KANALBERITA.COM – Pergeseran konfigurasi geopolitik global dinilai tengah memasuki fase yang semakin kompleks. Ketegangan di Timur Tengah, menguatnya kerja sama Turki, Pakistan dan Arab Saudi, serta persaingan Amerika Serikat dengan kekuatan lain seperti China dan Rusia menunjukkan bahwa tatanan dunia lama mulai mengalami perubahan.
Pengamat ekonomi politik dan geopolitik Ichsanuddin Noorsy menilai perubahan tersebut tidak dapat dibaca hanya dari sisi kekuatan militer. Menurut dia, konfigurasi kekuatan global kini melibatkan sedikitnya aspek finansial, digital, militer, industri, hingga modal sosial.
“Strukturnya sekarang bukan sekadar military industrial complex. Bukan lagi sekadar financial and military industrial complex, tapi sudah financial digital military industrial complex,” kata Ichsanuddin dalam sebuah wawancara.
Menurut dia, perkembangan konflik di Timur Tengah memperlihatkan bagaimana negara-negara di kawasan mulai menghitung kembali kepentingan dan posisi strategis masing-masing. Turki, Pakistan dan Arab Saudi, misalnya, menghadapi tantangan yang tidak sederhana karena harus berhadapan dengan ancaman Israel sekaligus mempertimbangkan pengaruh Iran.
Ichsanuddin menilai kecenderungan tersebut merupakan bagian dari perubahan lebih besar dalam sistem internasional. Di satu sisi, hegemoni Barat dinilainya mulai mengalami pelemahan. Namun, di sisi lain, belum muncul tatanan dunia baru yang benar-benar mapan.
“Hegemoni Barat dalam posisi luruh. Pada saat yang sama umat Islam belum bersatu dan masing-masing negara memperkuat diri,” ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat dunia berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Persaingan tidak lagi berlangsung semata-mata melalui perang konvensional, tetapi juga melalui kekuatan ekonomi, teknologi digital, sistem keuangan dan penguasaan informasi.
Karena itu, menurut Ichsanuddin, Indonesia perlu membaca perubahan geopolitik tersebut dengan pendekatan multidimensional. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak hanya memperhatikan neraca perdagangan, kekuatan pertahanan atau hubungan diplomatik, tetapi juga perkembangan teknologi digital, modal sosial, sejarah konflik, kepemimpinan dan kepentingan strategis setiap negara.
“Ini multi variabel. Kalau pakai kajian yang saya bangun, minimal kita punya tujuh variabel,” katanya. Variabel tersebut, antara lain, mencakup modal sosial, finansial, digital, sejarah peperangan, kebutuhan masyarakat, semangat juang, serta kualitas kepemimpinan.
Dalam konteks Indonesia, Ichsanuddin menilai tantangan geopolitik global harus dibaca bersamaan dengan persoalan domestik. Menurut dia, Indonesia menghadapi persoalan modal sosial, politik dan ekonomi yang tidak dapat dipisahkan dari perubahan lingkungan strategis dunia.
Ia bahkan menyebut Indonesia tertinggal dalam membaca perubahan zaman. “Kalau pertanyaan gitu berkali-kali saya bilang Indonesia ketinggalan zaman 15–20 tahun,” ujarnya.
Ichsanuddin juga menyoroti pentingnya membangun kembali kepercayaan publik sebagai bagian dari ketahanan nasional. Ia menyebut tiga indikator utama krisis multidimensi, yakni social distrust, social disorder, dan social disobedience atau ketidakpercayaan publik, kekacauan sosial, serta pembangkangan sosial.
“Ketidakpercayaan publik. Satu ya. Publik tidak percaya. Dua, publik berantakan. Masyarakat tidak percaya, masyarakatnya amburadul, masyarakatnya membangkang,” katanya.
Bagi Indonesia, perubahan geopolitik global dengan demikian bukan hanya persoalan bagaimana memilih mitra strategis di antara kekuatan besar dunia. Persoalan yang tidak kalah penting adalah memperkuat fondasi ekonomi, politik dan sosial di dalam negeri agar Indonesia memiliki daya tawar dalam menghadapi perubahan tatanan dunia.
Ichsanuddin menilai pemerintah perlu melihat persoalan tersebut sebagai masalah sistemik dan struktural, bukan semata-mata persoalan kebijakan sektoral.
“Kita tidak bisa hanya membahas undang-undang karena dia sekadar membangun fungsi, yang menata fungsi, tapi tanpa kita sentuh visi, misi, dan pondasi. Karena problem kita problem kesalahan sistemik struktural,” ujarnya.
Dalam situasi ketika peta kekuatan dunia semakin cair, Indonesia dituntut tidak sekadar menjadi pengikut perubahan. Kemampuan membaca arah pergeseran kekuatan, menjaga kedaulatan ekonomi dan teknologi, serta memperkuat kohesi sosial akan menjadi modal penting agar Indonesia tetap memiliki ruang menentukan kepentingannya sendiri di tengah tatanan global yang sedang berubah.
Wartawan Senior yang masih aktif menulis dan pernah bekerja di sejumlah media seperti Majalah Percikan Iman, Media Official Persib.







