Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Kepemimpinan Nabi Saw Yang Melayani Bukan Minta Dilayani

×

Khutbah Jumat: Kepemimpinan Nabi Saw Yang Melayani Bukan Minta Dilayani

Sebarkan artikel ini
Khutbah Jumat
foto: dok.pribadi

(Rasulullah Saw sebagai Role Model Kepemimpinana)

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,M.Ag*

Ulama

*penulis adalah Kepala Kepesantrenan Pontren Al Ashr Al Madani Jl. Arcamanik 48 Bihbul Sindanglaya Bandung dan Anggota Majlis Fatwa Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PB MA)

 

Khutbah Pertama:

 

ٱلْـحَمْدُ لِلَّهِ كَمَا يَجِبُ عَلَيْنَا مِنْ حَمْدِهِ وَتَعْظِيمِهِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَىٰ إِحْسَانِهِ وَإِنْعَامِهِ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا زَوَالَ لِمُلْكِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ٱلْقَائِمَ بِنَصْرِهِ.

وَصَلَّى ٱللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ٱلَّذِينَ جَاهَدُوا فِي سَبِيلِهِ، وَمَنِ ٱقْتَفَىٰ شَرْعَهُ، وَتَمَسَّكَ بِمِدَانِهِ.

اما بعد :

فيا ايُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Menyanjung dan memuji serta syukur kepada Allah SWT  yang telah memberi karunia yang tak bertepi tak berbatas, karunia yang tiada terhingga, baik karunia berupa kesehatan jasmani dan rohani, karunia fasilitas logistik yang telah Allah SWT cukupkan untuk kita, sehingga hari Jum’at ini kita masih mendapat perkenannya untuk terus beribadah, baik ibadah fardiyyah/individual maupun ibadah secara berjamaah/komunal. Alhamdulillaah.

 

Shalawat dan kesejahteraan semoga selalu di salurkan kepada Junjunan kita yakni Nabi Besar Muhammad saw beserta seluruh keluarganya, para sahabatnya serta ummatnya hingga hari akhir zaman.

 

Selaku khatib Jum’at, saya berwasiat khususnya kepada pribadi sendiri dan kepada kita, marilah kita memantapkan takwa kepada Allah SWT dengan lebih santun dan lembut lagi dalam setiap kita melaksanakan perintah Allah SWT dan meninggalkan yang dilarang oleh Allah SWT.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Allah,
Hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang memprihatinkan di tengah umat. Banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan dan posisi kepemimpinan, namun sedikit yang memahami esensi dari amanah tersebut.

 

Kita sering melihat pola kepemimpinan yang feodal, di mana pemimpin memposisikan diri sebagai “raja” yang harus dilayani, bukan sebagai “pelayan” yang melayani. Mentalitas minta dilayani ini telah mengakar, menciptakan jarak antara pemimpin dan rakyat, antara atasan dan bawahan, bahkan antara ulama dan umat.

 

Padahal, kita memiliki sosok agung yang seharusnya kita teladini uswah hasahnya, yaitu  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau adalah pemimpin negara, panglima perang, sekaligus imam besar. Namun, apakah beliau hidup di istana megah dengan pelayan yang berbaris? Tidak. Beliau menambal bajunya sendiri, memeras susu kambingnya sendiri, dan duduk sama rendah bersama para sahabatnya. Inilah tema khutbah kita hari ini: “Rasulullah sebagai Role Model: Kepemimpinan Nabi yang Melayani, Bukan Minta Dilayani.”

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Kepemimpinan Nabi saw adalah kasih sayang dan kelembutan. Beliau tidak memimpin dengan tangan besi atau arogansi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan karakter ini dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 159:

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”  (QS. Ali ‘Imran: 159).

 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa soft skill atau kelembutan hati adalah modal utama seorang pemimpin. Kata ‘فظا/fazhzhan’ (bersikap keras) dan ‘غليظ القلب/ghalizhal qalbi’ (berhati kasar) adalah sifat yang dibenci dalam Islam bagi seorang pemegang amanah.

 

Rasulullah saw melayani umatnya dengan mendengarkan keluh kesah mereka, memaafkan kesalahan mereka, dan mengajak mereka bermusyawarah. Ini adalah bentuk pelayanan psikologis dan emosional yang luar biasa dari seorang pemimpin kepada rakyatnya.

 

Sebagai penguat, mari kita renungkan do’a Rasulullah Saw bagi para pemimpin umat. Beliau memberikan ancaman sekaligus harapan sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat muslim:

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

 

“Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyayangi (berlemah lembut) kepada mereka, maka sayangilah dia.”  (HR. Muslim, No. 1828).

 

Hadits ini mengandung doa mustajab dari Nabi. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja-baik kepala keluarga, ketua RT, pejabat, hingga pemimpin negara-yang menggunakan kekuasaannya untuk mempersulit urusan orang lain demi minta dilayani atau dihormati. Sebaliknya, pemimpin yang melayani dan memudahkan urusan orang lain didoakan langsung oleh Nabi agar Allah memudahkan hidupnya.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Bukti nyata bahwa Nabi saw melayani dan bukan minta dilayani terlihat dari keseharian beliau di dalam rumah. Seringkali, karakter asli seseorang terlihat saat ia berada di rumahnya. Allah memerintahkan Nabi untuk merendahkan hati, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 215:

 

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

 

“Dan rendahkanlah hatimu (berbuat baiklah) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”  (QS. Asy-Syu’ara: 215).

 

Perintah “واحفظ جناحك/Wakhfidz janahaka” (rendahkanlah sayapmu) adalah metafora indah tentang perlindungan, pengayoman, dan pelayanan tanpa batas atau sekat status sosial.

 

Bagaimana implementasinya? Lihatlah kesaksian istri beliau, Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dalam Hadits Riwayat Al-Bukhari:

 

سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

 

“Aku (Al-Aswad) bertanya kepada Aisyah: ‘Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumahnya?’ Aisyah menjawab: ‘Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya (melayani keluarganya). Namun, jika waktu shalat tiba, beliau segera keluar untuk shalat.’”  (HR Bukhari, No 676).

 

Bayangkan, seorang Rasul pilihan Allah tidak gengsi menjahit bajunya yang robek, memperbaiki sandalnya, atau membantu pekerjaan rumah tangga. Beliau tidak duduk manis menunggu dilayani istri atau sahabatnya. Jika kepada keluarga saja beliau melayani, apalagi kepada umatnya. Inilah Role Model sejati.

 

Lalu, apa solusinya bagi kita? Solusinya adalah menanamkan mindset bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab (mas’uliyyah), bukan kemuliaan (tasyriif). Kita harus kembali meneladani beliau secara utuh. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”  (QS. Al-Ahzab: 21).

 

Meneladani beliau berarti siap cape, siap berkorban, dan siap melayani. Sebagai motivasi akhir di khutbah pertama ini, ingatlah sabda Nabi tentang hakikat setiap kita adalah pemimpin yang akan diaudit kinerjanya:

 

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala negara/wilayah) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas keluarganya…”  (HR. Bukhari, No. 893 & Muslim, No. 1829).

 

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong dan gila hormat, serta dianugerahi hati yang tulus untuk melayani sesama semata-mata karena Allah.

 

بَارَكَ اللُه لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَه الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Khutbah Kedua:

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللِ، اتَّقُوا اللَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Sebagai ringkasan dari khutbah ini, mari kita tanamkan dalam hati bahwa jabatan, harta, dan kedudukan hanyalah titipan sesaat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa banyak orang yang melayaninya, tetapi seberapa besar manfaat dan pelayanan yang ia berikan kepada orang lain. Sayyidul qaumi khadimuhum (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).

 

Mari ubah orientasi hidup kita: dari mentalitas “ingin dilayani” menjadi mentalitas “siap melayani” demi meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Marilah kita menundukkan kepala dan hati, memohon kepada Allah agar negeri ini dikaruniai para pemimpin yang melayani rakyatnya dengan tulus, serta agar kita dijaga dari fitnah kekuasaan.

 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

اللَّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنَا شِرَارَنَا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِينَا وَلَا يَرْحَمُنَا

 

(Ya Allah, angkatlah untuk kami pemimpin-pemimpin yang terbaik di antara kami, dan janganlah Engkau angkat pemimpin yang buruk di antara kami. Ya Allah, janganlah Engkau kuasakan kepada kami-disebabkan dosa-dosa kami-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami).

 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللِ أَكْبَرُ، وَاللُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Example 300x600