Khutbah Jum'atKolom

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Memerdekakan Hati Dengan Saling Memaafkan

×

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Memerdekakan Hati Dengan Saling Memaafkan

Sebarkan artikel ini

 

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA*

Ulama
*penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten

Khutbah Pertama: 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اللهُ أَكْبَرُ (×۳) اللهُ أَكْبَرُ (×۳) اللهُ أَكْبَرُ (×۳) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ هذا اليوم عيدا لِلْمُسْلِمِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الْجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

معاشر المسلمين رحمكم الله

Kita bersyukur dengan berucap Alhamdulillah seraya memuji Allah SWT di pagi yang fitri ini, karena Alhamdulillah sampai saat ini lisan kita belum berhenti mengagungkan asma Allah dengan bertakbir, bertahmid, tahlil :

الله اكبر الله اكبر الله اكبر، لا اله الا الله والله اكبر، الله اكبر ولله الحمد

Mari kita syukuri nikmat iman, Islam, serta kesehatan yang luar biasa, sehingga kita bisa berjumpa dengan hari kemenangan Idul Fitri 1447 H.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad saw., qudwah hasanah kita dalam kemuliaan akhlak.

Selaku khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian: marilah kita terus berupaya meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Karena Takwa inilah yang menjadi bekal terbaik kita setelah digembleng di madrasah Ramadhan selama sebulan penuh.

وتزودوا فإن خير الزاد التقوى واتقون يا اول الالباب

معاشر المسلمين رحمكم الله

Iedul Fitri adalah momentum bagi kita untuk meraih kesucian. Namun, kesucian jiwa tidak akan sempurna selama kita masih menyimpan bara dendam di dalam dada.

Hari ini, kita semua saling mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”. Akan tetapi, ada sebuah pertanyaan mendalam bagi batin kita: Sudahkah kita menjadi pemaaf yang mandiri, atau kita baru mau memaafkan jika orang lain datang bersimpuh meminta maaf?

Al-Qur’an mendidik kita untuk memiliki kualitas jiwa yang luar biasa: menjadi pemaaf tanpa menunggu permintaan maaf. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Artinya: (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Ayat ini menegaskan bahwa memaafkan adalah salah satu ciri orang bertakwa. Dalam pandangan Islam, memberi maaf adalah sebuah Ihsan—kebajikan yang melampaui sekadar kewajiban. Dengan memberi maaf secara proaktif, kita sedang melakukan takhalluqu bi akhlaqillah, yaitu meneladani sifat Allah yang Maha Pemaaf (Al-’Afuw).

معاشر المسلمين رحمكم الله

Mengapa Al-Qur’an begitu masif menyuruh kita memberi maaf? Mengapa kita tidak diminta menunggu orang lain sadar terlebih dahulu?

Jawabannya adalah untuk Kedaulatan Hati kita sendiri. Jika kita menunggu orang yang menyakiti kita datang meminta maaf, maka kedamaian hati kita digadaikan pada perilaku orang lain. Selama mereka belum meminta maaf, selama itu pula kita terus tersiksa oleh dendam. Namun, saat kita memutuskan untuk memaafkan tanpa menunggu diminta, kita sedang memerdekakan diri kita sendiri dari penjara rasa sakit batin.
Rasulullah saw. memberikan jaminan kemuliaan bagi orang yang memiliki kelapangan hati ini:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

“Artinya: Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba sifat pemaaf melainkan ia akan bertambah mulia.” (HR. Muslim)

معاشر المسلمين رحمكم الله

Memberi maaf memang berat bagi ego kita. Namun, ingatlah bahwa kunci perdamaian justru berada di tangan korban.

Perdamaian bisa terjadi jika korban memaafkan, meskipun pelaku belum meminta maaf.
Sebaliknya, perdamaian tidak akan pernah hadir jika pelaku meminta maaf tetapi korban tetap menutup pintu hatinya. Itulah mengapa Allah berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

“Artinya: Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

معاشر المسلمين رحمكم الله

Meski Al-Qur’an menekankan kemuliaan memberi maaf, bukan berarti kita boleh meremehkan kesalahan kepada sesama manusia. Jika memberi maaf adalah Ihsan, maka meminta maaf adalah Adl (Keadilan). Meminta maaf adalah tanggung jawab hukum yang harus ditunaikan selagi di dunia.

Urusan dengan Allah SWT mungkin bisa selesai dengan kita ber istighfar, namun urusan dengan manusia—yang disebut haqqul adami—tidak akan selesai sebelum orang yang dizalimi memberikan kehalalannya, memberikan ma’afnya. Bukankah Rasulullah saw memperingatkan kita agar tidak menjadi orang yang “bangkrut” (Muflis) di akhirat nanti:

…فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ…

“Artinya: …Maka diberikanlah pahala kebaikannya (si pelaku zalim) kepada si ini dan si itu (korbannya)…” (HR. Muslim)

Jangan sampai pahala shalat, puasa, tarawih, tadarud dan zakat kita habis untuk “membayar” orang-orang yang pernah kita sakiti, kita caci, atau kita ambil haknya tanpa pernah kita mintai maaf di dunia.
Maka, Idul Fitri yang setiap tahun kita rayakan ini adalah momentum untuk melakukan Ishlah (perdamaian):

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).

معاشر المسلمين رحمكم الله

Di akhir khotbah ini, mari kita tanamkan dalam diri kita: jadilah pribadi yang tidak hanya berintegritas sosial dengan rajin meminta maaf jika bersalah, namun juga jadilah pribadi yang merdeka secara spiritual dengan selalu memberi maaf tanpa perlu diminta.

Mari kita buktikan bahwa religiusitas kita bukan hanya terlihat di masjid, tapi juga dalam kejujuran, kepedulian, dan kelapangan hati di tengah masyarakat. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang benar-benar kembali kepada kesucian.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته أنه هو السميع العليم.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
 
Khutbah Kedua:

اللهُ أَكْبَرُ (×۷) وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَلَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Example 300x600
Khutbah Jumat
Headline

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA* *penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten   Khutbah Pertama:   اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَتَمَّمَ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ…

Khutbah Jumat
Headline

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA* *penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten Khutbah Pertama:    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَتَمَّمَ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ وَجَعَلَ…

Khutbah Jumat
Khutbah Jum'at

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA* *penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten Khutbah Pertama:   الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَى قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ المُؤْمِنِيْنَ، وَجَعَلَ…

Khutbah Jumat
Headline

*penulis adalah mubligh, penulis buku serta pengasuh pesantren di Banten Khutbah Pertama:   السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله الذي فرض علينا الصيام في…