Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,M.Ag*
*penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al Ashr Al Madani, Jl. Raya Arcamanik 48 Bihbul – Sindanglaya Bandung)
KHUTBAH PERTAMA:
.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي آذَنَ الْمُؤْمِنِينَ لِيَهْجُرُوا مِنْ مَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ إِلَى الْمَدِينَةِ الْمُنَوَّرَةِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالرِّسَالَةِ الْمُنِيرَةِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُؤَيَّدِ بِالْمُعْجِزَاتِ الْبَاهِرَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْمَنَاقِبِ الْفَاخِرَةِ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم. بسم الله الرحمن الرحيم.
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
معاشر المسلمين رحمكم الله
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat usia hingga kita dapat memasuki bulan yang penuh kemuliaan ini, yakni bulan Muharram. Bulan yang menjadi awal tahun Hijriah, dan termasuk dari asyhurul hurum (bulan-bulan yang dimuliakan Allah).
Shalawat serta salam kita haturkan kepada suri teladan kita, Nabi besar Muhammad saw, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang istikamah di jalan Islam hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, sembari kita duduk istiqamah di masjid yang kita muliakan ini, marilah kita semua melakukan muhasabah (mengintropeksi) diri kita masing-masing, dan sekaligus melakukan refleksi kritis terhadap rekam jejak kehidupan kita, sehingga diharapkan mampu menghadirkan kesadaran baru, berupa langkah kongkrit untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-perintah-Nya dan menjauhi segenap larangan-larangan Allah. Pada kesempatan kali ini, khatib ingin mengangkat tema tentang “Syukur kita yang tidak boleh bebatas”, karena syjurbkita kepada Allah adalah salah satu cara kita membuktikan ketaatan kepada Allah SWT.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita merenungi salah satu amal mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam, terlebih lagi di bulan ini, yaitu peduli yatim dan dhu’afa.
Bulan Muharram bukan hanya menjadi momen pembuka tahun hijriah, tapi juga dikenal oleh para ulama sebagai bulan yang utama untuk berbuat kebaikan, salah satunya adalah memperhatikan nasib anak-anak yatim. Bahkan sebagian masyarakat kita mengenal tanggal 10 Muharram sebagai Hari Anak Yatim, meski istilah itu tidak disebut secara eksplisit dalam hadits, tetapi maknanya memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (bulan suci) yang disebut dalam Al-Qur’an:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS At-Taubah: 36).
Keempat bulan itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam bulan-bulan haram ini, pahala amal kebaikan dilipatgandakan, begitu pula dosa akan lebih besar timbangannya jika dilakukan.
Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم)
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).
Sebagaimana puasa di bulan ini sangat utama, maka amal-amal kebaikan lainnya seperti bersedekah, menyantuni fakir miskin, dan terutama anak yatim, juga sangat dianjurkan dan berpahala besar.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Dalil Anjuran Berbagi di Bulan Muharram
Anak yatim adalah anak yang telah kehilangan ayah sebelum ia baligh. Dalam Islam, mereka memiliki kedudukan yang sangat mulia dan diperintahkan untuk disantuni, diperhatikan, dan disayangi.
Allah swt berfirman:
وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا
Artinya: Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan (QS Al-Insan: 8).
Perintah menyantuni anak yatim bukan hanya sekadar membantu secara materi, tetapi juga memberikan kasih sayang, perhatian, dan penjagaan terhadap hak-haknya. Rasulullah saw sangat memperhatikan anak yatim karena beliau sendiri adalah seorang yatim.
Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
Artinya: Dari Sahl bin Sa’ad ra berkata, Rasulullah saw bersabda, saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini. Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya (HR Bukhari).
Subhanallah. Orang yang menyantuni anak yatim akan menjadi tetangga Rasulullah saw di surga. Menyantuni anak yatim bukan hanya amalan yang berpahala besar, tetapi juga menjadi sumber keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
معاشر المسلمين رحمكم الله
Selain itu, menyantuni anak yatim akan memberikan beberapa keberkahan dalam hidup kita.
Seperti keberkahan rezeki. Harta yang dikeluarkan untuk anak yatim akan diganti dan diberkahi oleh Allah. Keberkahan rumah tangga. Keluarga yang terbiasa menyayangi anak yatim akan dipenuhi ketenangan dan kasih sayang. Dan keberkahan hati. Menyantuni anak yatim dapat melembutkan hati yang keras.
Sebagaimana Rasulullah saw bersabda ketika ada seorang sahabat yang mengeluhkan kerasnya hati, maka diperintah untuk bersedekah kepada anak yatim. Dalam Kitab Majma’ Zawaid dijelaskan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ». رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَرِجَالُهُ رِجَالُ الصَّحِيحِ.
Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, sesungguhnya seseorang melaporkan kekerasan hatinya kepada Nabi Muhammad, lalu Nabi berpesan: Usaplah kepala yatim dan berilah makanan orang miskin (HR Ahmad, para perawinya sahih)
Dalam salah satu riwayat Thabrani dari Abu Darda’ memiliki pesan senada:
وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: «أَتَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلٌ يَشْكُو قَسْوَةَ قَلْبِهِ، قَالَ: ” أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرَكَ حَاجَتُكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ». رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَفِي إِسْنَادِهِ مَنْ لَمْ يُسَمَّ، وَبَقِيَّةُ: مُدَلِّسٌ
Artinya: Diriwayatkan dari Abi Darda’, ia berkata: Seorang laki-laki sowan Rasulullah mengeluhkan kekerasan hatinya, lalu Rasulullah berpesan: Apakah kamu ingin hatimu lembut dan hajatmu terkabul? Sayangilah yatim, usaplah kepalanya, berilah ia makan dari makananmu, maka hatimu akan lembut dan hajatmu akan terkabul (HR Thabrani, sanadnya ada yang tidak disebutkan dan sebagian mudallis).
معاشر المسلمين رحمكم الله
Di bulan Muharram ini, kita bersemangat menghidupkan kepedulian dan kasih sayang terhadap mereka. Dan menJadikan bulan ini bukan hanya sebagai permulaan tahun baru, tapi juga permulaan amal kebaikan yang berkrsinambungan.
Kita selalu Ingat, bahwa dalam setiap rezeki kita ada hak dhuafa dan anak yatim. Dalam setiap kebahagiaan kita, ada bagian untuk mereka. Kita tidak menbiarkan mereka menangis di saat kita tertawa.
Kita juga tidak mem biarkan mereka lapar di saat kita kenyang.
Allah swt berfirman:
فَاَمَّا الْيَتِيْمَ فَلَا تَقْهَرْۗ
Artinya: Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang (QS Adh-Dhuha: 9).
Sebaliknya, orang yang memakan harta anak yatim lebih-lebih secara zhalim mendapat ancaman keras:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًاۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًاࣖ ١٠
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (QS An-Nisa: 10).
معاشر المسلمين رحمكم الله
Tahun berganti, umur bertambah, dan jatah hidup berkurang. Maka mari kita isi awal tahun ini dengan amal-amal kebaikan, bukan hanya ritual pribadi seperti puasa, tetapi juga amal sosial, terutama menyantuni anak yatim.
Jika kita awali tahun ini dengan membantu sesama, terutama mereka yang paling lemah dan tak berdaya, maka insyaAllah Allah akan memberkahi seluruh perjalanan hidup kita sepanjang tahun.
Mari kita jadikan bulan Muharram sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap anak-anak yatim. Jadikan mereka bagian dari perhatian kita, doa kita, dan rezeki kita. Semoga Allah menjadikan kita sebagai golongan orang-orang yang dekat dengan Nabi di surga, karena kita menyayangi dan menyantuni anak yatim dengan ikhlas.
Semoga Allah menerima amal kebaikan kita, memperbaiki hati dan keluarga kita, serta memberi kita kekuatan untuk terus berbagi di jalan-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
KHUTBAH KEDUA:
اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰ لِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ











