KANALBERITA.COM– Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengumumkan bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik telah menunjukkan perkembangan signifikan. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa kesepakatan akhir masih belum tercapai karena adanya perbedaan pandangan mendasar.
Ghalibaf, yang turut serta dalam perundingan tersebut, menyatakan dalam pidato yang disiarkan televisi nasional Iran pada Sabtu (18/4/20p26) bahwa kedua negara masih berada jauh dari finalisasi perjanjian. “Kami membuat kemajuan dalam negosiasi, tetapi masih ada banyak kesenjangan dan beberapa poin mendasar yang belum terselesaikan,” ujarnya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah menyampaikan optimisme mengenai potensi tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Ia bahkan memperkirakan pertemuan lanjutan antara kedua negara dapat memperpanjang gencatan senjata yang sebelumnya disepakati selama dua minggu.
“Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi, saya pikir kita sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” kata Trump kepada jurnalis di luar Gedung Putih pada Kamis (16/4). Trump juga mengisyaratkan kemungkinan kunjungan ke Islamabad, Pakistan, jika kesepakatan tercapai.
Perkembangan Diplomasi Jalur Belakang dan Persyaratan
Sumber-sumber dari Pakistan mengindikasikan adanya kemajuan dalam diplomasi jalur belakang, dengan potensi penandatanganan perjanjian dalam pertemuan AS-Iran mendatang. “Kesepakatan rinci akan menyusul kemudian. Kedua pihak pada prinsipnya sudah setuju. Dan detail teknis akan menyusul nanti,” ujar seorang sumber kepada Reuters, menjelaskan bahwa nota kesepahaman akan diikuti perjanjian komprehensif dalam 60 hari.
Mediator utama, Kepala Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir, dilaporkan telah melakukan pembicaraan di Teheran dan mencapai terobosan dalam isu-isu pelik. Negosiasi sebelumnya yang berlangsung di Islamabad pekan lalu dilaporkan alot, dengan AS menuntut Iran menghentikan program nuklir dan menyerahkan seluruh uranium yang diperkaya, sementara Teheran menolak dan meminta pengakuan atas hak pengayaan uranium mereka.
Perundingan ini terjadi pasca serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat pertahanan Iran lainnya. Iran membalas dengan serangan ke Israel dan aset militer AS di negara-negara Teluk, serta menutup Selat Hormuz yang vital bagi pelayaran minyak global.














