KANALBERITA.COM – Pemerintah mendorong perguruan tinggi untuk memfokuskan riset guna mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan transisi ke kendaraan listrik. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) yang harganya fluktuatif dan berdampak pada perekonomian nasional.
Selain PLTS, Presiden juga menekankan pentingnya percepatan konversi kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik. Hal ini sejalan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM dan menjaga stabilitas harga energi.
“Yang kedua juga adalah bagaimana mempercepat konversi menjadi electric vehicle ya, kendaraan listrik. Kenapa? Karena kedua hal tadi, pembangkit yang masih diesel maupun kendaraan listrik itu kan masih tergantung pada BBM ya,” ujar Brian.
Dukungan Riset untuk Transisi Energi
Presiden juga mendorong percepatan penggunaan kompor listrik sebagai pengganti kompor berbahan bakar LPG. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor serta menekan beban subsidi energi yang signifikan.
Brian menambahkan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi akan mendukung penuh hasil kajian dan penelitian yang relevan dengan ketiga prioritas tersebut. Koordinasi lebih lanjut mengenai implementasi akan dilakukan bersama Kementerian ESDM.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah akan membentuk satuan tugas (Satgas) transisi energi. Satgas ini akan fokus pada percepatan program seperti konversi jutaan sepeda motor konvensional menjadi listrik. Presiden menargetkan implementasi program ini dapat berjalan maksimal dalam tiga hingga empat tahun ke depan.
Satgas ini juga bertugas memastikan pengembangan PLTS hingga 100 gigawatt dan percepatan kebijakan energi terbarukan serta elektrifikasi kendaraan berjalan efektif. Bahlil menekankan bahwa percepatan transisi energi tidak hanya bertujuan untuk penggunaan energi bersih, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi anggaran negara.













