KANALBERITA.COM – Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 39.672 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi di Indonesia dengan 105 korban meninggal dunia hingga Mei 2026. Pemerintah kini memperkuat strategi deteksi dini dan pengendalian terpadu untuk mencapai target nasional nol kematian akibat penyakit tersebut pada tahun 2030.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menyatakan bahwa Indonesia saat ini menempati posisi sebagai negara dengan beban kasus dengue terbesar kedua di dunia. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai penyumbang kasus dengue tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan data kementerian, Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia selama tahun 2026, dengan angka melampaui 9.000 kasus dan 36 kematian. Data global menunjukkan bahwa meski Indonesia menyumbang sekitar tiga persen dari total kasus dengue dunia, kontribusi kematian akibat penyakit ini mencapai 17 persen dari angka kematian global.
“Indonesia kita lihat di sini adalah negara dengan kasus dengue nomor dua terbesar di dunia dan kalau kita lihat di regional Asia Tenggara, maka kita yang paling besar,” ujar Prima Yosephine saat memberikan keterangan pers di Jakarta, Selasa, 16 Juni 2026.
Strategi Pengendalian Dengue Nasional
Dalam Rencana Aksi Nasional Pengendalian Demam Dengue 2026-2029, Kemenkes menerapkan empat strategi utama yang mencakup penguatan deteksi dini, perbaikan tata laksana pasien, pencegahan, serta sistem surveilans dan respons cepat. Program ini juga didukung oleh pembiayaan yang terukur, riset inovatif, serta kemitraan lintas sektor.
Pemerintah menargetkan penurunan kasus sebesar 25 persen pada 2030 dibandingkan dengan data dasar tahun 2021. Upaya ini dilakukan agar angka kematian akibat DBD dapat ditekan hingga mencapai titik nol atau zero death pada tahun yang sama.
“Outcome yang kita harapkan adalah kita bisa mencapai nanti zero death di tahun 2030, kemudian kita akan bisa menekan atau menurunkan kasus dengue 25 persen di tahun 2030 dibandingkan keadaan tahun 2021,” kata Prima Yosephine, Selasa, 16 Juni 2026.








