HeadlinePendidikan

Kemdiktisaintek Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

×

Kemdiktisaintek Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

KANALBERITA.COM-  Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) berencana mengevaluasi dan menutup program studi yang tidak lagi sejalan dengan kebutuhan industri dan geliat ekonomi masa depan. Langkah ini diambil untuk mengatasi ketidaksesuaian antara lulusan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, menyampaikan rencana ini saat Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Universitas Udayana, Bali. Ia menyoroti masalah besar yang dihadapi Indonesia terkait bonus demografi dan kesenjangan antara sistem pendidikan, pendidikan tinggi, dengan sektor industri. Hal ini menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan lulusan (oversupply) sekaligus ketidakcocokan kualifikasi (missmatch) saat memasuki dunia kerja.

Setiap tahun, Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta generasi muda dari jenjang sekolah, dengan 1,7 juta di antaranya adalah lulusan sarjana dan diploma. Namun, banyak dari mereka kesulitan mencari pekerjaan karena latar belakang pendidikan yang tidak sesuai dengan peluang kerja yang tersedia.

“Nanti mungkin ada beberapa hal yang harus kami eksekusi dalam waktu yang tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” ujar Badri, seperti dikutip dari siaran ulang YouTube Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.

Fokus pada Delapan Industri Strategis

Badri Munir Sukoco menekankan pentingnya bonus demografi diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan adaptif terhadap pertumbuhan ekonomi. Pendidikan tinggi diharapkan mampu menyiapkan generasi muda yang kompeten untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara maju. Hal ini memerlukan penyesuaian program studi agar relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.

“Kalau bahasa kami saat ini perguruan tinggi yang ada di Indonesia sebagian besar ya itu menggunakan market driven strategi. Market driven itu apa? yang lagi laris apa dibuka gitu prodinya,” jelas Badri.

Pemerintah telah mengidentifikasi delapan industri strategis yang diproyeksikan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Industri-industri tersebut meliputi energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju. Kemendiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan program studi baru yang selaras dengan delapan sektor prioritas ini.

“Program studinya perlu dikembangkan untuk prodi-prodi baru yang sesuai dengan delapan industri strategis tadi. Nah, tentu perlu ada kerelaan dari masing-masing rektor untuk melakukan kajian itu disesuaikan agar prodinya itu memang relevan,” tambah Badri.

Example 300x600