Kolom

Pelajaran Logika dari ‘Bid’ah → Sesat → Neraka’ yang Kerap Digunakan Sembarangan

×

Pelajaran Logika dari ‘Bid’ah → Sesat → Neraka’ yang Kerap Digunakan Sembarangan

Sebarkan artikel ini
Bid'ah Sesat

Opini

Sebuah Analisis Logis Pernyataan “Setiap Bid’ah Itu Sesat, Setiap yang Sesat di Neraka”

Oleh: Prihas Tanto* 

*penulis adalah seorang tholibun berbagai kelompok pengajian di Bandung

 

Beragama bukan sekadar urusan memegang keyakinan yang kuat. Ia juga menyangkut bagaimana kita mendayagunakan akal secara jujur, memahami dalil secara mendalam, dan menyikapi perbedaan pendapat dengan penuh kematangan. Dalam arus kehidupan sehari-hari, perbedaan pemahaman, penafsiran, dan cara mengambil kesimpulan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Oleh sebab itu, semakin berat sebuah persoalan agama yang dibahas, semakin besar pula tuntutan untuk berhati-hati dalam merangkai argumentasi. Keteguhan pada keyakinan tidak harus dibayar dengan ketergesa-gesaan dalam menghakimi orang lain.

Kedewasaan beragama justru paling terpancar ketika seseorang mampu membedakan dengan jelas antara apa yang diyakini, apa yang bisa dibuktikan, dan apa yang sekadar merupakan lompatan kesimpulan dari rangkaian pikiran yang mungkin belum sepenuhnya diperiksa.

 

Tiga Pola yang Tampak Sama tetapi Tidak Sama

Sebuah cara yang sederhana namun efektif untuk melatih kehati-hatian dalam berargumen adalah dengan membandingkan pola-pola argumentasi yang memiliki struktur serupa. Bayangkan tiga rantai pemikiran berikut, masing-masing memiliki tiga tahap yang dihubungkan oleh anak panah penalaran:

 

Pertama: Bid’ah → Sesat → Di Neraka.

Pola Pikir

 

Kedua: Dokter → Manusia → Perlu Makan

Pola Pikir

 

 Ketiga: Mencuri → Maling → Potong Tangan.

 

Pola Pikir

Secara kasat mata, ketiganya tampak memiliki kerangka yang identik: ada titik awal, titik perantara, dan titik akhir yang dihubungkan oleh logika sebab-akibat. Namun begitu kita masuk lebih dalam dan memeriksa setiap sambungan dari rantai tersebut, kita akan menemukan bahwa kekuatan logika di balik setiap anak panah ternyata sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya.

 

Anak Panah yang Paling Mulus: Dokter dan Kebutuhan Makan

Dari ketiga contoh, rantai Dokter → Manusia → Perlu Makan adalah yang paling mudah diterima tanpa hambatan. Bahwa seorang dokter adalah manusia adalah fakta biologis yang tidak bisa dibantah. Bahwa manusia memerlukan makanan untuk mempertahankan hidupnya adalah kebenaran universal yang berlaku tanpa pengecualian yang berarti.

 

Pola Pikir

Maka kesimpulan bahwa dokter perlu makan mengalir secara alami dan mulus, tanpa lompatan, tanpa syarat tambahan, tanpa ambiguitas istilah.

Contoh ini berfungsi sebagai pembanding yang jujur. Tidak semua rantai tiga tahap mengandung masalah. Ada argumentasi yang betul-betul kokoh di setiap simpulnya. Dan justru karena ada yang kokoh, kita bisa lebih mudah mengenali yang tidak.

BACA JUGA  FUUI: Sikap Fanatisme dan Egoisme Ancam Persatuan Umat Islam

 

Anak Panah yang Butuh Syarat Tambahan: Mencuri dan Hukuman Potong Tangan

Berbeda dengan contoh pertama, rantai Mencuri → Maling → Potong Tangan mengandung sambungan yang tidak bisa berjalan sendiri. Menyebut seseorang yang mencuri sebagai maling memang masuk akal secara linguistik.

Pola Pikir

Namun dari predikat ‘maling’ ke ‘harus dipotong tangannya’ ada jurang yang tidak bisa dijembatani hanya dengan dua premis sederhana.

Dalam hukum Islam, pelaksanaan hukuman hudud — termasuk potong tangan — memiliki syarat-syarat pembuktian yang sangat ketat dan terperinci: nilai barang yang dicuri harus mencapai nisab tertentu, cara pengambilannya harus memenuhi kriteria pencurian yang sah secara fikih, kondisi pelaku harus diperiksa termasuk apakah ia mencuri karena kelaparan dan keterpaksaan, serta pembuktiannya harus memenuhi standar kesaksian yang sangat tinggi.

Tanpa terpenuhinya seluruh syarat itu, vonis potong tangan tidak bisa dijatuhkan hanya dari kalimat “dia mencuri.” Anak panah terakhir di sini membutuhkan jembatan tambahan yang substansial dan tidak bisa diabaikan.

 

Anak Panah yang Paling Perlu Diperiksa: Bid’ah dan Vonis Akhirat

Kini kita tiba pada rantai yang paling sering digunakan dan paling sering menjadi sumber perselisihan: Bid’ah → Sesat → Di Neraka. Secara formal logika, jika kita menerima premis bahwa setiap bid’ah adalah sesat (B → S) dan setiap yang sesat berada di neraka (S → N), maka kesimpulan B → N memang mengikuti secara matematis.

Pola Pikir

Bentuk silogismenya valid. Namun di sinilah kita perlu berhenti dan merenungkan sesuatu yang sangat mendasar: validitas bentuk logika sama sekali tidak menjamin kebenaran premis-premisnya, apalagi jaminan kebenaran aplikasinya kepada individu tertentu.

Ada setidaknya tiga pertanyaan besar yang harus dijawab sebelum rantai ini boleh digunakan untuk menghakimi seseorang.

Pertama, apakah definisi bid’ah yang digunakan benar-benar mencakup objek yang sedang dibicarakan? Para ulama dari zaman ke zaman telah berbeda pendapat tentang batas-batas bid’ah: ada yang membatasinya hanya pada urusan ibadah murni, ada yang membaginya menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah qabihah, ada yang memberikan pengertian yang lebih luas. Perbedaan ini bukan soal kecil.

Kedua, apakah kata ‘sesat’ yang muncul dalam premis pertama dan kata ‘sesat’ dalam premis kedua benar-benar memiliki makna yang identik? Sesat dalam konteks “bid’ah adalah sesat” bisa berarti menyimpang dari jalan yang lebih benar. Sesat dalam konteks “setiap yang sesat di neraka” merujuk pada kesesatan yang membawa pada kebinasaan abadi. Jika keduanya berbeda, maka rantai logikanya sudah patah di tengah jalan, meskipun terlihat sambung dari luar.

BACA JUGA  FUUI: Sikap Fanatisme dan Egoisme Ancam Persatuan Umat Islam

Ketiga, dan ini yang paling krusial: ada perbedaan yang sangat mendasar antara menilai suatu perbuatan dan memvonis nasib seorang individu. Seorang ulama mungkin bisa berkata dengan argumentasi yang kuat bahwa “perbuatan X adalah bid’ah yang sesat.” Ini adalah pernyataan tentang suatu tindakan dan dapat diperdebatkan di tataran ilmu.

Namun sangat berbeda dengan melangkah lebih jauh dan mengatakan “si Fulan yang melakukan X pasti masuk neraka.” Pernyataan kedua sudah memasuki wilayah penghakiman atas nasib akhirat seorang individu — dan di sinilah kita berhadapan langsung dengan rambu Allah SWT yang sangat tegas.

“……Maka janganlah kamu menganggap dirimu paling suci. Dia (Allah) lebih mengetahui orang yang bertakwa di antara kamu.” (QS. An-Najm [53]: 32)

Ayat ini bukan ajakan untuk membungkam kritik terhadap perbuatan yang menyimpang. Ia adalah penegasan bahwa ada batas yang sangat jelas antara otoritas manusia untuk menilai perbuatan berdasarkan dalil, dengan hak yang tidak dimiliki manusia siapa pun: menentukan secara pasti nasib akhirat seseorang.

Pergeseran Objek yang Diam-diam tetapi Berbahaya

Salah satu jebakan paling halus dalam argumentasi keagamaan adalah perpindahan diam-diam dari membahas perbuatan menuju memvonis individu, dan dari memvonis individu menuju memastikan nasib akhiratnya. Tiga hal ini sering diperlakukan seolah-olah merupakan satu paket yang otomatis. Padahal ketiganya adalah wilayah yang berbeda dengan implikasi yang sangat tidak sama.

Kita bisa memulai dengan membahas suatu amalan — ini wilayah fikih dan ilmu. Kemudian berpindah ke pelakunya — ini sudah melibatkan penilaian terhadap individu yang bisa saja memiliki niat, pengetahuan, dan konteks yang sangat berbeda. Lalu berakhir pada nasib akhiratnya — ini wilayah yang hanya Allah yang berwenang memutuskan. Ketiga langkah itu tidak bisa diperlakukan sebagai satu gerakan tunggal yang mulus.

Allah SWT bahkan memperingatkan dengan keras tentang bahaya mengklaim pengetahuan tentang hal yang hanya Dia yang tahu:

“Dan janganlah kamu mengucapkan terhadap apa yang disebutkan oleh lidahmu secara dusta: ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl [16]: 116)

BACA JUGA  FUUI: Sikap Fanatisme dan Egoisme Ancam Persatuan Umat Islam

Validitas Bentuk vs. Kebenaran Isi

Ada satu prinsip dalam ilmu logika yang sangat penting dan sering dilupakan: sebuah argumen bisa valid secara bentuk tanpa benar secara isi. Contoh yang paling sederhana: “Semua burung bisa terbang. Ayam adalah burung. Maka ayam bisa terbang.” Bentuk silogismenya sempurna. Tetapi premis pertamanya salah — karena tidak semua burung bisa terbang — sehingga kesimpulannya tidak bisa diterima.

Hal yang sama berlaku persis dalam rantai bid’ah-sesat-neraka. Sebelum menggunakannya sebagai alat untuk menghakimi seseorang, kita harus memastikan: apakah premis pertama benar-benar universal tanpa pengecualian? Apakah istilah yang digunakan konsisten di seluruh rantai? Apakah premis kedua berlaku untuk setiap individu tanpa mempertimbangkan niat, tingkat pengetahuan, dan keadaannya? Jika satu saja dari pertanyaan itu tidak terjawab dengan tegas, maka kesimpulannya tidak dapat digunakan untuk memvonis, meskipun secara formal terlihat logis.

Penutup: Bertanyalah Tentang Jalan, Bukan Hanya Tujuan

Tujuan mempelajari logika argumentasi seperti ini bukan untuk mencari kemenangan dalam perdebatan agama. Ia adalah latihan untuk membuat kita lebih jujur terhadap diri sendiri dan lebih adil terhadap orang lain. Kita bisa tetap teguh pada apa yang kita yakini benar. Kita bisa tetap kritis terhadap perbuatan yang kita nilai menyimpang. Namun pada saat yang sama, kita memberikan ruang yang selayaknya bagi ilmu, adab, dan kehati-hatian ketika berhadapan dengan perbedaan.

Perpecahan di antara umat Islam tidak selalu disebabkan oleh perbedaan keyakinan yang fundamental. Seringkali ia tumbuh dari cara kita berargumen — dari terburu-burunya kita menarik kesimpulan, dari sembarangan kita menggunakan istilah, dari ringannya kita memvonis nasib akhirat orang lain. Membangun adab dalam beragumentasi adalah bagian dari membangun persatuan.

Maka ada dua pertanyaan yang selalu layak kita bawa dalam setiap diskusi keagamaan. Pertanyaan pertama yang paling biasa: ‘Apa kesimpulannya?’ Dan pertanyaan kedua yang seharusnya sama pentingnya, bahkan lebih: ‘Bagaimana kita sampai pada kesimpulan itu?’ Karena dalam agama, jalan yang kita tempuh menuju sebuah kesimpulan bisa jadi sama beratnya — bahkan lebih berat — dari kesimpulan itu sendiri. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

 

*Disclaimer redaksi: artikel opini adalah pendapat penulis dan menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya

Example 300x600