HeadlineNasional

Polemik Pelaporan Pandji Pragiwaksono: KH Athian Ali Tegaskan Perbedaan Kritik dan Penghinaan

×

Polemik Pelaporan Pandji Pragiwaksono: KH Athian Ali Tegaskan Perbedaan Kritik dan Penghinaan

Sebarkan artikel ini
Pandji Pragiwaksono
Komika Pandji Pragiwaksono ( foto: media indonesia)

BANDUNG, Kanal Berita – – Kasus pelaporan komika Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya menuai respons dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama. Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M.Dai.Lc,MA memberikan pandangan mendalam soal pentingnya kritik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Pandji dilaporkan atas dugaan penghasutan dan penodaan agama terkait materi dalam pertunjukan tunggalnya bertajuk “Mens Rea”. Laporan yang tercatat dengan nomor STTLP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA itu diajukan oleh pihak yang mengklaim mewakili Angkatan Muda Nahdlatul Ulama dan Aliansi Muda Muhammadiyah.

 

Dalam laporannya, pelapor menjerat Pandji dengan Pasal 242 dan/atau 243 KUHP terkait penodaan agama, serta Pasal 300 dan/atau Pasal 301 KUHP yang baru berlaku terkait penghasutan. Menariknya, baik PP Muhammadiyah maupun PB NU telah membantah keterlibatan lembaga mereka. Kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu menegaskan tidak ada laporan resmi dari institusi dan tidak mengenal siapa pelapor yang mengatasnamakan mereka.

 

Merespons kasus ini, KH Athian Ali menjelaskan prinsip fundamental dalam Islam tentang pentingnya saling menasihati. Beliau merujuk pada Surat Al Asr ayat 1-3 yang menegaskan bahwa manusia akan mengalami rugi dan celaka, baik di dunia terutama di akhirat, apabila tidak saling mengingatkan.

 

“Kalau seseorang  hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.Tidak peduli  orang lain mau selamat atau tidak,  maka orang yang berpikir dan bersikap seperti itu dalam Islam sangat tidak selamat,” terang KH Athian saat ditemui di Bandung, Senin (12/1/2026).

 

Menurut KH Athian, seseorang tidak akan selamat manakala hanya  beriman dan beramal saleh saja.

“Sebab selain para Nabi dan Rasul yang dimaksum, tidak ada seorang pun  yang luput dari kesalahan dan kekhilafan, sehingga agar selamat, tidak cukup seseorang hanya beriman dan bertekad beramal saleh saja, tapi harus ada pihak yang siap mengingatkan ketika dirinya melakukan kekhilafan, agar yang bersangkutan tidak semakin hanyut dalam kesalahan,” imbuhnya.

 

Dalam konteks kasus Pandji, KH Athian menilai apa yang dilakukan komika tersebut masih dalam batas kritik atau nasihat. Dalam ajaran Islam dikenal dengan konsep Amar ma’ruf nahi munkar atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.

 

KH Athian menegaskan bahwa kritik seharusnya mendapat ruang di negara yang menganut sistem demokrasi. “Kritik itu harusnya diberi ruang seluas-luasnya di negeri ini. Setiap pejabat negara, wakil rakyat, aparat, tokoh masyarakat, ulama dan siapapun harus dengan lapang dada menerima kritikan.  Bahkan selayaknya bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada pihak yang mengkritik,  karena hakikatnya yang mengkritik itu disatu sisi mencintai pihak yang dikritiknya agar tidak semakin hanyut dalam kesalahan,  dan disisi lain mencintai negeri ini agar tidak semakin rusak oleh sebab kebatilan yang terus berlangsung tanpa ada upaya menghentikannya,” terang KH Athian.

KH Athian Ali
Ketua Umum Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH.Athian Ali,M.Dai ( foto: dok.pribadi)

Terlebih lagi menurut KH Athian, jika yang melakukan kesalahan pimpinan tertinggi atau pejabat tinggi negara. Ini tentu saja dampaknya akan sangat fatal sekali bagi kemaslahatan negara.

Dalam kaitan ini, KH Athian  mencontohkan bagaimana Khalifah Abu Bakar al-Siddiq Ra, pada pidato perdananya menjabat khalifah beliau diantaranya menyatakan : Wahai saudaraku,  kini saya menjadi pemimpin atas kalian, tapi itu tidak berarti saya yang terbaik diantara kalian. Karenanya,  jika nanti saya berbuat baik dan benar, maka dukunglah saya. Sebaliknya jika saya melakukan kesalahan,maka tegurlah saya ” Ketika isi pidato yang hampir sama juga diucapkan Amirul mukminin Umar bin Khattab Ra, tiba-tiba berdiri sekelompok pemuda yang sambil menghunus pedang, mereka menyatakan: ” Wahai Umar,  kami siap menegur anda dengan pedang-pedang kami ini jika anda nanti melakukan kesalahan ”  Mendengar itu Umar pun kemudian mengulurkan kedua tangannya seraya berkata : ” Alhamdulillah,  telah ada sekelompok pemuda yang siap menegur Umar dengan pedang-pedang mereka, jika Umar melakukan kesalahan ”

 

” Prinsip yang sangat mendasar ini  harus ditegakkan  agar negeri yang menganut asas demokrasi ini bisa semakin baik dimasa mendatang. Bila ada orang yang mengkritik, lalu kemudian dikriminalisasi, besok-besok orang jadi takut untuk mengkritik. Maka kezaliman akan terus berjalan dan tidak akan pernah terwujud kebaikan,” tegas KH Athian.

 

KH Athian menekankan,  tidak seharusnya ada pihak yang merasa tersinggung atau terhina karena menerima kritikan.

 

” Memang tidak senua orang yang bersalah itu berlapang dada menerima kritikan, terutama jika yang bersangkutan publik figur. Namun kritik harusnya dimaknai sebagai sebuah bentuk cinta dan kasih sayang dengan bahasa yang menyinggung. Sebab kalau menyenangkan itu namanya pujian bukan kritikan,” terang KH Athian.

 

Meski demikian, KH Athian sepakat bahwa Islam melarang menghina pribadi seseorang, khususnya aspek fisik, serta tidak membenarkan penghinaan terutama terhadap agama dan keyakinan. Karenanya beliau berharap, masyarakat dan pemerintah mampu membedakan antara kritik, penghinaan, dan pelecehan.

 

“Janganlah sedikit-sedikit kritikan dikategorikan sebagai penghinaan atau pelecehan. Harus bisa dibedakan antara mengkritik dengan menghina. Yang disebut menghina itu jika menyatakan sesuatu yang tidak sebenarnya. A dibilang B itu menghina, tetapi kalau A dikatakan A tentu saja itu kenyataan bukan penghinaan,” jelas KH Athian.

 

Terkait pernyataan Pandji tentang dua ormas Islam yang menerima proyek tambang, KH Athian menyebut bahwa kedua organisasi tersebut faktanya memang menerima  konsesi tambang yang ditawarkan pemerintah. Artinya, pernyataan tersebut berdasarkan fakta, bukan fitnah,” pungkasnya. [ ]

Example 300x600
Khutbah Jumat
Headline

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA* *penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten   Khutbah Pertama:   الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ…