HeadlinePendidikan

Di Stadium General ADI Kota Bogor, KH Roinul Balad Hidupkan Semangat Resolusi Jihad: Da’i Masa Kini Harus Punya Semangat dan Keberanian Ulama 1945

×

Di Stadium General ADI Kota Bogor, KH Roinul Balad Hidupkan Semangat Resolusi Jihad: Da’i Masa Kini Harus Punya Semangat dan Keberanian Ulama 1945

Sebarkan artikel ini
Stadium general
Ketua Dewan Da'wah Jawa Barat,KH M.Roinul Balad saat memberikan sambutan ( foto: istimewa)

BOGOR, Kanal Berita – –  Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Kota Bogor  menggelar acara Stadium General yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober di Pondok Pesantren Riyadhul Huda, Citapen, Kabupaten Bogor, Sabtu (24/10/2026).

Acara yang mengusung tema “Urgensi Peningkatan Kompetensi Dai”, kegiatan tersebut dihadiri ratusan peserta serta sejumlah tokoh, di antaranya mantan Menteri Kehutanan MS Kaban, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) KH. Fathurrahman Mahfudz , Ketua DDII Jawa Barat Ustaz Roinul Balad, Ketua DDII Kota Bogor Ustaz Abdul Halim, dan Pimpinan Pondok Pesantren Riyadhul Huda KH Badru Kamal Makmun.

Dalam sambutannya Ketua Umum Dewan Da’wah, KH. Fathurrahman Mahfudz, menyampaikan bahwa dai masa kini harus mampu merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Ketika umat menghadapi kesulitan ekonomi, misalnya, dai tidak cukup hanya memberikan nasihat, tetapi juga perlu berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi.

Menurutnya, seorang pendakwah dapat mengambil peran sebagai pengusaha di berbagai bidang untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat. Dengan demikian, dakwah dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan.

“Dai harus mampu menghadapi tantangan zaman, dai yang mampu merespons segala persoalan,” –  KH. Fathurrahman Mahfudz .Ketua Umum Dewan Da’wah,

KH. Fathurrahman Mahfudz juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi digital, terutama bagi generasi muda. Dai dari kalangan Generasi Z, menurutnya, perlu memiliki kemampuan menjadi influencer yang memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan Islam.

Resolusi Jihad: Bukan Sekadar Peristiwa, Tapi Pelajaran Keberanian

Sementara itu Ketua Dewan Da’wah Jawa Barat, KH Roinul Balad  membuka paparannya dengan membawa para mahasiswa kembali ke momen bersejarah tanggal 22 Oktober 1945. Dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, negeri yang baru saja lahir itu menghadapi ancaman nyata: pasukan Sekutu yang datang bersama Belanda bergerak memasuki wilayah Indonesia, mengancam kedaulatan yang baru saja diraih dengan darah dan pengorbanan.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Santri Mencintai dan Mengabdi Kepada Negeri  

Di tengah situasi genting itulah, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan para ulama dari berbagai pelosok negeri. Hasil pertemuan itu adalah sebuah fatwa yang kemudian dikenal dengan nama Resolusi Jihad — sebuah keputusan yang menyatakan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah adalah kewajiban agama yang hukumnya fardu ’ain bagi setiap Muslim dalam jarak radius 94 kilometer dari titik ancaman.

“Resolusi Jihad adalah bukti nyata bahwa ulama sejati tidak hanya berbicara di mimbar. Mereka hadir di tengah realita, membaca tantangan zaman, dan berani mengambil posisi yang tegas demi kemaslahatan umat dan bangsa. Inilah yang harus menjadi cermin bagi setiap da’i hari ini.” — KH Roinul Balad, Ketua Dewan Da’wah Jawa Barat

Fatwa itu membangkitkan gelombang perlawanan yang luar biasa. Para santri, pemuda, dan rakyat jelata mengangkat senjata dengan penuh keyakinan. Puncaknya adalah pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang melegenda — sebuah pertempuran yang dipandang sebagai salah satu perlawanan bersenjata paling heroik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, dan yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.

Da’i Masa Kini: Pewaris Semangat, Bukan Sekadar Penerus Nama

Namun KH Roin tidak ingin momen ini hanya menjadi peringatan sejarah yang berhenti di masa lalu. Ia menarik benang merah antara keberanian ulama 1945 dengan tantangan yang dihadapi para da’i di era sekarang. Menurutnya, medan dakwah hari ini memang berbeda wajahnya — ancamannya bukan lagi tentara asing yang datang dengan meriam dan senapan — tetapi tidak kalah seriusnya.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Jihad Santri Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Dunia

“Para da’i hari ini menghadapi perang yang berbeda bentuknya, tetapi tidak kalah berbahayanya. Ada perang pemikiran yang berusaha merusak akidah umat dari dalam. Ada perang kebudayaan yang perlahan menggeser nilai-nilai Islam dari kehidupan sehari-hari. Ada perang ekonomi yang membuat umat terus berada dalam posisi lemah dan bergantung. Dan ada perang politik yang berusaha meminggirkan suara Islam dari panggung pengambilan keputusan. Da’i yang tidak memahami ini tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang tepat kepada umatnya.” — KH Roinul Balad

KH Roin menegaskan bahwa menjadi da’i di era ini bukan sekadar mahir berceramah dan fasih mengutip hadis. Seorang da’i sejati harus melek realita sosial, peka terhadap persoalan umat, dan berani mengambil posisi yang jelas ketika kebenaran diinjak-injak dan kezaliman merajalela. Keberanian KH Hasyim Asy’ari dan para ulama 1945 dalam mengeluarkan Resolusi Jihad — sebuah keputusan yang taruhannya adalah nyawa — adalah standar yang harus menginspirasi setiap da’i dalam menjalankan tugasnya.

Stadiumm General
Foto: Dok.Istimewa

ADI Bogor: Mencetak Da’i yang Ilmunya Kuat dan Nyalinya Besar

Dalam bagian akhir Stadium General, KH Roin menyampaikan harapan langsungnya kepada para mahasiswa ADI Kota Bogor yang hadir. Mereka, kata KH Roin, adalah generasi yang mewarisi estafet panjang dari para ulama pejuang. Ilmu yang mereka pelajari di ADI bukan sekadar untuk kebutuhan pribadi — ia adalah bekal untuk memikul amanah dakwah yang melampaui diri sendiri.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Santri Mencintai dan Mengabdi Kepada Negeri  

“Jadilah da’i yang ilmunya kuat dan nyalinya besar. Karena dakwah sejati membutuhkan keduanya sekaligus. Ilmu tanpa keberanian hanya akan melahirkan ulama yang bisu ketika kebenaran diperlukan. Dan keberanian tanpa ilmu hanya akan melahirkan orang yang bising tanpa arah. Kalian butuh keduanya.” — KH Roinul Balad

KH Roin juga mengingatkan bahwa Hari Santri Nasional bukan sekadar perayaan identitas. Ia adalah pengingat bahwa tanggung jawab para santri dan da’i hari ini jauh lebih besar dari sekadar menjaga tradisi — melainkan meneruskan dan memperbarui kontribusi Islam bagi keselamatan bangsa dan kemanfaatan umat.

Stadium General sebagai Ruang Tempaan Perspektif

Ketua ADI Kota Bogor, Ustaz Khalim, menyampaikan apresiasi atas kesediaan KH Roinul Balad untuk hadir dan berbagi dalam forum yang telah menjadi agenda rutin ini. Menurutnya, pemilihan narasumber yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan tetapi juga rekam jejak nyata dalam gerakan dakwah adalah kunci dari efektivitas Stadium General sebagai ruang pembentukan karakter dan perspektif bagi para calon da’i.

Stadium General ADI Kota Bogor hari ini menjadi bukti bahwa pendidikan kader da’i yang baik tidak bisa hanya bersandar pada buku teks dan ujian. Ia membutuhkan sentuhan dari mereka yang telah merasakan langsung panasnya medan dakwah, memahami liku-liku tantangannya, dan masih berdiri tegak dengan semangat yang tidak padam. Semangat yang, hari ini, kembali dikobarkan oleh kilatan cerita Resolusi Jihad dari 81 tahun yang lalu. [ ]

 

Saat ini Dewan Da’wah Jawa Barat sedang membangun masjid yang Alhamdulillah saat ini progres pembangunan sudah mencapai di 71 % . Bagi bapak/ibu dan pembaca yang ingin berpartisipasi dapat menghubungi layanan di bawah ini:

Membangun Masjid

Example 300x600