CIMENYAN BANDUNG, Kanal Berita – – Di era ketika dakwah tidak lagi terbatas pada ceramah di atas mimbar, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, mengambil langkah yang sangat relevan dengan zaman. Pada Sabtu, 19 September 2026, Masjid Besar Al-Ukhuwah Cimenyan dipenuhi semangat 80 pemuda muslim yang hadir mengikuti Training Konten Dakwah Digital bertema “Pemuda Muslim Go Digital: Berkarya, Berdaya, Berdakwah di Era Digital.” Kegiatan ini hadir sebagai respons atas kenyataan bahwa generasi muda hari ini lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial — dan pertanyaan besarnya adalah: apakah mereka hadir sebagai konsumen saja, atau sudah siap menjadi kreator yang memberi manfaat?
MUI Cimenyan: Dakwah Era Digital Harus Dekat dan Aktual
Ketua MUI Kecamatan Cimenyan, KH Wawan Kurniawan, S.H.I, M.H.I, membuka acara dengan menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme para pemuda yang hadir. Baginya, kehadiran 80 peserta muda adalah sinyal bahwa generasi penerus dakwah di Kecamatan Cimenyan memiliki potensi besar yang tinggal menunggu untuk diarahkan.
KH Wawan menegaskan bahwa ruang dakwah di era ini sudah jauh berubah. Dakwah tidak lagi terkurung dalam batas tembok masjid atau forum-forum pengajian. Ia mengalir bebas melalui layar-layar gawai, menembus batas geografis, dan bisa menjangkau siapa saja, kapan saja.
“Harapan kita dengan pelatihan ini tentu anak-anak muda ini khususnya yang ada di Kecamatan Cimenyan ini bisa mengambil peran dan memanfaatkan media sosial sebaik-baiknya, apakah itu untuk kegiatan dakwah ataupun untuk kegiatan usaha.”
— KH Wawan Kurniawan, Ketua MUI Kec. Cimenyan
Tidak berhenti di training hari ini, KH Wawan mengungkapkan bahwa MUI Cimenyan telah menyusun agenda program lanjutan yang lebih komprehensif bagi remaja dan pemuda. Program tersebut akan melibatkan kolaborasi lintas sektor — mulai dari KUA, Polsek, Puskesmas, hingga para pelaku usaha — dengan pendekatan yang akrab dengan gaya hidup anak muda: ngaji, makan, dan ulin (bermain).
“Kita sudah merencanakan nanti akan ada kemping. Kemudian setelah itu kita sudah menawarkan juga dari mereka, bagi mereka yang senang olahraga, ada yang futsal, badminton, pingpong dan lain sebagainya. Kita tawarkan ini, kita kelompokkan nanti supaya mereka punya kegiatan dan punya jadwal masing-masing. Intinya pemuda ini kita ajak untuk aktif, kreatif dan positif.”
— KH Wawan Kurniawan
DKM Al-Ukhuwah: Ruangan Khusus, Koperasi, dan Mimpi Besar untuk Pemuda
Dukungan tidak hanya datang dari MUI. Pengurus DKM Masjid Besar Al-Ukhuwah Cimenyan yang diwakili H. Sutanto Triyuwono, S.T., menyambut kegiatan ini sebagai perwujudan dari cita-cita yang sudah lama diimpikan: menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan pemuda yang produktif dan terorganisir.
“Kami tentu sangat mendukung program seperti pembinaan remaja dan pemuda muslim termasuk kegiatan hari ini. Sudah lama DKM Masjid Besar Cimenyan menginginkan adanya kegiatan pemuda di masjid ini.”
— H. Sutanto Triyuwono, Perwakilan DKM Masjid Besar Al-Ukhuwah
H.Tri — demikian ia akrab disapa — membuka gambaran tentang rencana besar yang disiapkan DKM untuk mendukung ekosistem pemuda di Kecamatan Cimenyan. Langkah pertama yang sudah dalam pipeline adalah penyediaan ruang sekretariat khusus bagi pemuda di kompleks Masjid Besar Al-Ukhuwah, agar mereka memiliki base camp yang permanen untuk berorganisasi dan berkegiatan.
“Tunjukkan dulu cara dan aktif berorganisasi. Kalau memang sudah solid, aktif, sudah berorganisasi kerjasamanya sudah bagus, akan kita siapkan ruangan sehingga setiap kali ada kegiatan mereka rapat berkegiatan punya base camp di masjid ini.”
— H. Sutanto Triyuwono
H.Tri kemudian membuka visi yang lebih jauh: potensi ekonomi yang bisa digarap oleh pemuda di lokasi masjid yang sangat strategis. Terletak di jalur utama yang ramai dengan panorama Kota Bandung dari ketinggian — terutama di malam hari — lokasi ini dinilai memiliki daya tarik yang nyata sebagai destinasi kuliner atau kafe.
“Kita punya tempat dan lokasi strategis, jalan depan itu sangat ramai itu potensi market atau customer. Kemudian di sini view-nya menarik langsung dapat melihat Kota Bandung dari ketinggian, apalagi malam hari. Ini tentu bisa menjadi potensi sekaligus peluang jika digarap dengan serius.”
— H. Sutanto Triyuwono
Lebih jauh, H. Tri mengungkapkan rencana kolaborasi antara DKM Al-Ukhuwah dan MUI Cimenyan dalam program pemberdayaan dan pengembangan UMKM. Di sini, keterampilan digital yang dipelajari para pemuda hari ini akan menemukan muaranya yang paling konkret: membantu para pelaku UMKM di sekitar Cimenyan memperluas jangkauan pemasaran mereka melalui media sosial.
“Kita akan bekerjasama di situ nanti. Sebenarnya ini salah satu sentuhan dari MUI juga ke generasi muda, biar mereka bisa terkelola dan terberdayakan dan dibina.”
— H. Sutanto Triyuwono
Harapan besar H. Tri adalah terbentuknya jaringan pemuda yang kokoh lintas desa dan kelurahan. Kecamatan Cimenyan yang terdiri dari 2 kelurahan dan 7 desa diharapkan memiliki perwakilan pemuda aktif di setiap wilayah, dengan Masjid Besar Al-Ukhuwah sebagai pusatnya.
Panitia: Ubah Pemuda dari Konsumen Menjadi Kreator Digital
Ustadz Nuyadin Hanif selaku ketua panitia menjelaskan lebih dalam tentang filosofi yang melatarbelakangi tema “Pemuda Muslim Go Digital”. Ia menyoroti realita yang sudah lama menggelisahkan banyak pihak: mayoritas pemuda hari ini adalah konsumen pasif di media sosial, menyerap konten tanpa pernah berpikir untuk menciptakannya.
“Jadi kalau selama ini anak muda ini menghabiskan dunia medsos itu hanya untuk menggunakan sebagai konsumer saja di digital. Tapi sebenarnya dari situ kan dibalik itu bisa memanfaatkan untuk hal yang lebih bermanfaat, selain menerima ilmu, bisa berdakwah.”
— Ustadz Nuyadin Hanif, Ketua Panitia
Training ini dirancang untuk membalik arus tersebut. Peserta tidak sekadar dibekali teori, tetapi langsung ditantang untuk mempraktikkan pembuatan konten yang bernilai — konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu menjual gagasan dan nilai-nilai positif.
“Yang jelas tujuannya ini adalah membuka wawasan mereka di dunia penuh teknologi saat ini supaya optimal memanfaatkan media ini untuk hal-hal yang positif termasuk untuk berdakwah di era digital dengan konten-konten yang bermanfaat.”
— Ustadz Nuyadin Hanif
Enam Materi: dari Digital Mindset hingga Tantangan Konten Langsung
Kurikulum training dirancang secara komprehensif dengan enam modul utama: Digital Mindset, Personal Branding, Content Creation, Digital Marketing, AI untuk Pemuda, serta sesi Praktik dan Digital Challenge. Dua trainer berpengalaman di bidangnya — Kang Faisal Fahri dan Kang Herman — memandu seluruh proses pembelajaran.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Khadamul Masjid Indonesia dan Masjid Makan-Makan sebagai pihak yang turut menyokong terselenggaranya program. Respons peserta pun terbilang sangat positif. Salah satu peserta, Luthfi, mengaku mendapatkan banyak manfaat yang langsung membuka wawasan barunya tentang dunia dakwah digital.
Training Konten Dakwah Digital ini menandai babak baru dalam cara MUI Cimenyan mendekati generasi muda. Bukan dengan pendekatan yang kaku dan formal, melainkan dengan bahasa yang relevan, medium yang akrab, dan visi yang jelas: bahwa setiap jempol yang mengetuk layar gawai bisa menjadi instrumen dakwah — jika yang memegangnya adalah pemuda yang punya arah, nilai, dan keterampilan yang tepat.[ ]
Wartawan Senior yang pernah bekerja di sejumlah media seperti Majalah Suara Hidayatullah dan Majalah Percikan Iman












