KANALBERITA.COM – Para peneliti dari University of Colorado Anschutz menemukan adanya kerusakan molekuler dan struktural pada kuncup pengecap sebagai penyebab utama hilangnya indra perasa jangka panjang pada penyintas COVID-19. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Chemical Senses ini menjelaskan mengapa gangguan sensorik tersebut tetap bertahan meski pasien telah pulih dari infeksi selama lebih dari satu tahun.
Penelitian dilakukan dengan mengamati 28 orang yang mengalami gangguan perasa persisten pasca terinfeksi virus tanpa perlu dirawat di rumah sakit. Hasilnya, ditemukan penurunan kadar mRNA yang memproduksi protein PLCβ2, yaitu komponen vital yang berfungsi sebagai penguat sinyal rasa manis, pahit, dan gurih (umami) dari lidah ke otak.
Selain defek molekuler, pemeriksaan mikroskopis pada jaringan kuncup pengecap menunjukkan adanya disorganisasi fisik atau perubahan susunan sel. Temuan ini memberikan bukti biologis pertama mengenai alasan mengapa kemampuan mengecap rasa tertentu tidak kunjung pulih pada kelompok pasien tertentu.
Thomas Finger, profesor biologi sel dan perkembangan di University of Colorado Anschutz, menjelaskan peran krusial protein tersebut. “PLCβ2 bertindak seperti penguat molekuler di dalam sel pengecap yang memperkuat sinyal sebelum ditransmisikan ke otak, dan ketika kadarnya berkurang, sinyal rasa akan melemah,” ujar Thomas Finger pada 19 Oktober 2026.
Dampak Kerusakan Kuncup Pengecap
Gangguan ini secara spesifik memengaruhi deteksi rasa manis, pahit, dan umami, sementara kemampuan untuk merasakan asin dan asam cenderung tidak terganggu. Hal ini terjadi karena sel-sel yang bertanggung jawab atas rasa asin dan asam menggunakan mekanisme pensinyalan yang berbeda dan tidak bergantung pada protein PLCβ2.
Fenomena ini menjadi pertanyaan besar bagi dunia medis karena kuncup pengecap manusia secara alami seharusnya beregenerasi setiap dua hingga empat minggu. Namun, pada pasien dengan gejala persisten, proses molekuler yang mendasari fungsi pengecapan tampak tetap terganggu dalam jangka waktu yang sangat lama.
Para peneliti menekankan bahwa temuan ini memberikan bukti terukur mengenai disfungsi pengecapan pasca-COVID yang dialami sebagian orang lama setelah virus tersebut hilang dari tubuh. Meskipun penyebabnya kini telah teridentifikasi, langkah penelitian selanjutnya akan difokuskan pada apakah kelainan molekuler ini dapat diperbaiki atau dipulihkan melalui intervensi medis tertentu.
Wartawan yang masih aktif menulis dan pernah bekerja di media online Kompas com, Majalah Percikan Iman, dan Media Official Persib Bandung.











