HeadlineKhutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Sya’ban Sebentar Lagi Hilang, Ramadhan Pasti Datang

×

Khutbah Jumat: Sya’ban Sebentar Lagi Hilang, Ramadhan Pasti Datang

Sebarkan artikel ini
Khutbah Jumat
foto: dok.pribadi

Oleh: KH.Drs.Abdurahman Rasna,MA*

Ulama
*penulis adalah mubligh, penulis serta pengasuh pesantren di Banten

 

Khutbah Pertama:

 

الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ الْعَظِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سيدنا مُحَمَّدًا أَفْضَلُ الْمُرْسَلِيْنَ، اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِي الْقَلْبِ الْحَلِيْمِ، وعلى آلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْمَمْدُوْحِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

وامابَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رحمكم الله، أُوْصِيْكم  وَإِيَّاي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُطِيْعُوْنَ.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Kita Memuji dan bersyukur untuk satu-satunya  pemilik hak mendpatkan pujian yaitu Allah SWT alhamdulillaahi Robbil ‘aalamin, atas segala limpahan karunia dan segala nikmat-Nya kepada kita.

 

Shalawat teriring salam untuk Junjunan Alam, panutan agung seluruh ummatnya, yakni Kanjeng Nabi Besar Muhammad saw, juga kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya serta ummatnya hingga akhir zaman.

 

Selaku khatib pada Jum’at kali ini, saya berwasiat sekaligus mengajak kita sekalian untuk tetap istiqamah dalam takwa kepada Allah SWT yaitu dengan konsisten melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi setiap yang dilarang-Nya, karena dengan .takwa akan memastikan kita keluar dari segala kesulitan, dimudahkan dalam segala urusan dan dianugerahi Rizqi melimpah dari arah yang kita tidak menyangka datangnya dari mana saja.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Bulan Ramadhan tinggal beberapa hari yang terhitung, sekitar sembilan belas hari  lagi kita akan menghadapi bulan yang mulia tersebut.

Ia adalah bulan yang sangat berkah, bulan yang disediakan Allah SWT sebagai  tempat orang-orang yang menginginkan akhirat dengan  berlomba-lomba. Pada  bulan itu sangat dianjurkan banyak beribadah kepada Allah SWT.

 

Di bulan itu Allah mudahkan orang-orang yang menginginkan surga untuk beramal shalih. Karena di bulan itu pintu-pintu surga dibuka, demikian pula pintu-pintu neraka ditutup dan stetan-syetan pun dibelenggu.  Maka sungguh merugi mereka yang melewati bulan Ramadhan dengan perkara yang sia-sia, lalu kemudian keluar dari bulan Ramadhan tidak mendapatkan ampunan Allah Ta’ala.

 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

 

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”  (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)

 

Rasulullah saw  mewanti-wanti jangan sampai  keburukan menimpa  bagi mereka yang keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan ia tidak mendapat ampunan Allah SWT.

 

Rasulullah Saw bersabda:

 

رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ خَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

 

“Semoga terhina orang yang masuk bulan Ramadhan, lalu ia keluar dalam keadaan tidak mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”  (HR. Al-Bazzar, Ahmad, Ibnu Khuzaimah)

 

Karena untuk mendapatkan ampunan di bulan itu sangatlah mudah, saudaraku. Puasa yang kita lakukan saat itu sudah cukup menggugurkan dosa-dosa, qiyamurramadhan atau shalat tarawih itu pun juga menggugurkan dosa-dosa. Maka amalan pada waktu itu dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT.

 

Maka tidak mungkin kita bisa melaksanakan puasa Ramadhan dengan baik apabila kita tidak memiliki kebiasaan tersebut. Kebiasaan untuk berbuat baik itu harus kita mulai dari sekarang. Karena untuk memulai sesuatu yang kita tidak biasa melakukannya amatlah sulit.

 

Oleh karena itulah Rasulullah saw memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Demikian pula Salafush Shalih, bahkan mereka di bulan Sya’ban memperbanyak membaca Al-Qur’an.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan bahwa bulan Sya’ban itu bagaikan muqaddimah untuk bulan Ramadhan. Maka disyariatkan di bulan Sya’ban seperti yang disyariatkan di bulan Ramadhan.

Maka siapa yang tidak memiliki kebiasaan, akan sulit untuk bisa menggunakan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

 

Kita beribadah kepada Allah SWT memerlukan kebeningan hati dan kebersihan jiwa kita. Apabila hati kita masih dikotori oleh syahwat, masih dikotori oleh hawa nafsu, ketika kita puasa pun seringkali puasa kita diselingi dengan hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

 

“Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali menahan lapar dan dahaga semata.” (HR. Ahmad)

 

Subhanallah.. Percuma, sia-sia puasa kita hanya karena kita kemudian tidak membersihkan hati kita, tidak berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

 

“Siapa yang tidak meninggalkan berkata dusta dan terus-menerus dia melakukannya, Allah tidak membutuhkan puasanya.” (HR. Bukhari)

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Oleh karena itulah, Di hari ini, di bulan ini, mari kita mulai membiasakan kebaikan itu. Membiasakan dengan puasa sunnah, membiasakan dengan membaca Al-Qur’anul Karim dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita.

Karena diantara kita terkadang ada yang waktunya habis dengan main game dan yang lainnya,  ada yang habis dengan berbagai macam media sosial.

 

Karena itu, Allah SWT hadirkan bulan sya’ban dan kita dipertemukan dengan bulan sya’ban ini, sebaiknya kita kurangi sedikit demi sedikit kebiasaan yang tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan kita.

Sekarang  kita mesti  lebih banyak memanfaatkan  waktu kita untuk hal-hal positif, kita dawamkan membaca  kalam-kalam Allah.

Karena yang Allah inginkan dari puasa Ramadhan:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

“Agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183).

 

Kita tidak ingin ketika setelah selesai Ramadhan ternyata kita tidak meraih predikat takwa.

 

معاشر المسلمين رحمكم الله

 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ketika menghadapi musim-musim ketaatan, ia akan gembira. Karena sesungguhnya bulan Ramadhan adalah musim ketaatan. Pada bulan ramadhan  Allah perintahkan kita untuk berpuasa, kita dianjurkan untuk qiyamul lail (shalat tarawih),  kita diperintahkan untuk banyak bersedekah, kita diperintahkan untuk meninggalkan perkara yang sia-sia.

 

Rasulullah Saw  bersabda:

 

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

 

“Bukanlah hakikat puasa itu menahan dari makan dan minum saja. Akan tetapi hakikat puasa meninggalkan perkara yang sia-sia dan ucapan yang tidak baik.”  (HR. Ibnu Khuzaimah).

 

Dengan datangnya bulan ramadhan, Orang beriman yang menginginkan akhirat dan surga, hatinya gembira. Karena selain kebahagian dan ridho serta surga yang Allah janjikan, bagi orang yang beriman dan bergembira datangnya ramadhan, Allah mengharamkan neraka.

 

Sebagaimana sabda Nabi Saw :

 

من فرح بدخول شهر رمضان حرم الله جسده على النيران

 

“Barangsiapa bergembira dengan datangnya bulan ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dilalap api neraka”

 

Mohon ma’af jama’ah rahimakumullah.

Memang dalam  al-maktabah al-syamilah saya tidak menemukan hadits ini dalam kitab-kitab hadits manapun.

Dari segi matan juga bias di lihat bahwa hadits ini termasuk hadits maudhu’ karena adanya imbalan pahala yang luar biasa (yaitu diharamkan dari api neraka) untuk amalan yang sangat ringan (hanya senang dengan datangnya Ramadhan).

Dalam istilah ilmu hadits dikenal istilah

 

يعرف له أصل

 

( yu’rafu lahu ashlun)

atau

 

لا أصل له

 

(la ashla lahu/tidak diketahui sumber asalnya) dan hadits ini termasuk ke dalam kategori ini.

 

Tetapi ungkapan :

 

من فرح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران

 

Itu sebagai support/memberikan semangat kepada ummat betapa penting dan mulianya bulanbrandhan, sehingga dengan senangnya saja akan tibanya bulan ramadhan, bulan ampunan, bulan Rahmah, bulan berkah, bulan fitrah/suci, bulan Al Qur’an, sangat wajar Allah mengharamkan neraka kepada mereka, apalagi jika Amaliah ramadhan mulai dari niatnya shaumnya, makan sahurnya, ifthar/buka shaumnya, qiyamullail atau tarawihnya, tadarusnya banyak sedekahnya, zakat fitrahnya dan lain-lain amal shaleh yang dilakukan pada bulan ramadhan, sudah pasti ampunan Allah diberikan, neraka diharamkan, surga untuk tempat kembali sudah disiapkan.

 

Bagaimana seorang mukmin tidak bahagia dengan akan tibanya bulan Ramdhan. Bahkan para  Salafush Shalih ketika datang Ramadhan, mereka punya kebiasaa  menyambut dengan gembira, mereka saling memberikan selamat kepada satu sama lainnya.

 

اهلا وسهلا ومرحبا يا رمضان

 

Sementara kita, karena hati kita dipenuhi syahwat, dipenuhi dengan kehidupan dunia dan cinta dunia, dengan datangnya bulan Ramadhan،  masih ada  di antara kita yang dahinya mengkerut, hatinya merasa berat. Karena ia tidak biasa dengan ketaatan kepada Allah SWT.

 

نعوذ بالله من ذالك

 

(Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu).

 

نساءل الله السلامة والعافية

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته أنه هو السميع العليم.

 

Khutbah Kedua:

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ.

أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ ومن تبع هداه الى يوم الزحام.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Example 300x600