Nasional

Orang Utan Bernama Sampurna Mati Akibat Paparan Asap Karhutla di Kalimantan Barat

×

Orang Utan Bernama Sampurna Mati Akibat Paparan Asap Karhutla di Kalimantan Barat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan

KANALBERITA.COM – Seekor orang utan bernama Sampurna dinyatakan mati setelah sempat menjalani perawatan intensif akibat terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada Jumat (4/9/2026). Satwa primata tersebut sebelumnya telah dievakuasi oleh tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI dari sebuah perkebunan kelapa sawit pada akhir Agustus 2026.

Awalnya, Sampurna ditemukan oleh warga di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, dalam kondisi sangat lemah dengan gangguan pernapasan hebat. Tim penyelamat segera memberikan pertolongan pertama berupa terapi oksigen serta cairan intravena sebelum akhirnya membawa satwa tersebut ke pusat rehabilitasi YIARI untuk penanganan lebih lanjut.

Sayangnya, kondisi kesehatan orang utan ini terus menurun secara signifikan hingga mengalami henti napas pada sore hari. Tim medis sempat berupaya melakukan tindakan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) namun upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawa Sampurna.

Pihak BKSDA Kalimantan Barat kemudian melakukan nekropsi untuk memastikan penyebab kematian satwa tersebut secara medis. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan patologis pada organ vital yang diduga kuat dipicu oleh paparan asap pekat dari kebakaran hutan di wilayah tersebut.

Hasil Analisis Medis Sampurna

“Kami sangat menyayangkan Sampurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa. Pemeriksaan lebih lanjut juga dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan serta faktor yang diduga berkontribusi terhadap kematiannya,” ujar Murlan Dameria Pane dari BKSDA Kalimantan Barat, Jumat (4/9).

Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan pada 1 September 2026, ditemukan adanya kerusakan pada paru-paru, jantung, dan ginjal. Paparan asap karhutla diduga kuat menyebabkan hipoksia akut atau kondisi kekurangan oksigen, yang kemudian memicu gangguan fungsi kardiovaskular hingga akhirnya menyebabkan kematian.

Pihak berwenang menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam melaporkan temuan satwa liar yang terancam atau terdampak bencana lingkungan. Langkah cepat dari warga dinilai menjadi faktor krusial bagi tim medis untuk memberikan intervensi penyelamatan yang lebih efektif di lapangan.

Example 300x600