KANALBERITA.COM – Prix Versailles resmi merilis daftar tujuh bandara paling indah di dunia tahun 2026 yang dinilai berdasarkan keunggulan arsitektur, inovasi infrastruktur, dan kenyamanan fasilitas bagi penumpang. Pemilihan lokasi ini mencakup berbagai negara di Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat sebagai simbol modernitas dan identitas budaya suatu wilayah.
Daftar bandara yang dinobatkan sebagai yang terindah tahun ini meliputi Terminal 3 Bandara Internasional Guangzhou Baiyun di China, Terminal 3 Bandara Frankfurt di Jerman, serta Terminal 2 Bandara Internasional Lokapriya Gopinath Bordoloi di India. Selain itu, Terminal 1 Bandara Internasional Navi Mumbai, Bandara Internasional Techo di Kamboja, Bandara Internasional Pittsburgh, dan Terminal 1 Bandara Internasional San Diego turut masuk dalam kategori tersebut.
Setiap bandara yang terpilih menampilkan perpaduan harmonis antara fungsi operasional dan estetika visual. Desain yang diusung tidak hanya berfokus pada kemegahan struktur fisik, tetapi juga memperhatikan penggunaan pencahayaan alami serta integrasi ruang publik yang mampu memberikan pengalaman perjalanan lebih berkelas bagi para wisatawan global.
Jérôme Gouadain selaku Sekretaris Jenderal Prix Versailles menyatakan bahwa bandara masa kini telah berkembang menjadi simbol penting yang mencerminkan karakter suatu wilayah dan zamannya, sebagaimana disampaikannya pada Minggu, 5 Juli 2026.
Daftar Bandara dengan Arsitektur Memukau
Khusus untuk Terminal 3 Bandara Frankfurt, fasilitas ini menjadi satu-satunya wakil dari benua Eropa dalam daftar tersebut. Terminal yang mulai beroperasi pada April 2026 ini dirancang dengan konsep kota yang memiliki area gerbang serta lounge menyerupai jalanan dan alun-alun publik. Penggunaan material seperti batu kapur jura dan travertine memberikan nuansa hangat, ditambah dengan instalasi seni gantung yang memperkuat estetika bangunan.
Sementara itu, bandara-bandara lainnya seperti di India dan Kamboja mendapatkan pengakuan karena keberhasilan arsitek dalam menyematkan unsur budaya lokal ke dalam desain kontemporer. Pendekatan ini menunjukkan tren global di mana infrastruktur transportasi udara tidak lagi sekadar menjadi tempat transit, melainkan destinasi yang merepresentasikan kemajuan teknologi sekaligus identitas sebuah bangsa.








