Oleh : Eunike Lisi Cintani Putri, S.Psi.
Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University
Kekerasan dalam pacaran sering kali tidak disadari karena berkedok rasa cinta atau cemburu, padahal bisa membuat mental perempuan sangat tertekan hingga memicu trauma mendalam. Sayangnya, banyak korban lebih memilih memendam masalah ini sendiri karena merasa malu, takut disalahkan, atau bingung harus meminta tolong ke siapa. Untuk itu, kita semua perlu bekerja sama saling merangkul korban lewat edukasi hubungan yang sehat, mengajak mereka berani curhat ke psikolog atau tenaga profesional, serta melatih teman dekat agar bisa menjadi pendengar yang baik.
Prolog: Kekerasan Dalam Pacaran
Pernahkah kita membayangkan bahwa di balik senyuman seorang perempuan, tersimpan luka batin akibat kekerasan dari orang yang dikasihinya? Kekerasan dalam pacaran (dating violence) adalah salah satu masalah serius yang dihadapi oleh remaja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia (Sugiharto & Aryanto, 2025). Menurut Shah et al., (2016) kekerasan yang terjadi dalam hubungan pacaran mencakup tindakan menyakiti fisik, verbal, psikologis yang bersifat menyakiti, membebani dan menimbulkan risiko dampak psikologis yang berkepanjangan. Seseorang yang pernah mengalami kekerasan dalam berpacaran tentu sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan bahkan mengerikan terlebih lagi pelakunya ialah seseorang yang disayangi, korban kekerasan dalam berpacaran akan memiliki konflik batin (Fani, 2023). Namun, banyak individu yang tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam hubungan yang tidak sehat, karena kekerasan sering kali disamarkan sebagai bentuk “perhatian lebih” atau “kecemburuan” (Zayyani & Nurhadiyanto, 2025).
Data dan Fakta
Kekerasan dalam pacaran (dating violence) kini menjadi ancaman nyata yang makin marak di sekitar kita. Secara global, tinjauan sistematis dari White dkk. (2024) menunjukkan bahwa 1 dari 4 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan dari pacarnya dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, angka seumur hidupnya mencapai 37,3%. Di dalam negeri kita sendiri, kondisinya gak kalah mengkhawatirkan. Berdasarkan data KPPPA tahun 2024, dari total 28.350 kasus kekerasan yang terlapor, mayoritas korbannya (80,1%) adalah remaja dan perempuan muda di rentang usia 13–24 tahun.
Fakta pahitnya, pacar justru menjadi pelaku dominan dengan menyumbang sekitar 4.000 kasus. Namun, kita harus ingat bahwa angka ini belum mencerminkan realitas seutuhnya. Seperti yang dijelaskan oleh Wong dkk. (2019), banyak korban yang enggan bersuara, sehingga angka aslinya di lapangan pasti jauh lebih besar.
Bukan Cuma Luka Fisik, Ini 3 Dampak Ngeri KDP bagi Kesehatan Mental Korban
Jika dibiarkan terus-menerus, kekerasan dalam pacaran bakal meninggalkan “luka tak kasat mata” yang bisa menghancurkan masa depan korbannya. Dampak psikologis yang ditimbulkan gak main-main, lho. Berikut adalah beberapa gangguan kesehatan mental yang mengintai korban kekerasan:
1. Terjebak dalam Depresi Berat dan Kecemasan Berlebih
Kamu harus tahu kalau korban punya risiko 3 kali lebih besar buat mengalami depresi berat dibanding mereka yang hubungannya sehat (Temple dkk., 2021; White dkk., 2024). Korban bakal sering merasa sedih berkepanjangan, putus asa, kehilangan minat pada hobi yang dulu mereka sukai, hingga terus-menerus diliputi rasa cemas yang berlebihan (Shorey dkk., 2022).
2. Mengalami Trauma Mendalam alias PTSD
Bayangkan gimana rasanya kalau setiap hari kamu harus menerima hinaan, ancaman, atau disakiti oleh orang yang katanya sayang sama kamu? Gak heran kalau banyak korban yang akhirnya mengalami Post-Traumatic Stress Disorder(PTSD).
Menurut riset Malherbe dkk. (2025), korban sering mengalami flashback, mimpi buruk, selalu merasa terancam (waspada berlebihan), hingga mati rasa secara emosional. Studi dari Temple & Freeman (2011) juga menegaskan kalau kekerasan psikologis (verbal/mental) punya efek merusak yang sama besarnya dengan kekerasan fisik dalam memicu PTSD.
3. Munculnya Pikiran hingga Percobaan Bunuh Diri
Ini adalah dampak paling fatal yang wajib kita waspadai. Berada dalam hubungan yang penuh kekerasan bisa membuat seseorang merasa terjebak tanpa jalan keluar. Data menunjukkan kalau korban KDP hampir dua kali lebih rentan buat merencanakan atau mencoba bunuh diri (Belshaw dkk., 2012; White dkk., 2024).
Bahkan, studi terbaru dari White dkk. (2024) menemukan fakta mengerikan bahwa kekerasan fisik dalam pacaran bisa meningkatkan risiko munculnya ide bunuh diri sampai 4,85 kali lipat! Ini adalah red flag sekaligus alarm bahaya yang sama sekali gak boleh kita abaikan.
Gak Cuma Takut, Ini Alasan Kenapa Korban KDP Lebih Memilih Diam dan Sulit Cari Pertolongan
Pernah gak kamu penasaran, kenapa sih korban kekerasan dalam pacaran sering kali memilih bungkam daripada melapor? Fakta di lapangan menunjukkan kalau sekitar 60% korban sama sekali gak mencari bantuan dari siapa pun.
Bukan karena mereka menikmati rasa sakitnya, tapi karena ada tembok penghalang besar yang membuat mereka merasa terjebak. Yuk, bedah alasannya satu per satu!
1. Tembok Psikologis dari Dalam Diri sendiri (Internal Barriers)
Menghakimi korban dengan kalimat “Kenapa gak putus aja sih?” itu gampang, tapi kondisi psikologis di dalam gak sesederhana itu. Menurut riset Bauer dkk. (2026), korban sering kali terjebak dalam rasa malu, takut pacarnya bakal balas dendam, hingga cenderung menyalahkan diri sendiri dengan pikiran, “Ini semua salahku.”
Gak cuma itu, studi dari Rusyidi & Hidayat (2020) juga mengungkap kalau banyak korban yang masih bertahan karena menyimpan harapan semu bahwa pasangannya suatu hari nanti bisa berubah jadi lebih baik.
2. Takut Dihakimi Lingkungan Sosial (Social & Cultural Barriers)
Di masyarakat kita, masih kental banget norma yang menganggap masalah pacaran itu urusan domestik atau privasi yang gak perlu dicampuri orang lain (Anyemedu dkk., 2017; Rohn & Tenkorang, 2022). Akibat budaya ini, korban jadi takut buat bersuara karena khawatir bakal dicap “gak becus jaga hubungan,” dihakimi, atau malah terkena victim blaming(disalahkan oleh lingkungan sekitar).
3. Birokrasi yang Rumit dan Minimnya Edukasi (Structural Barriers)
Terkadang, institusi resmi yang harusnya jadi tempat berlindung justru terasa mengintimidasi. Kurangnya pelatihan bagi guru, dosen, atau tenaga kesehatan dalam menangani korban trauma bikin korban ragu buat cerita (Allen-Leap dkk., 2022). Belum lagi adanya stigma kalau melapor ke polisi justru bakal bikin masalah makin panjang, ribet, dan memperumit keadaan. Akhirnya, korban memilih mundur teratur.
Ini 5 Strategi Keren buat Jaga Mental dan Cegah Trauma Berulang
Menghentikan kekerasan dalam pacaran gak bisa cuma modal pasrah. Perlu ada aksi nyata berupa promosi kesehatan mental dan pencegahan sejak dini biar gak ada lagi korban yang terjebak dalam lingkaran toxic ini.
Gak melulu kaku, ini dia 5 langkah efektif dan kekinian yang bisa kita lakukan bersama:
1. Edukasi Healthy Relationship Sejak Dini, Biar Gak Gampang Terkecoh
Pencegahan terbaik selalu dimulai dari pemahaman. Penting banget buat mengadakan program edukasi yang membekali remaja sebelum mereka mulai pacaran (Temple dkk., 2023).
Materi edukasinya pun harus blak-blakan dan komplet (Zayyani & Nurhadiyanto, 2025), meliputi:
● Cara bikin batasan pribadi (personal boundaries) yang tegas.
● Mengenali jenis-jenis kekerasan (bukan cuma fisik, tapi juga mental, seksual, hingga eksploitasi ekonomi).
● Memahami pentingnya persetujuan bersama (consent) dalam sebuah hubungan.
2. Bangun Safe Space alias “Jembatan Kepercayaan”
Setiap orang butuh setidaknya satu orang kepercayaan di hidupnya—entah itu orang tua, saudara, sahabat, atau dosen/guru di sekolah—tempat di mana mereka bisa tumpah ruah bercerita tanpa takut dihakimi (Hedge dkk., 2017). Riset dari Offenhauer & Buchalter (2011) juga membuktikan kalau kehangatan keluarga dan komunikasi yang terbuka adalah perisai paling ampuh buat melindungi seseorang dari risiko KDP.
3. Stop Stigma! Normalisasikan Konseling ke Psikolog
Sudah gak zamannya lagi menganggap pergi ke psikolog atau konselor itu berarti “gila”. Pikiran kuno seperti ini harus kita buang jauh-jauh!
Menurut Bauer dkk. (2026), berani mencari bantuan profesional adalah bentuk keberanian tertinggi dan wujud nyata dari self-care. Supaya korban gak ragu, layanan konseling masa kini wajib dikemas secara inklusif, mudah diakses lewat ponsel, murah, dan yang terpenting: menjamin kerahasiaan identitas korban.
4. Sulap Sahabat Jadi Peer Counselor yang Empatis
Faktanya, saat seseorang kena masalah, orang pertama yang dicari pasti sahabatnya sendiri (Ocampo dkk., 2007). Oleh karena itu, anak muda zaman sekarang perlu dibekali skill dasar jadi penolong pertama. Bukan buat jadi sok tahu, tapi buat belajar mendengarkan secara empatik, stop melakukan victim blaming, dan tahu ke mana harus mengarahkan (referral) si korban kalau masalahnya sudah berat dan butuh penanganan ahli.
5. Gempur Media Sosial dengan Kampanye Positif
Daripada sosmed cuma dipakai buat scrolling tanpa arah, yuk manfaatkan platform digital buat menyebarkan hal-hal berdampak! Kita bisa bikin konten kreatif tentang info hotline pengaduan, membagikan kisah inspiratif para penyintas (survivor) yang berhasil bangkit dan pulih, sampai menyebarkan quotes penyemangat yang bikin korban merasa gak sendirian di dunia ini (Harris & Woodlock, 2022).
Saatnya Kita Peduli dan Putus Rantai Kekerasan dalam Pacaran!
Pada akhirnya, kita harus membuka mata bahwa kekerasan dalam pacaran adalah ancaman nyata yang gak bisa disepelekan. Hubungan yang toxic bukan cuma meninggalkan memar di tubuh, tapi juga menyisakan luka psikologis mendalam seperti depresi berat, PTSD, hingga dampak paling fatal: munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup.
Ironisnya, mayoritas korban memilih menyendiri dan bungkam karena dihantui rasa malu, takut, serta stigma negatif dari lingkungan sosial. Padahal, luka mental akibat kekerasan psikologis itu sama destruktifnya dengan kekerasan fisik, bahkan butuh waktu yang jauh lebih lama untuk bisa benar-benar pulih (healing).
Oleh karena itu, ini saatnya kita bergerak bersama. Kita perlu gencar membangun “jembatan kepercayaan” lewat edukasi hubungan yang sehat sejak dini, memberikan dukungan sosial tanpa menghakimi, dan yang paling penting: menormalisasi bahwa pergi ke psikolog atau konselor adalah sebuah bentuk keberanian untuk menyelamatkan diri sendiri.
💡 Pesan Penting untuk Kita Semua: “Cinta itu seharusnya menjaga dan membuatmu merasa aman, bukan malah merusak mental dan menghancurkan masa depanmu. Kamu berharga, dan kamu berhak untuk bahagia serta mencari bantuan!”









