KANALBERITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengunggah tampilan uang kertas pecahan US$100 terbaru yang menyertakan tanda tangannya di platform media sosial Truth Social pada Jumat (3/7). Langkah ini menjadi momen pertama dalam sejarah di mana tanda tangan seorang presiden yang sedang menjabat tercantum pada mata uang kertas Amerika Serikat.
Unggahan tersebut memperlihatkan desain uang kertas yang menampilkan tanda tangan Trump bersanding dengan tanda tangan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent. Kebijakan ini merupakan perubahan signifikan, mengingat selama ini uang kertas dolar AS hanya memuat tanda tangan Menteri Keuangan serta Bendahara Negara tanpa melibatkan tanda tangan presiden.
Kementerian Keuangan AS menyatakan bahwa penerbitan mata uang dengan tanda tangan presiden ini direncanakan bertepatan dengan momentum perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat atau Semiquincentennial. Pihak otoritas keuangan setempat menyebut inisiatif ini sebagai bentuk pengakuan atas rekam jejak ekonomi yang dicapai selama masa pemerintahan Trump.
Terkait keputusan tersebut, Menteri Keuangan Scott Bessent memberikan pernyataan resmi mengenai alasan di balik penerbitan uang kertas edisi khusus ini. “Tidak ada cara yang lebih kuat untuk mengakui pencapaian bersejarah negara besar kita dan Presiden Donald J. Trump selain uang dolar AS yang bertuliskan tanda tangannya, dan sudah sepantasnya mata uang bersejarah ini diterbitkan bertepatan dengan Semiquincentennial,” ujar Bessent, Sabtu (4/7).
Rencana Penerbitan Uang Edisi Khusus
Selain pecahan US$100, saat ini terdapat usulan Rancangan Undang-Undang (RUU) di Kongres AS yang bertujuan menerbitkan uang kertas peringatan senilai US$250 dengan potret wajah Donald Trump. Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan regulasi karena aturan hukum saat ini menetapkan bahwa hanya individu yang telah meninggal dunia yang boleh diabadikan dalam potret mata uang AS.
Pihak Bureau of Engraving and Printing dilaporkan telah menyiapkan purwarupa uang senilai US$250 tersebut sebagai bentuk antisipasi. Meski begitu, peluang pengesahan RUU ini dinilai tipis karena membutuhkan dukungan luas dari pihak oposisi di Senat, mengingat adanya batasan hukum yang ketat terkait penggunaan wajah tokoh yang masih hidup pada instrumen keuangan negara.








