KANALBERITA.COM – Di tengah persaingan bisnis kuliner yang terus berkembang, Rumah Makan Jejamuran di Sleman, Yogyakarta, menawarkan kisah yang berbeda. Usaha yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner berbasis jamur itu tidak lahir dari ambisi untuk membangun perusahaan besar. Jejamuran justru bermula dari kegelisahan seorang pria yang ingin menjalani masa tua secara mandiri.
Adalah Ratidjo, pria kelahiran 1944, yang merintis usaha tersebut. Memasuki usia 54 tahun pada 1997, ia mulai memikirkan kehidupan setelah tidak lagi bekerja. Sebagai pekerja swasta yang tidak memiliki pensiun, Ratidjo ingin memastikan dirinya tidak menjadi beban bagi anak-anaknya.
“Saya kepengin hari tua saya jangan membebani anak. Saya kepengin menjadi orang tua yang mandiri karena kebetulan saya bekerja di swasta, enggak punya pensiun,” ujar Ratidjo.
Pilihan Ratidjo jatuh pada budidaya jamur. Namun, persoalan baru segera muncul. Produksi jamur segar yang dihasilkan tidak seluruhnya terserap pasar. Saat itu, masyarakat Indonesia juga belum terbiasa mengonsumsi jamur hasil budidaya. Sebagian bahkan masih menyimpan kekhawatiran terhadap jamur karena pengalaman mengonsumsi jamur liar yang tumbuh pada musim hujan.
Kondisi tersebut membuat Ratidjo menyadari bahwa persoalannya bukan sekadar menjual produk, melainkan membangun pemahaman masyarakat.
Ia kemudian memilih pendekatan edukasi. Dengan dibantu istrinya yang memiliki kemampuan memasak, jamur segar diolah menjadi berbagai menu. Ratidjo pun menjual masakan tersebut dari rumah ke rumah sambil menjelaskan kepada masyarakat mengenai jamur budidaya.
Berawal dari angkringan
Upaya itu tidak berlangsung singkat. Selama sekitar tiga tahun, ia berkeliling dari rumah ke rumah. Setelah itu, pada 2006, Ratidjo mulai membangun angkringan. Konsumen yang datang tidak hanya diajak makan, tetapi juga berbincang dan melihat langsung kebun jamur di belakang rumah.
Dari pengalaman sederhana itulah konsep Jejamuran berkembang. Konsumen datang bukan hanya untuk menyantap makanan, tetapi juga belajar mengenai budidaya jamur. Promosi dari mulut ke mulut kemudian membuat jumlah pengunjung terus bertambah.
“Baru pada tahun 2006 saya membikin angkringan. Kemudian setiap konsumen yang datang saya ajak ngobrol, kemudian saya ajak ke kebun di belakang rumah, kemudian kita jelaskan cara menanam jamur,” katanya.
Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, rumah makan tersebut diperluas hingga mencapai sekitar 8.000 meter persegi. Ratidjo juga mengembangkan kebun jamur dan fasilitas pengolahan di Desa Dukuh dengan luas sekitar 2,5 hektare. Pengembangan tersebut berkaitan dengan banyaknya varietas jamur yang dibudidayakan Jejamuran, yang disebut mencapai 34 jenis.
Namun, perjalanan menuju titik tersebut jauh dari mudah. Ratidjo menyebut rentang 1997 hingga 2007 sebagai masa penuh perjuangan. Ia harus bertahan selama satu dekade untuk membangun fondasi usaha.
“Jadi, ternyata pebisnis yang bisa berhasil itu yang tahan melewati proses. Karena di dalam melewati proses itulah kita banyak pelajaran yang luar biasa,” ujarnya.
Bagi Ratidjo, proses tersebut bukan sekadar menguji kemampuan teknis berbisnis. Masalah yang muncul justru menjadi ruang untuk membentuk keterampilan, pola pikir, dan sikap. Ketiganya, menurut dia, pada akhirnya menjadi karakter seorang pengusaha.
Pelajaran penting lain yang ia pegang adalah bisnis tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Menurut Ratidjo, kepercayaan justru dapat menjadi modal awal yang sangat penting.
“Kalau kita mau mulai bisnis, yuk mulai saja. Jadi modal itu enggak penting. Yang penting kalau mau bisnis mulai saja, di situ akan baru dapat pelajaran,” katanya.
Bisnis hulu ke hilir
Jejamuran juga dibangun dengan prinsip hulu-hilir. Ratidjo tidak hanya mengandalkan penjualan jamur segar, tetapi mengolah hasil produksi yang tidak terserap pasar menjadi produk bernilai tambah. Ia membangun pabrik pengalengan untuk mengamankan hasil produksi, termasuk mengolah jamur menjadi produk seperti rendang jamur kaleng. Jamur berukuran kecil juga dapat diolah menjadi keripik.
Strategi itu menjadi salah satu kunci Jejamuran mampu bertahan. Ketika sebagian hasil budidaya tidak terserap pasar segar, produk tersebut tidak berhenti sebagai kerugian, tetapi masuk ke lini pengolahan.
“Kalau hulu-hilir dijual segar enggak apa-apa. Tapi yang tidak laku itu bisa diolah. … Hilirnya itu yang menyelamatkan,” kata Ratidjo.
Menariknya, keberhasilan Jejamuran tidak membuat Ratidjo tergoda membuka banyak cabang. Ia justru memilih menjaga bisnis tetap terkendali dengan fokus pada arus kas dan kesinambungan usaha.
“Bagi saya bisnis itu bukan ukurannya besar kecilnya usaha. Bagi saya bisnis itu yang penting cash flow-nya lancar, cash flow-nya bergerak, uangnya berputar,” ujarnya.
Bagi Ratidjo, Jejamuran bukan sekadar aset pribadi. Ia ingin usaha tersebut dapat diteruskan oleh generasi berikutnya. Karena itu, keberlanjutan menjadi tujuan yang lebih penting daripada ekspansi tanpa batas.
“Saya tidak ingin perusahaan Jejamuran menjadi besar, tapi saya ingin perusahaan ini berkelanjutan,” katanya.
Pengelolan SDM
Prinsip serupa diterapkan dalam mengelola sumber daya manusia. Ratidjo menilai kekuatan perusahaan justru harus dibangun dari dalam. Ia tidak semata-mata mencari pekerja dengan pendidikan tinggi, melainkan orang yang mampu menjalankan pekerjaan dengan hati dan memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.
Bahkan bagi Ratidjo, konsumen menempati posisi istimewa. Ia memandang konsumen sebagai tamu sekaligus pihak yang menghidupi perusahaan.
“Saya sadar, saya itu paham konsumen itu kan tamu saya. Dan yang kedua, konsumen itu juragan saya. Itu yang menghidupi saya. Saya mesti harus senyum, saya mesti harus memberikan pelayanan yang baik,” tuturnya.
Kini, setelah perjalanan panjang sejak 1997, Jejamuran menjadi gambaran bagaimana sebuah usaha dapat tumbuh dari persoalan sederhana: produksi yang tidak laku. Dari sana lahir inovasi, edukasi konsumen, integrasi hulu-hilir, hingga gagasan tentang bisnis yang diwariskan lintas generasi.
Bagi calon pengusaha, terutama anak muda, Ratidjo menyampaikan pesan sederhana: jangan menunggu semuanya sempurna untuk memulai.
“Kalau mau bisnis yo mulai saja. … Kalau nunggu siap, enggak pernah siap-siap, enggak pernah jadi pengusaha,” katanya.
Pada akhirnya, perjalanan Jejamuran menunjukkan bahwa keberhasilan usaha tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat bisnis menjadi besar. Ketahanan menghadapi proses, kemampuan membaca persoalan, mengolah peluang, serta menjaga keberlanjutan justru menjadi fondasi yang membuat sebuah usaha mampu bertahan melewati perubahan zaman.
Wartawan Senior yang pernah bekerja di sejumlah media seperti BagikanBerita com dan menjadi Pemimpin Redaksi di Majalah Percikan Iman













