BANDUNG, Kanal Berita – Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Institut Teknologi Bandung menjadi panggung bersejarah bagi 627 mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung pada Kamis, 15 Oktober 2026. Satu per satu mereka melangkah menuju panggung, mengenakan toga kebanggaan, menerima ijazah sebagai penanda resmi keberhasilan menempuh satu fase penting kehidupan. Prosesi wisuda UNISA Bandung Tahun 2026 ini bukan sekadar ritual akademis tahunan — ia adalah pernyataan kolektif bahwa ilmu yang telah dipelajari kini siap dibawa keluar dari ruang kuliah untuk dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tamu kehormatan yang mencerminkan kepercayaan luas terhadap UNISA Bandung sebagai institusi pendidikan tinggi yang diperhitungkan. Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dr. Apt. Salmah Orbaniyah, M.Kes., hadir secara langsung. Begitu pula Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Ahmad Najib Burhani, M.A., M.Sc., Ph.D. Gubernur Jawa Barat yang berhalangan hadir diwakili oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Barat, Andrie Kustria Wardana, S.STP., M.Si., CRBD.
Rektor: Kelulusan adalah Awal, Bukan Akhir
Dalam sambutannya yang penuh makna, Rektor UNISA Bandung, Prof. Dr. Sitti Syabariyah, S.Kp., MS.Biomed., menyampaikan pesan yang langsung menyentuh inti dari nilai sebuah pendidikan tinggi. Baginya, momen wisuda bukanlah garis finis dari sebuah perlombaan — melainkan garis awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar.
“Perguruan tinggi yang maju bukan hanya yang mampu menghasilkan pengetahuan, tetapi juga yang mampu menghadirkan kemaslahatan melalui pengetahuan tersebut.”
— Prof. Dr. Sitti Syabariyah, Rektor UNISA Bandung
Prof. Sitti juga menyampaikan harapan agar seluruh lulusan senantiasa menjaga nama baik almamater di mana pun mereka berkarya. Hubungan antara universitas dan mahasiswanya, tegasnya, tidak putus begitu prosesi wisuda usai. Para alumni adalah wajah UNISA Bandung yang sesungguhnya — wajah yang akan dinilai publik jauh lebih lama dan lebih luas daripada apa pun yang tertulis di dalam kampus.
Ia juga memaparkan arah pengembangan institusi menuju visi tahun 2045: menjadi universitas Islami yang terkemuka di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesehatan (IPTKES) pada tataran internasional. Visi itu dikejar melalui empat jalur sekaligus: pengembangan pendidikan berkualitas, penguatan nilai-nilai Islam, kontribusi nyata bagi masyarakat, serta perluasan jejaring dan kolaborasi internasional.
Capaian Institusi: Mahasiswa Bertambah, Prestasi Meningkat
Di balik prosesi wisuda yang khidmat, Prof. Sitti juga menyampaikan sejumlah capaian institusional yang menjadi bahan syukur sekaligus pemacu untuk terus berkembang. Jumlah mahasiswa UNISA Bandung tercatat meningkat dari 1.353 menjadi 1.395 mahasiswa, dengan 716 mahasiswa baru yang resmi bergabung pada Tahun Akademik 2026/2027. Tingkat kepatuhan pelaporan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mencapai 100 persen, dan universitas kini berada pada Klaster Utama dalam bidang penelitian.
Di bidang kemahasiswaan, para mahasiswa UNISA Bandung berhasil menorehkan 30 prestasi dalam satu tahun terakhir, yang terdiri dari 9 prestasi akademik dan 21 prestasi nonakademik, mencakup tingkat lokal, nasional, dan internasional. Angka ini mencerminkan ekosistem akademik yang tidak hanya fokus pada nilai di atas kertas, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk tumbuh dan berprestasi di luar ruang kelas.
UNISA Bandung juga terus memperluas akses pendidikan melalui berbagai skema beasiswa: 65 penerima KIP Kuliah, 20 penerima beasiswa BAZNAS, 19 penerima beasiswa Lazismu, dan 86 mahasiswa yang sedang dalam proses pengajuan beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Komitmen ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan halangan bagi generasi muda yang bersungguh-sungguh mengejar pendidikan.
Tujuh Wisudawan Terbaik: IPK Sempurna hingga Lintas Disiplin
Sebagai bentuk apresiasi atas capaian akademik terbaik, UNISA Bandung memberikan penghargaan kepada tujuh wisudawan terbaik dari berbagai program studi. Imron Najib Ali dari Sarjana Desain Komunikasi Visual meraih IPK 3,68. Firmansyah, S.Par., dari Sarjana Pariwisata mencapai IPK 3,88. Fanny Fatimah Azzahra, S.Bns., dari Sarjana Perdagangan Internasional meraih IPK 3,80. Shofia Asri Nur’aini, S.Keb., dari Sarjana Kebidanan mencapai IPK 3,81, sementara Hj. Tri Ervini, S.Keb., Bdn., dari Pendidikan Profesi Bidan meraih IPK 3,97.
Dari Program Studi Sarjana Keperawatan, nama Rima Melati, S.Kep., menonjol dengan IPK 3,87 — sebuah nama yang sudah akrab di lingkungan UNISA Bandung setelah sebelumnya meraih Juara 1 Lomba Essay Nasional. Dan puncak dari seluruh capaian itu diraih oleh Diet Noveldy, S.Kep., Ners., dari Pendidikan Profesi Ners yang berhasil menyelesaikan studinya dengan IPK sempurna 4,00 — sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh civitas akademika UNISA Bandung.[ ]
Wartawan Senior yang pernah bekerja di sejumlah media seperti Majalah Suara Hidayatullah dan Majalah Percikan Iman













