagi rezeki berdasarkan logika mesin yang dingin: tingkat penyelesaian order, nilai performa, dan seberapa patuh si pengemudi mengambil orderan “kakap” (jarak jauh tarif rendah).
“Kalau nolak orderan karena jauh dan macet, performa turun. Kalau performa turun, besoknya akun jadi ‘gagu’ (susah dapat order). Jadi mau nggak mau, kita sikat semua. Hujan badai, banjir, sikat. Daripada dapur nggak ngebul,” jelas Yanto, rekan Budi yang baru bergabung.
Ini menciptakan siklus kelelahan kronis. Mereka dipaksa bekerja 12 hingga 14 jam sehari hanya untuk mengejar “Tupo” (Tutup Poin) atau bonus insentif yang syaratnya makin hari makin tidak masuk akal.
Ingat kasus viral Juli 2024 di Tasikmalaya? Seorang pengemudi dikira meninggal di atas motornya, dikerumuni warga, polisi bahkan sudah siap dengan kantong jenazah. Ternyata? Dia tertidur. Pingsan karena kelelahan ekstrem. Itu bukan komedi. Itu tragedi. Itu wajah asli eksploitasi fisik yang kita normalisasi setiap kali kita memesan makanan dengan promo ongkir murah.
Atau kasus Februari 2024 di Sidoarjo, di mana seorang pengemudi benar-benar ditemukan tak bernyawa di atas motor Honda Beat-nya saat menunggu penumpang. Jantungnya menyerah. Tubuhnya kalah.
Matematika Kemiskinan
Mari bicara angka. Fakta keras. Jangan pakai bahasa langit.
Per Januari 2026 ini, harga BBM Pertalite masih dipatok Rp 10.000 per liter di seluruh Indonesia. Motor matic standar butuh 1 liter untuk sekitar 40-50 km (teori). Di jalanan macet Jakarta? Mungkin hanya 30-35 km.
Anggaplah seorang pengemudi mendapat orderan mengantar makanan sejauh 4 km. Tarif yang ia terima bersih mungkin hanya Rp 8.000 – Rp 9.000.
Waktu tempuh: 20 menit (ambil order, antre resto, antar ke pelanggan).
Bensin: Rp 1.000.
Parkir liar (seringkali tak diganti): Rp 2.000.
Sisa bersih: Rp 5.000 – Rp 6.000.
Untuk 20-30 menit kerja.
Jika dia bekerja 10 jam nonstop tanpa henti, mungkin dia bisa membawa pulang Rp 100.000 – Rp 120.000 bersih. Itu *jika* akun sedang “gacor”. Jika “anyep”? Budi mengaku sering pulang hanya membawa Rp 30.000 setelah seharian di jalan.
Cukup untuk apa uang segitu di tahun 2026?
Beras. Telur. Token listrik. Kuota internet (wajib untuk kerja). Servis motor (kampas rem dan ban botak tidak bisa ditawar).
Matematikanya tidak nyambung. Besar pasak daripada tiang.
Akibatnya? Pinjol (Pinjaman Online).
“Lingkaran setan, Mas,” bisik Budi pelan, malu. “Gali lubang tutup lubang. Pinjam di aplikasi A buat bayar aplikasi B. Bunganya mencekik. Tiap hari diteror telepon penagih utang. Kadang saya mikir, mending mati aja.”
Fenomena *Judol* (Judi Online) juga menyusup di sini. Keputusasaan membuat orang berpikir irasional. Mimpi melipatgandakan uang receh menjadi jutaan dalam semalam. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Hancur lebur.
Generasi Tua yang Terjebak
Yang paling menyedihkan adalah melihat demografi pengemudi yang bergeser. Dulu, 2015-2016, ini adalah pekerjaan sampingan mahasiswa atau anak muda transisi karir. Sekarang? Lihatlah sekeliling. Banyak pria paruh baya, usia 45-50 tahun ke atas. Rambut memutih di balik helm bau apek.
Mereka adalah korban PHK pabrik, korban gulung tikar UMKM pasca-pandemi yang tak pernah bangkit lagi, atau pensiunan yang uang pensiunnya tak cukup beli obat. Mereka tidak punya pilihan lain. Sektor formal menolak mereka karena usia. “Gig Economy” menampung mereka dengan tangan terbuka, tapi tanpa jaring pengaman.
BPJS Ketenagakerjaan? Ada program BPU (Bukan Penerima Upah), tapi itu bayar sendiri. Berapa banyak yang disiplin bayar saat untuk makan saja kurang?
Pemerintah bicara soal Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat)? Bagi mereka itu lelucon. “Jangankan nabung buat rumah, buat bayar kontrakan petak bulan ini aja masih kurang,” sergah Yanto.
Mereka menua di jalan. Lutut mereka kopong dihajar angin malam. Paru-paru mereka menghitam dihisap polusi Jakarta. Dan ketika mereka jatuh sakit atau terlalu tua untuk menarik gas? Habis. Tidak ada pesangon. Tidak ada ucapan terima kasih. Akun tinggal dinonaktifkan. Selesai.
Ilusi Konsumen
Kita, para konsumen, juga punya andil dalam dosa kolektif ini. Kita terbuai kenyamanan. Kita marah jika pesanan terlambat 5 menit. Kita kasih bintang satu jika pengemudi tidak senyum, padahal dia belum makan sejak pagi. Kita merasa berhak atas pelayanan prima dengan harga serendah mungkin.
Aplikasi memanjakan kita dengan “diskon” yang sebenarnya disubsidi dari keringat pengemudi. Kita tidak sadar bahwa harga murah itu dibayar mahal oleh orang lain. Dibayar dengan waktu mereka bersama anak-istri, dibayar dengan kesehatan mereka, dibayar dengan martabat mereka.
Jalan Buntu?
Matahari mulai tinggi di Tebet. Panas mulai menyengat. Ponsel Budi akhirnya berbunyi.
“Ting!”
Sebuah orderan masuk. GoFood. Jarak jemput 2 km, jarak antar 6 km. Tarif Rp 14.000.
Wajahnya datar. Tidak ada senyum. Hanya gurat lelah.
Dia menyeruput sisa kopinya yang sudah dingin, mengenakan kembali helmnya yang kaca depannya sudah retak.
“Jalan dulu, Mas. Lumayan buat beli bensin,” pamitnya.
Suara mesin motor menyalak, batuk sedikit, lalu melaju membelah kemacetan Jakarta. Dia hanya satu dari jutaan titik hijau di layar peta digital. Bergerak, berhenti, bergerak lagi. Mengais rupiah di aspal panas, terjepit di antara tuntutan perut dan kekejaman algoritma yang tak punya hati.
Tidak ada solusi manis di akhir tulisan ini. Tidak ada kutipan bijak. Faktanya adalah: besok pagi, Budi akan kembali ke warung ini. Menunggu. Berharap. Dan perlahan-lahan habis dimakan jalanan.
Sementara para eksekutif aplikator tidur nyenyak di apartemen ber-AC mereka, merayakan “efisiensi” dan “inovasi”.
Hening. Total hening. Hanya deru knalpot yang tersisa.









