Oleh: Pri Hastanto*
*penulis adalah seorang tholibun berbagai pengajian dengan background arsitek dan master transportasi
Kanal Berita – – Setiap pagi atau sore, kota-kota besar di Indonesia menyuguhkan pemandangan yang hampir identik: lautan kendaraan yang mengalir lambat, atau bahkan berhenti total, di ruas-ruas jalan yang tidak lagi mampu menampung beban lalu lintas yang terus bertumbuh. Di balik setiap kemudi itu ada manusia dengan tujuan yang berbeda-beda, tetapi terjebak dalam nasib yang sama — menunggu di titik yang seharusnya hanya dilewati.
Bandung memberikan gambaran yang mewakili krisis ini secara nyata. Berdasarkan TomTom Traffic Index 2025, kota ini bertengger sebagai kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di Indonesia, dengan tingkat kemacetan mencapai 64,1 persen dan waktu tempuh rata-rata lebih dari 32 menit untuk setiap 10 kilometer. Angka-angka itu bukan sekadar statistik — ia adalah waktu hidup yang terbuang, energi yang terkuras, dan udara yang makin sulit dihirup.
Paradoks yang Luput dari Perhatian
Ada sebuah ironi yang jarang kita renungkan secara serius. Di saat azan Subuh berkumandang, barisan manusia berjalan menuju masjid. Di sana mereka berdiri dalam satu saf yang rapi, bahu-membahu, mengikuti imam dalam gerakan yang selaras dan teratur. Tidak ada yang mengungguli yang lain, tidak ada yang mengambil lebih banyak ruang dari yang ia butuhkan.
Namun begitu shalat berakhir dan pintu masjid terbuka, pemandangan itu sirna seketika. Setiap orang berpencar menuju kendaraan pribadinya masing-masing. Satu motor untuk satu pengendara. Satu mobil untuk satu penumpang, kadang dua. Ketika pola ini diulang oleh jutaan orang setiap harinya, lahirlah apa yang kita kenal sebagai kemacetan: sebuah akibat kolektif dari pilihan-pilihan individual yang tampaknya wajar tetapi dampaknya menghancurkan ruang bersama.
Pertanyaan yang layak kita hadapi: mengapa kita begitu natural mempraktikkan kebersamaan di dalam masjid, tetapi begitu sulit menerapkan prinsip yang sama di luar masjid?
Ta’awun: Lebih dari Sekadar Kata
Islam bukan agama yang hanya mengurus urusan ritual. Ia adalah tatanan kehidupan yang menjangkau seluruh dimensi — termasuk bagaimana kita bergerak di ruang publik yang kita gunakan bersama. Allah SWT berfirman dengan sangat jelas:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
Ta’awun, atau saling menolong dalam kebaikan, bukan sekadar ajaran tentang membantu tetangga yang kesulitan atau bersedekah kepada yang membutuhkan. Ia juga berbicara tentang cara kita mengelola sumber daya yang bersifat milik bersama. Jalan raya adalah salah satunya. Udara yang kita hirup adalah salah satunya. Waktu yang terbuang dalam kemacetan — milik seluruh pengguna jalan — adalah salah satunya.
Ketika lima orang menuju satu tujuan yang sama tetapi memilih lima kendaraan terpisah, mereka bukan hanya membuat keputusan pribadi — mereka turut menyumbang kepada beban kolektif yang ditanggung oleh seluruh pengguna jalan. Sebaliknya, ketika mereka memilih satu kendaraan bersama, atau memilih angkutan umum yang mampu memuat puluhan orang sekaligus, mereka sedang mempraktikkan bentuk ta’awun yang sangat konkret dan berdampak nyata.
Israf di Jalan: Berlebihan yang Tidak Kita Sadari
Islam pun mengenal konsep israf — berlebih-lebihan dalam penggunaan nikmat hingga melampaui batas yang semestinya. Allah SWT mengingatkan:
“…makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf [7]: 31)
Ayat ini turun dalam konteks makan dan minum, tetapi prinsipnya merentang jauh lebih luas. Dalam konteks mobilitas, israf hadir dalam wujud yang tidak selalu kita sadari: mengganti kendaraan bukan karena sudah tidak layak, melainkan karena ingin tampil lebih mewah. Memiliki dua atau tiga kendaraan dalam satu keluarga ketika satu sudah mencukupi. Menggunakan mobil untuk perjalanan yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik angkutan umum.
Pilihan-pilihan individual ini terasa ringan di tingkat personal. Tetapi ketika dilakukan secara massal oleh jutaan orang setiap harinya, bebannya tidak lagi bersifat personal. Ia menjadi beban infrastruktur, beban lingkungan, dan beban sosial yang harus ditanggung bersama — termasuk oleh mereka yang tidak ikut berkontribusi pada penumpukan kendaraan itu.
Tanggung Jawab yang Terbagi, Bukan yang Dilempar
Namun adil kiranya bila kita tidak semata-mata menunjuk jari kepada masyarakat. Kemacetan adalah persoalan sistem, dan sistem melibatkan setidaknya tiga pihak yang semuanya harus ikut bertanggung jawab.
Pemerintah sebagai regulator memiliki amanah yang paling mendasar: menyediakan pilihan mobilitas yang layak. Transportasi umum yang aman, nyaman, terjangkau, tepat waktu, dan benar-benar terintegrasi antarmoda adalah prasyarat sebelum masyarakat bisa diminta untuk meninggalkan kendaraan pribadi mereka. Tidak adil meminta rakyat naik bus jika bus tidak pernah datang tepat waktu, halte tidak layak untuk berdiri, dan rute tidak menjangkau tujuan yang mereka butuhkan.
Operator angkutan pun memiliki tanggung jawab yang tidak bisa dialihkan. Kendaraan yang laik, pengemudi yang profesional, jadwal yang bisa dipercaya, dan pelayanan yang terus diperbaiki bukan sekadar keunggulan kompetitif — itu adalah syarat minimum agar masyarakat memiliki alasan untuk memilih angkutan umum. Ketika pelayanan buruk, kepercayaan runtuh, dan masyarakat kembali kepada kendaraan pribadi. Lingkaran setan pun kembali berputar.
Baru setelah dua prasyarat itu terpenuhi, masyarakat dapat diminta untuk ikut memikul tanggung jawabnya. Ketika pilihan yang baik sudah tersedia, maka pertanyaannya menjadi berbeda: bukan “mengapa transportasi buruk”, tetapi “mengapa saya tidak memilih pilihan yang lebih baik untuk kepentingan bersama?”
Prinsip Wasathiyah: Tengah-tengah, Bukan Ekstrem
Islam mengajarkan wasathiyah — jalan tengah yang berimbang. Bukan berarti seluruh masyarakat harus berhenti menggunakan kendaraan pribadi sekarang juga. Bukan pula berarti pemerintah harus melarang kepemilikan kendaraan. Yang dimaksud adalah keseimbangan yang dilandasi kesadaran.
Kendaraan pribadi memiliki fungsi dan manfaatnya sendiri. Ia tidak selalu bisa digantikan, terutama dalam kondisi tertentu, untuk kebutuhan tertentu, atau di wilayah yang memang belum terjangkau angkutan umum. Yang perlu diperiksa adalah apakah setiap perjalanan yang kita lakukan dengan kendaraan pribadi memang tidak bisa digantikan oleh pilihan lain? Apakah jarak yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selalu kita ambil dengan motor? Apakah perjalanan yang bisa dilakukan bersama selalu kita ambil sendiri?
Jika lima orang dari satu komplek perumahan menuju satu kawasan perkantoran yang sama setiap pagi, mereka bisa memilih car pooling. Jika ratusan orang menuju pusat kota di jam yang sama, satu bus yang baik bisa mengangkut mereka semua tanpa melipatgandakan kepadatan di jalan. Pilihan-pilihan kecil ini, bila dilakukan secara massal, menghasilkan dampak yang sangat besar.
Belajar dari Saf: Kebersamaan yang Bisa Dipindahkan
Ada sesuatu yang indah dari saf dalam shalat berjamaah. Tidak ada satu pun yang mengambil ruang lebih dari yang ia butuhkan. Setiap orang berdiri tepat di tempat yang sudah ditentukan, mengikuti gerakan bersama, menundukkan ego demi keselarasan yang lebih besar. Dan hasilnya adalah ibadah yang bernilai lebih tinggi dibanding shalat sendiri — dua puluh tujuh derajat, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Mungkin kota kita tidak membutuhkan jalan yang lebih lebar saja. Ia membutuhkan jiwa-jiwa yang sudah terlatih dalam masjid untuk berpindah saf — mau berbagi ruang, mau mengedepankan kepentingan bersama, mau tidak selalu memaksakan diri untuk berdiri paling depan sendirian.
Kemacetan, pada akhirnya, adalah cermin. Ia memperlihatkan kepada kita seberapa jauh nilai-nilai yang kita pelajari di dalam masjid benar-benar telah meresap ke dalam cara kita hidup di luar masjid. Dan mungkin itulah pekerjaan rumah terbesar kita sebagai umat: bukan sekadar memperbanyak saf, tetapi memperluas jiwa yang mau berjamaah — sampai ke jalan raya, sampai ke pilihan kendaraan, sampai ke cara kita memperlakukan ruang yang kita gunakan bersama.[ ]
Wartawan Senior yang pernah bekerja di sejumlah media seperti Majalah Suara Hidayatullah dan Majalah Percikan Iman







