KANALBERITA.COM – Langit malam Indonesia akan dihiasi peristiwa astronomi langka pada Minggu, 26 April 2026, yaitu fenomena ‘gerhana’ bintang atau yang secara ilmiah dikenal sebagai okultasi asteroid.
Peristiwa langka ini dipastikan dapat diamati dari berbagai wilayah di Indonesia, sebagaimana diungkapkan oleh Observatorium Bosscha.
Okultasi asteroid adalah sebuah fenomena di mana sebuah asteroid melintas di depan sebuah bintang, sehingga menutupi cahaya bintang tersebut dari pandangan pengamat di Bumi. Meskipun secara visual menyerupai gerhana, ini berbeda dengan gerhana Matahari atau Bulan karena hanya melibatkan bintang dan asteroid.
Fenomena ini menawarkan kesempatan unik untuk mempelajari lebih lanjut tentang objek-objek di luar angkasa. Meskipun cahaya bintang hanya meredup sesaat, nilai ilmiah dari pengamatan ini sangat tinggi.
Okultasi Asteroid Strenua jadi Perhatian Astronom
Observatorium Bosscha mengidentifikasi bahwa okultasi yang akan terjadi melibatkan asteroid bernama (1201) Strenua yang akan melintas di depan bintang HIP 35933 (HD 58050).
“Fenomena ini terjadi ketika asteroid (1201) Strenua melintas di depan bintang HIP 35933 (HD 58050) dan menutupi cahayanya selama beberapa detik,” jelas pihak Bosscha dalam keterangan resminya.
Asteroid Strenua merupakan bagian dari sabuk asteroid utama yang mengorbit Matahari di antara planet Mars dan Jupiter. Berdasarkan studi sebelumnya, asteroid ini memiliki diameter puluhan kilometer dan termasuk objek yang redup.
Oleh karena itu, pengamatan melalui metode okultasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk mendapatkan data akurat mengenai bentuk dan dimensi asteroid ini. Untuk mendukung pengamatan fenomena ini, Observatorium Bosscha memprakarsai Kampanye Nasional Pengamatan Fenomena Langit Langka Okultasi Asteroid Strenua.
Kampanye ini akan melibatkan 44 titik pengamatan dari 34 institusi, komunitas, dan kontributor individu di seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu kolaborasi pengamatan astronomi berbasis publik terbesar di Indonesia. Observatorium Bosscha sendiri akan menempatkan empat tim pengamat di Lembang, Ciater (Subang), dan Kupang (Nusa Tenggara Timur). Kupang dipilih karena dinilai memiliki peluang kondisi cuaca yang lebih baik untuk keberhasilan pengamatan.












