KANALBERITA.COM – Penelitian terbaru dari Washington University School of Medicine mengungkapkan bahwa percepatan penuaan biologis pada generasi muda berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko kanker sebelum usia 55 tahun. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine ini menyoroti adanya kesenjangan antara usia kronologis dan kondisi biologis tubuh manusia di masa sekarang.
Secara umum, kanker merupakan penyakit yang berkaitan erat dengan bertambahnya usia. Namun, tren terkini menunjukkan bahwa diagnosis kanker pada orang dewasa muda kian meningkat, sehingga memicu para ilmuwan untuk meneliti apakah tubuh generasi muda mengalami kerusakan biologis lebih cepat daripada generasi sebelumnya.
Dalam studi ini, tim peneliti menganalisis data dari 154.000 peserta di UK Biobank serta 10.000 peserta dari program All of Us di Amerika Serikat. Hasil analisis menunjukkan bahwa individu dari generasi yang lebih baru cenderung memiliki profil biologis yang lebih tua dibandingkan usia kronologis mereka yang sebenarnya.
Para peneliti menemukan bahwa semakin besar kesenjangan antara usia biologis dan kronologis, maka risiko terkena kanker di usia dini akan semakin tinggi. Kondisi ini terutama terlihat pada pola kanker paru-paru, saluran pencernaan, rahim, serta kanker kolorektal.
Kaitan Penuaan dan Risiko Penyakit
Metode yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan penilaian penuaan sistemik dan penuaan spesifik pada organ tubuh. Penuaan sistemik diukur berdasarkan biomarker biokimia darah, sementara penuaan organ spesifik dianalisis melalui data proteomik darah yang mencerminkan kesehatan sistem tubuh individu.
Hasil observasi menunjukkan bahwa penuaan sistemik yang lebih cepat pada kelompok usia muda dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker padat sebesar 8 persen. Lebih lanjut, individu dengan tingkat penuaan sistemik paling ekstrem memiliki risiko 15 persen lebih tinggi terkena kanker di usia dini dibandingkan dengan mereka yang menunjukkan tanda penuaan paling lambat.
Yin Cao, seorang ahli epidemiologi molekuler sekaligus profesor bedah dan kedokteran di WashU Medicine, menyatakan bahwa tujuan akhir dari penelitian ini adalah memetakan bagaimana lingkungan modern tertanam secara biologis dan memicu risiko kanker guna mengembangkan strategi pencegahan yang dipersonalisasi, sebagaimana disampaikan pada 14 September 2026.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu dokter dalam mengidentifikasi individu berisiko tinggi sejak dini. Dengan memahami kaitan antara penuaan biologis dan risiko kanker, tenaga medis dapat merancang tindakan pencegahan atau skrining yang lebih tepat sasaran bagi setiap individu.
Wartawan yang saat ini terus menimba Ilmu










