Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,M.Ag*
*penulis adalah Kepala Kepesantrenan Pontren Al Ashr Al Madani Jl. Arcamanik 48 Bihbul Sindanglaya Bandung dan Anggota Majlis Fatwa Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA)
Khutbah Pertama:
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون.
الْحَمْدُ لِلَّهِ كَما يَحْمَدُهُ الشَّاكِرُوْنَ وَيُؤْمِنُ بِهِ الْمُوْقِنُوْنَ ويُقِرُّ بِوَحْدَانِيَّتِهِ الصَّادِقُوْنَ.
نَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ وَخَالِقُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِيْنَ وَمُكَلِّفُ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ.
وَنَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ. وَعَلَى آلِهِ وَاصَحْابِهِ أَجْمَعِيْنَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ مُخْالِصًا لَهُ الدِّيْنَ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ الْمُخْلِصُوْنَ.
قال الله تعالى في القرآن الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم :
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَـٰكَ شَـٰهِدًۭا وَمُبَشِّرًۭا وَنَذِيرًۭا. وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذْنِهِۦ وَسِرَاجًۭا مُّنِيرًۭا. وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ فَضْلًۭا كَبِيرًۭا.
الاحزاب : ٤٥-٤٧
معاشر المسلمين رحمكم الله
Hamdalah adalah salah satu cara kita melisankan memuji Allah (alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin) atas segala nikmat-Nya yang telah dianugerahkan kepada kita. Shalawat dan salam kita sanjungkan untuk Junjunan kita Nabi Agung, yakni Nabi Muhammad Saw beserta seluruh keluarga, para sahabat serta seluruh ummatnya hingga akhir zaman. Aamiin.
Pada kesempatan yang baik ini khatib mengajak kita sekalian untuk bersama-sama memfokuskan diri beribadah kepada Allah SWT dalam rangka meningkatkan taqwa kita dengan sebenarnya, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan Allah SWT sehingga kita pantas mendapatkan kemudahan dari Allah dari setiap kesulitan, selalu ada solusi dari setiap masalah kita, dan mendapat limpahan Rizqi dari tempat yang tidak pernah kita sangka.
معاشر المسلمين رحمكم
Diantara kita pasti ada yang bertanya, mengapa bulan kelahiran Kanjeng Nabi Besar Muhammad Saw pada Rabiul Awwal tidak pada bulan-bulan yang lain, tidak pada bulan ramadhan yang penuh ampunan dan keberkahan (Syahrul maghfirah wal barokah), padahal kita hampir setiap hari menyelenggarakan maulid, mengapa?
معاشر المسلمين رحمكم
Kata Rabi’ berarti musim semi. Dinamakan Rabiul Awal karena bertepatan dengan musim di mana tanaman biasanya mulai menghijau dan bunga bermekaran.
Dahulu orang-orang jahiliyyah menganggap bulan Rabiul Awal itu adalah bulan yang penuh kesialan sebagai rankaian dari bulan shafar, padahal Rasulullah Saw sudah menjelaskan bahwa jangankan bulan Rabiul Awwal sebagai bulan kelahiran Nabi Saw bahkan bulan shafar pun bukan sebagai bulan kesialan, sebagaimana sabda Nabi Saw yang sanadnya dari Abu Hurairah dan diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.
لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر
“Tidak ada wabah (penyakit menular), tidak ada kesialan dari suara burung hantu, tidak ada kesialan di bulan shafar “
Sehingga tidak ada riungan, tidak ada tongkrongan, tidak ada silaturrahim jangankan antar komunitas masyarakat, antar keluarga saja tidak pernah mereka lakukan, karena bulan Rabiul Awwal dianggapnya sebagai bulan yang dianggap membawa kesialan.
Akan tetapi Allah SWT justeru memberikan bulan Rabiul Awwal itu sebagai bulan kekahiran Kanjeng Nabi Besar, Nabi Agung yakni Nabi Muhammad Saw justeru sebagai bulan yang mendatangkan keberkahan bagi ummat dan semesta raya.
رحمة للعالمين.
Coba kita perhatikan kalau bulan Rabiul Awwal tiba, betapa keberkahan itu sangat nampak, para kyai dapat berkah, para ustadz dapat berkah, aparat mulai dari RT. RW, Lurah/Kades, Camat, Kapolsek, Danramil hingga pejabat tinggi dapat dapat berkah, pedagang dapat berkah, tak terkecuali ummat dan jamaahpun memperoleh berkah. Dari musholla ke musholla, dari masjid ke masjid hingga instansi, semua merayakan Maulid Nabi Saw.
Betapa mulianya bulan Rabiul Awwal itu.
Alhamdulillaah.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Lalu kenapa Baginda Nabi Muhammad Saw dilahirkan pada hari Senin? Mengapa beliau tidak dilahirkan pada hari Jum’at, padahal hari Jum’at adalah penghulunya hari (sayyidul ayyaam), rajanya hari? Keberkahan ada pada hari Jum’at? Allah mulai ciptakan dunia pada hari Jum’at, Allah akan hancurkan dunia (kiamat) pada hari jum’at.
Kenapa justeru hari Senin dijadikan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.Karena mulai dari hari Selasa sampai hari Ahad، menurut hampir para ulama berpendapat, itu semua ada peristiwa kemuliaan di dalamnya bagi para Ambiya dan Rusul sebelumnya. Kecuali hari Senin.
Allah SWT memberikan izin khusus untuk kekahiran Nabi Muhammad Saw pada hari Senin, agar kemuliaannya tidak tumpang tindih dengan hari-hari kelahiran para Ambiya dan Rusul sebelumnya. Harinya mulia, bulannya mulia, Alhamdulillah.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Mengapa Nabi Muhammad Saw lahirnya pada sepertiga akhir malam? Mengapa lahirnya beliau tidak pada paginhari atau siang atau sore hari?
Waktu di sepertiga akhir malam merupakan salah satu hadiah terbesar dari Allah SWT yang diberikan kepada ummat beliau, kepada kita, insya Allah, apabila pada waktu dua pertiga malam itu kita gunakan untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT yang lebih fokus dan khusus, dengan tahajjud kita, dengan tadarus Al Qur’an, dengan istighfar, dzikir dan bermunajat melalui do’a do’a kita, maka Allah akan kabulkan. Allah tidak akan menolak permohonan kita.
Sayangnya tidak sedikit dari kita yang tidak memanfaatkan momen sangat baik untuk kita gunakan beribadah.
Padahal kita sering diingatkan oleh Allah SWT pada waktu-waktu tersebut dengan terbangun kebelet kepengen buang air kecil misalnya, namun sayangnya setelah selesai buang hajat, bukan terus berwudhu kemudian beribadah pada momen tersebut, tapi malah tidur kembali. Kadang saat kita terbangun, kita berbalik posisi tidur kita, dan kita sadar,
Sesungguhnya saat itu Allah SWT membangunkan kita, menegur kita, mengingatkan kita, untuk tapi kita selalu mengabaikan kebaikan yang Allah hadirkan untuk kita. Kesempatan tersebut sebaiknya kita gunakan untuk muqarabah yang maknanya berkaitan erat dengan usaha mendekatkan diri kepada-Nya melalui amal saleh).
واذا سالك عبادي عني فإني قريب اجيب دعوة الداع إذا دعان ….
Shalat malam dapat diisi dengan berbagai shalat sunnah, baik shalat tahajud, shalat witir, shalat sunnah muthlaq, shalat sunnah tobat, dan lain-lain.
Waktu shalat malam mulai pertengahan malam hingga menjelang waktu subuh. Karena Shalat malam memiliki banyak keutamaan sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Salah satunya adalah Syekh Qadhi ‘Iyadh menyebutkan bahwa shalat malam sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencegah diri dari perbuatan maksiat, dan melebur dosa.
Keterangan tersebut sebagaimana dikutip dari pendapat Al-Qadhi ‘Iyadh yang dinukil oleh Al-Munawi dalam Faydhul Qadir:
قيام الليل قربة تقربكم إلى ربكم وخصلة تكفر سيئاتكم وتنهاكم عن المحرمات {إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر}
Artinya: “Menghidupkan waktu malam (shalat malam) adalah jalan bagi kalian untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, wasilah untuk melebur dosa-dosa, dan mencegah dari sesuatu yang haram sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. (Al-Munawi, Faydhul Qadir Syarh Jami’ish Shaghir, [Mesir: al-Maktabah al-Tijariyah al-Kubra, t.t.), jilid IV, halaman 35).
Beberapa hadits Nabi Saw yang menunjukkan keutamaan shalat malam :
- Tanda kemuliaan orang mukmin
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam HR. Thabrani dalam Al Mu’jam Al Ausath
جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
Artinya, “Jibril as datang menemui Nabi saw. Lalu berkata (kepada beliau): “Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu (namun ingatlah) selanjutnya engkau benar-benar akan mati. Cintailah siapa saja yang engkau cintai (namun ingatlah) selanjutnya engkau benar-benar akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sekehendakmu (namun ingatlah) selanjutnya benar-benar engkau akan menerima balasan dari apa yang engkau perbuat”, Lalu dia berkata lagi: “Wahai Muhammad, kemuliaan seorang mukmin terletak pada shalat malam. Kehormatannya terletak pada tidak butuhnya ia kepada manusia.” (HR Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath).
Hadits ini menjelaskan beberapa wasiat Jibril kepada Nabi Muhammad, di mana salah satunya adalah keutamaan shalat malam. Dalam hadits tersebut, dijelaskan bahwa shalat malam adalah salah satu ciri atan tanda kemuliaan orang yang beriman.
- Orang yang terbaik adalah yang melakukan shalat malam :
قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَد.. قال رسول الله -صلّى الله عليه وسلّم-: «نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَكَانَ بَعْدُ لَا يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلَّا قَلِيلاً
Artinya: “Rasulullah Saw bersabda: ‘Hendaknya kalian melakukan shalat malam, karena shalat malam adalah hidangan orang-orang saleh sebelum kalian, dan sesungguhnya shalat malam mendekatkan kepada Allah, serta menghalangi dari dosa, menghapus kesalahan, dan menolak penyakit dari badan.” Dan Nabi saw bersabda: “Sebagus-bagus lelaki ialah Abdullah, andai saja ia suka shalat di waktu malam.” Salim berkata: “Sejak saat itu ‘Abdullah tidak tidur di waktu malam, kecuali sebentar sekali.” (HR Al-Bukhari).
Ibnu Hajar al-‘Asqallani menyebut orang yang melaksanakan shalat malam pantas mendapat sebutan ‘paling baiknya manusia’ sebagaimana dalam hadits ini. Hal ini disebabkan shalat malam memiliki banyak kemuliaan. (Ibnu Hajar al-‘Asqallani, Fathul Bari, [Beirut: Darul Fikr, t,.t.], jilid III, hal. 6).
- Shalat malam salah satu kunci surga
لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ قِبَلَهُ وَقِيلَ قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ قَدْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ثَلَاثًا فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ فَلَمَّا تَبَيَّنْتُ وَجْهَهُ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ فَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ سَمِعْتُهُ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Artinya: “Tatkala Nabi saw tiba di Madinah, orang-orang bergegas menyambut kedatangan beliau dengan menyerukan, ‘Rasulullah tiba! Rasulullah tiba! Rasulullah tiba!’ sebanyak tiga kali. Maka aku (‘Abdullah bin Salam) ikut berjubel di tengah-tengah kerumunan manusia untuk melihat beliau, ketika telah jelas kupandang wajahnya, maka bisa kuketahui bahwa raut muka beliau bukanlah raut muka seorang pendusta. Ucapan pertama kali yang aku dengar dari beliau adalah: ‘Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah di malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat’.” (HR Ibnu Majah).
Hadits ini menjelaskan bahwa shalat malam, di kala orang-orang lainnya tertidur lelap, termasuk salah satu amalan yang dapat memasukkan kita ke surga. Keutamaan ini diraih karena tidak setiap orang mampu melaksanakan shalat malam dengan mudah.
- Shalat malam terbaik setelah shalat fardhu
أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل
Artinya: “Shalat yang paling afdal setelah shalat fardu (wajib) adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa shalat malam adalah shalat yang paling utama setelah shalat lima waktu. Al-Qasthallani dalam Syarah Shahih al-Bukhari, menyebut shalat witir lebih utama dibanding shalat rawatib dan selainnya seperti shalat dhuha, dan yang lainnya karena adanya hadits ini. (Al-Qashthallani, Irsyadus Sari Syarh Shahih al-Bukhari, [Mesir: al-Mathba’ah al-Kubra al-Amiriyah, t.t.), jilid II, halaman 309).
- Melebur dosa
Hadits Nabi saw juga menyebutkan shalat malam sebagai sarana untuk melebur dosa-dosa yang diperbuat. Riwayat ini pernah disampaikan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya dengan sanad yang shahih, yaitu:
أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ
Artinya: “Maukah kamu aku tunjukkan pada pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai dan sedekah akan memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang pada pertengahan malam.” (HR at-Tirmidzi).
Hadits ini merupakan potongan percakapan antara Nabi saw dengan Mu’adz bin Jabal, tatkala Mu’adz bertanya soal amalan-amalan yang dapat memasukkannya ke surga dan menjauhkannya dari neraka karena peleburan dosa.
Dalam riwayat lainnya yang serupa, Nabi saw bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Artinya: “Tuhan kita, Allah ta’ala ‘turun’ setiap malam ke langit dunia di saat sepertiga malam akhir. Kemudian Allah berfirman, ‘Siapapun berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapapun meminta kepada-Ku, akan Aku kasih. Siapapun meminta ampun kepada-Ku, akan Aku beri ampunan.” (Muttafaq ‘alaih).
- Celaan bagi yang meninggalkan shalat malam setelah terbiasa
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash pernah dinasihati Nabi saw untuk tidak mencontoh seseorang yang sudah terbiasa shalat malam, namun di kemudian hari ia malah meninggalkan amalan ini. Hadits ini dikutip oleh an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin:
يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
Artinya: “Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti Fulan, dia biasa mendirikan shalat malam akan tetapi kemudian meninggalkannya.” (Muttafaq ‘alaih).
- Shalat malam menjadi perantara terkabulnya doa
Menghidupkan malam hari menjadi mulia sebab waktu tengah malam menjadi salah satu waktu di mana doa dikabulkan oleh Allah ta’ala. Terdapat hadits yang menyebutkan perihal ini, di mana setiap orang yang meminta akan dikabul, baik permintaannya merupakan hal duniawi maupun ukhrawi. Nabi Saw bersabda:
عن جابر رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يقول: إنَّ في اللَّيْلِ لَسَاعَةً، لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْألُ الله تَعَالَى خَيْرًا مِنْ أمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، إِلاَّ أعْطَاهُ إيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ. رواه مسلم
Artinya: “Dari Jabir, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya di waktu malam itu ada satu waktu yang tidak didapati oleh seorang Muslim, di mana jika ia meminta suatu kebaikan pada Allah, baik urusan dunia maupun akhirat, melainkan Allah akan mengabulkannya. Waktu tersebut ada di setiap malam’.” (HR Muslim)
معاشر المسلمين رحمكم الله
Setelah Muqarabah Selanjutnya kita Muraqabah adalah keadaan merasakan kehadiran Allah di dalam segala kondisi kehidupan kita.
الذي يراك حين تقوم. وقلبك في الساجدين
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat). Dan (melihat pula) pergerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud.”
Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT selalu mengawasi Nabi Muhammad SAW dalam setiap gerak-gerik ibadahnya.
Kandungan dan Makna dari dua ayat tersebut adalah Pengawasan Allah (Muraqabah): Allah Maha Mengetahui dan melihat hamba-hamba-Nya secara langsung. Yang Dalam Konteks Ibadah: Berkaitan erat baik ibadah langsung kepada Allah SWT seperti ketika shalat berdiri, ruku’, sujud, hingga duduk.
Ketenangan untuk Rasulullah dan ummatnya : Menjadi bentuk penjagaan dan dukungan spiritual bagi Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan dakwah dan ibadah.
Karena Muraqabah menjadi salah satu prinsip akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. Muraqabah merupakan salah satu ajaran tarekat yang dampaknya melalui sintesis ajaran-ajaran tasawuf.
Muraqabah menghilangkan rasa takut kepada manusia tetapi menghasilkan rasa takut yang teramat takut kepada Allah SWT. Sekaligus menghasilkan rasa takut dan malu untuk berbuat dosa meskipun tidak dilihat oleh orang lain. Muraqabah adalah bentuk waskat (pengawasan melekat/pengawasan malaikat yang amat sangat ketat).
Semoga kita mendapatkan ampunan, keberkahan, kemuliaan Allah SWT serta segala do’a dan cita-cita kita dikabulkan oleh Allah SWT.
بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم.
Khutbah Kedua:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلآَهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سميع قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ ويا رافع الدرجات ويا شافي الأمراض ويا دافع البليات.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي خَاتِمَةِ شَهْرِنَا هَذَا ، وَأَقْدِمْ عَلَيْنَا رَبِيعٌ الْأَوَّلِ بِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ وَدَفْعِ الْبَلَاءِ وَالْفَسَادِ وَتَفْرِيجِ كَرْبِ أُمَّةِ حَبِيبِك مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَافِي وَالْبَادِ ، يَاكَرِيمْ يَاجُوَادْ
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي هذا الشهر، رَبِيعٌ الْأَوَّلِ بِصَلَاحِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ وَدَفْعِ الْبَلَاءِ وَالْفَسَادِ وَتَفْرِيجِ كَرْبِ أُمَّةِ حَبِيبِك مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَافِي وَالْبَادِ ، يَاكَرِيمْ يَاجُوَادْ
Artinya: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rabiul Awal ini dengan diberi kebaikan kepada negara dan orang-orang di dalamnya. Diangkatkan bala dan kerusakan dan hilangkanlah kesedihan, kesusahan umat Nabi Muhammad SAW yang tersembunyi atau yang terlihat, wahai yang Maha Mulia dan Maha Dermawan.”
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله واصحابه وبارك وسلم.
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.
Catatan :
Durasi waktu pelaksanaan ibadah jum’atan sangat terbatas, maka kutipan ayat atau hadits sikahkan dipilih saja, mana yang memungkinkan diangkat/dibaca atau cukup dibaca point-pointnya saja dengan tetap menyebutkan perawi hadits atau kitab dan penulisnya saja.
Wartawan Senior yang pernah bekerja di sejumlah media seperti Majalah Suara Hidayatullah dan Majalah Percikan Iman











